Mengenal Bahaya Takabur dan Cara Menghindari Penyakit Hati

Mengenal Bahaya Takabur dan Cara Menghindari Penyakit Hati

Hati merupakan motor penggerak bagi seluruh anggota tubuh manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Kualitas perbuatan seseorang sangat bergantung pada kondisi batinnya, sebagaimana ditegaskan dalam kutipan dari media Cahaya bahwa kebaikan anggota badan adalah cerminan dari hati yang bersih.

Sifat takabur atau kesombongan menjadi salah satu penyakit hati yang paling berbahaya dan dilarang keras, seperti yang tercantum dalam surat Al-Isra’ ayat 37. Perilaku ini sering kali muncul melalui gaya berjalan yang angkuh seolah ingin menembus bumi atau menyamai ketinggian gunung.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُوْلَى وَالْآخِرَةِ، أَحْمَدُهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، هَدَى بِإِذْنِ رَبِّهِ الْقُلُوْبَ الْحَائِرَةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ نُجُوْمِ الدُّجَى وَالْبُدُوْرِ السَّافِرَةِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ (وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولٗا. وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولٗا. كُلُّ ذَٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهُۥ عِندَ رَبِّكَ مَكۡرُوهٗا)

Secara mendalam, Nabi SAW memberikan batasan mengenai makna sombong yang sesungguhnya. Definisi tersebut tertuang dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

الكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

"Takabur adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain." (HR Muslim)

Jenis pertama dari sifat ini adalah penolakan terhadap kebenaran karena merasa pemberi nasihat memiliki status sosial atau usia yang lebih rendah. Sejarah mencatat kehancuran tokoh-tokoh besar seperti Fir’aun, Haman, hingga Abu Lahab diakibatkan oleh keengganan mereka mengakui kebenaran karena gengsi dan takabur.

Jenis kedua berkaitan dengan perasaan merasa lebih istimewa dibandingkan orang lain secara berlebihan. Orang tersebut memandang dirinya penuh kesempurnaan, baik dari segi harta, rupa, maupun kedudukan, sehingga memandang rendah sesama hamba Allah tanpa menyadari bahwa semua itu adalah titipan semata.

Potensi Kesombongan di Berbagai Lingkungan

Sifat merendahkan orang lain ternyata tidak hanya menghinggapi penguasa atau orang kaya. Kesombongan yang halus sering muncul dalam interaksi harian yang terkadang tidak disadari oleh pelakunya.

Seorang suami bisa saja menganggap remeh pandangan istrinya, atau seorang ayah yang merasa jauh lebih berpengalaman sehingga menyepelekan pendapat anaknya. Begitu pula di lingkungan pendidikan, seorang guru berisiko merendahkan muridnya dalam hati karena merasa memiliki ilmu yang lebih tinggi.

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُور

"Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)

Melawan Virus Takabur dengan Introspeksi

Upaya membersihkan diri dari virus takabur memerlukan pengawasan hati yang ketat secara terus-menerus. Mengingat nasib Qarun yang ditelan bumi bersama hartanya atau Fir'aun yang binasa di lautan menjadi pengingat bahwa kekuasaan dan kekayaan tidak bersifat abadi.

Bahkan kekuatan fisik pun sangat rapuh, di mana sakit gigi sederhana sudah cukup untuk membuat manusia tidak berdaya. Ilmu yang dikuasai juga bukan murni hasil pribadi, melainkan anugerah Allah serta buah dari kerja keras para ulama terdahulu.

Sikap tawadhu atau rendah hati merupakan obat utama sekaligus ibadah yang sangat mulia. Dalam kitab Al-Amali al-Muthlaqah, Ibnu Hajar al-Asqolani mengutip sebuah riwayat yang menekankan pentingnya sikap ini.

إِنَّكُمْ لَتَغْفُلُوْنَ عَنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَةِ التَّوَاضُع

"Sungguh kalian telah melalaikan salah satu bentuk ibadah yang paling utama, yaitu tawadhu’ (bersikap rendah hati)."

Penerapan sikap rendah hati di tengah masyarakat diyakini mampu menghapus kebencian, permusuhan, serta rasa iri dengki. Hal ini juga menghindarkan seseorang dari persaingan yang melelahkan hanya demi ajang bermegah-megahan.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artikel terkait

Rekomendasi