Masyarakat Indonesia memercayai bahwa kondisi dan desain rumah tertentu dapat memengaruhi energi serta keberuntungan bagi para penghuninya.
Dilansir dari Suara, kepercayaan yang dipengaruhi oleh Primbon Jawa, feng shui, dan adat lokal ini menilai beberapa tempat tinggal bisa mengundang energi negatif.
Meskipun bersifat mitos dan tidak ilmiah, sudut pandang ini tetap menjadi pertimbangan banyak orang ketika memilih atau merenovasi tempat tinggal.
Salah satu ciri yang paling populer di tengah masyarakat adalah rumah tusuk sate atau hunian yang terletak di ujung jalan lurus dan persimpangan.
Berdasarkan Primbon Jawa, posisi ini membuat bangunan menerima hantaman energi secara langsung dari lalu lintas jalanan.
Dampaknya dipercaya bisa membuat rezeki seret, memicu konflik keluarga, hingga meningkatkan risiko kecelakaan bagi penghuni rumah karena kendaraan yang melaju kencang.
Selain faktor posisi, pemilihan warna gelap seperti pintu utama bercat hitam juga kerap dikaitkan dengan datangnya kesialan.
Warna hitam dinilai menyerap energi positif dan menciptakan suasana suram, sehingga memicu masalah keuangan atau gangguan kesehatan jika tidak menghadap ke utara.
Kondisi interior yang minim pencahayaan alami atau matahari juga diyakini menyimpan energi negatif yang memicu stres dan depresi.
Kerusakan fisik seperti tembok retak, cat mengelupas, serta beranda kotor yang dipenuhi barang berserakan turut dipandang sebagai tempat berkumpulnya energi buruk.
Desain arsitektur dengan pilar besar yang terlalu banyak atau sudut tajam menghadap ke dalam juga dianggap memotong aliran keberuntungan dan memicu konflik.
Penataan Interior dan Solusi Menangkal Energi Negatif
Penempatan cermin yang keliru, seperti langsung menghadap ke arah tempat tidur atau pintu masuk, dipercaya dapat memantulkan energi keluar serta merusak keharmonisan rumah tangga.
Keberadaan pohon besar di area depan rumah yang menutupi bangunan serta atap bocor juga disimbolkan sebagai penghambat rezeki dan kenyamanan.
Beberapa detail lain yang dihindari meliputi pintu masuk, ruang tengah, dan pintu belakang yang posisinya lurus sejajar karena dinilai membocorkan energi.
Kamar mandi di tengah rumah, penyimpanan kalender lama, jam rusak, tanaman layu, hingga penggunaan warna hijau tua atau biru gelap berlebihan juga dianggap kurang baik.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, masyarakat biasanya melakukan ritual khusus, pembersihan rutin, mengubah warna cat, atau menaruh tanaman pembawa keberuntungan.
Meskipun demikian, faktor nyata seperti lokasi strategis, ventilasi udara yang baik, dan perawatan rutin tetap menjadi kunci utama kenyamanan sebuah hunian.