Mengenal Hari Tasyrik Mulai dari Asal Usul hingga Amalan Pentingnya

Mengenal Hari Tasyrik Mulai dari Asal Usul hingga Amalan Pentingnya

Umat Muslim memperingati Hari Tasyrik setiap tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah setelah perayaan Idul Adha. Pemahaman terhadap hari istimewa ini penting untuk menjalankan sunnah sekaligus menghindari hal-hal yang dilarang, seperti dilansir dari Suara.

Ketika momen ini berlangsung, jemaah haji memiliki kewajiban untuk menginap di Mina. Mereka juga diwajibkan melakukan ritual melempar jumrah atau Rami al-Jamarat ke tiga pilar yang menjadi simbol setan.

Sementara itu, umat Islam yang tidak sedang berhaji dianjurkan untuk memperbanyak dzikir. Amalan ini meliputi pembacaan takbir, tahmid, serta tasbih, terutama setelah menyelesaikan shalat fardhu.

Kata "Tasyrik" berakar dari bahasa Arab yang menyimpan kaitan makna mendalam. Sebagian ulama menyebut kata ini berasal dari "syariq" yang berarti matahari terbit.

Hal tersebut merujuk pada aktivitas menjemur daging kurban di bawah terik matahari pagi agar persediaan pangan tersebut awet. Makna lainnya adalah "tasyriq" yang berarti mengiris daging menjadi tipis untuk dikeringkan.

Masyarakat zaman dahulu mengolah daging kurban pasca-Idul Adha menjadi dendeng. Metode pengeringan tradisional ini memudahkan penyimpanan daging untuk bekal konsumsi selama perjalanan pulang.

Latar Belakang Sejarah dan Ketetapan Nabi

Sejarah Hari Tasyrik berkaitan erat dengan kisah ketakwaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ujian keimanan muncul saat Allah SWT memerintahkan penyembelihan putranya, Nabi Ismail.

Ketaatan keduanya berbuah balasan dari Allah SWT yang menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba. Momentum bersejarah tersebut menjadi fondasi awal dari syariat ibadah kurban.

Proses pengelolaan daging setelah penyembelihan di bawah sinar matahari diyakini menjadi akar penamaan hari-hari ini. Tradisi tersebut berlanjut hingga masa kenabian berikutnya.

Saat melaksanakan Haji Wada’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan Hari Tasyrik sebagai momen khusus kebahagiaan. Umat Islam diperintahkan untuk menikmati hidangan kurban sembari terus mengingat Allah SWT.

Hukum Larangan Berpuasa dan Amalan Utama

Keistimewaan utama dari Hari Tasyrik terletak pada hukum keharaman berpuasa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang keras umatnya menunaikan puasa pada rentang tiga hari tersebut.

Waktu ini secara khusus dialokasikan untuk makan, minum, bersenang-senang, serta bersyukur atas nikmat hewan kurban. Bagi masyarakat umum, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk berbagi makanan kepada sesama.

Pembagian daging kurban sering kali menyasar tetangga, kaum dhuafa, dan kerabat muslim. Aktivitas sosial ini memperkuat rasa kebersamaan sekaligus menyempurnakan ketakwaan hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Artikel terkait

Rekomendasi