Dunia hewan menyimpan keunikan luar biasa melalui spesies Lophiomys imhausi atau yang dikenal sebagai tikus berjambul Afrika. Dilansir dari Detik iNET, hewan ini merupakan satu-satunya kelompok pengerat yang diketahui mampu menyerap dan menyimpan racun tanaman sebagai sistem pertahanan diri.
Tikus berjambul dewasa memiliki ukuran tubuh antara 360 mm hingga 530 mm dari kepala hingga ujung ekor. Penampilannya sekilas menyerupai sigung kecil dengan bulu lebat dan surai bergaris hitam putih yang membentang di sepanjang punggungnya.
Keunikan utama spesies ini terletak pada kemampuannya melumpuhkan predator besar. Racun yang mereka simpan bahkan dinilai cukup kuat untuk membunuh seekor gajah dewasa melalui mekanisme pertahanan yang sangat spesifik.
Saat merasa terancam, tikus ini akan menegakkan surainya untuk memperlihatkan bulu-bulu khusus. Bulu tersebut mengandung senyawa beracun yang dapat menyebabkan rasa sakit luar biasa atau kematian bagi hewan yang mencoba menggigitnya.
Lophiomys imhausi mendapatkan pertahanan ini dengan mengonsumsi kulit pohon panah beracun Afrika atau Acokanthera schimperi. Tanaman ini mengandung bahan kimia cardenolide seperti acovenoside A dan ouabain yang dapat memicu henti jantung pada dosis tinggi.
Tikus tersebut akan menjilati bulu di area kelenjar samping tubuhnya sambil menempelkan air liur yang telah bercampur dengan racun dari pohon tersebut. Struktur bulunya yang khusus dirancang untuk menyerap, menyebarkan, dan menyimpan cairan beracun di bagian dalam.
Dampak Terhadap Predator dan Daya Tahan Tubuh
Jika pemangsa menyerang, senyawa beracun akan terlepas ke mulut predator dan masuk ke aliran darah dengan sangat cepat. Efek yang ditimbulkan bisa berupa muntah, kejang, hingga kesulitan bernapas bagi hewan yang menyerangnya.
Beberapa kasus menunjukkan anjing yang menyerang tikus ini dapat mati seketika. Sementara bagi pemangsa yang berhasil selamat, pertemuan tersebut akan menimbulkan trauma dan respons ketakutan yang mendalam di masa depan.
Hingga saat ini, para ilmuwan masih meneliti mengapa tikus berjambul tidak ikut binasa saat mengonsumsi racun fatal tersebut. Diduga, variasi biokimia pada superfamili Muroidea atau keberadaan bakteri khusus di lambung berperan dalam mengurai racun secara aman.
Habitat dan Pola Hidup
Spesies ini mendiami wilayah hutan, sabana, dan semak belukar dengan medan berbatu. Mereka kerap ditemukan bersarang di batang pohon berongga atau lubang di negara-negara seperti Somalia, Etiopia, Sudan, Kenya, dan Eritrea.
Secara sosial, tikus berjambul cenderung hidup menyendiri atau dalam kelompok keluarga kecil. Meski memiliki sistem pertahanan yang mengerikan, makanan utama mereka sebenarnya adalah tumbuh-tumbuhan seperti daun, buah, dan terkadang serangga.