Kegemaran orang dewasa dalam menikmati komik atau buku anak-anak sering kali dipandang unik, namun hal ini sebenarnya berkaitan erat dengan konsep inner child. Fenomena ini merujuk pada sisi kekanak-kanakan yang tetap menetap dalam struktur psikologis seseorang meskipun usia telah bertambah.
Dikutip dari Katanetizen, bagian diri tersebut menyimpan beragam memori, ketakutan, impian, hingga kebahagiaan sederhana yang mungkin belum terpenuhi di masa lalu. Hal inilah yang mendorong banyak orang dewasa tetap menyukai kartun, mainan, hingga camilan masa kecil sebagai bentuk pemenuhan diri.
Eksistensi inner child tidak melulu bersumber dari luka batin, melainkan bisa muncul dari rasa penasaran yang tertunda. Masa kecil seseorang pada dasarnya tidak pernah benar-benar lenyap, melainkan tumbuh dan ikut membentuk kepribadian hingga memasuki usia produktif.
Pengalaman masa kecil yang terbatas terhadap akses bacaan sering kali membentuk kerinduan mendalam saat dewasa. Seperti kisah yang dilansir dari Katanetizen, keterbatasan fasilitas pendidikan di wilayah Indonesia timur memaksa anak-anak mengenal huruf melalui bimbingan orang tua jauh sebelum sekolah dasar.
Buku tentang kemerdekaan Indonesia sering kali menjadi pintu gerbang utama yang memicu ketertarikan pada dunia literasi. Minat yang tumbuh sejak dini ini membuat segala bentuk tulisan, mulai dari bungkus makanan hingga peta atlas, menjadi sumber pengetahuan berharga bagi anak-anak di daerah terpencil.
Rasa ingin tahu tersebut kemudian berkembang menjadi mimpi untuk melihat dunia yang lebih luas. Meski demikian, keinginan untuk mengoleksi buku cerita atau komik sering kali harus terkendala oleh faktor ekonomi dan akses geografis yang sulit dijangkau pada masa itu.
Menemukan Kebahagiaan yang Tertunda
Banyak orang baru memiliki kesempatan untuk memenuhi keinginan masa kecilnya setelah mencapai kemandirian finansial. Prioritas pendidikan dan kebutuhan akademik selama masa kuliah sering kali memaksa seseorang menyimpan rapat keinginannya memiliki koleksi buku favorit.
Setelah bekerja, barulah akses terhadap komik dan buku cerita remaja bisa terbuka lebar tanpa ada rasa canggung. Menikmati kembali bacaan tersebut di usia dewasa bukan sekadar bentuk perilaku kekanak-kanakan, melainkan cara menghargai bagian diri yang dulu belum sempat merasakan kebahagiaan tersebut.
Kedewasaan justru terlihat ketika seseorang mampu memahami bahwa ada sisi dalam dirinya yang perlu dirawat dengan lembut. Jika membaca buku anak-anak mampu memberikan jeda dari rutinitas dan menghadirkan ketenangan, maka aktivitas tersebut merupakan pilihan yang sangat layak untuk dirayakan.
Merawat inner child pada akhirnya bertujuan untuk berdamai dengan masa lalu. Memberi ruang bagi sisi anak-anak untuk tetap hidup secara sehat membantu individu dewasa merasa lebih utuh dan stabil dalam menjalani kehidupan sehari-hari.