Induk perusahaan Facebook dan Instagram, Meta, melaporkan kehilangan 20 juta pengguna aktif harian (DAU) pada laporan keuangan kuartal I-2026. Penurunan signifikan pada ekosistem WhatsApp hingga Facebook ini dipicu oleh gangguan koneksi internet di Iran serta pembatasan akses di Rusia.
Dilansir dari Tekno, jumlah pengunjung harian (DAP) Meta kini berada di angka 3,5 miliar secara keseluruhan. Capaian tersebut menunjukkan penyusutan sebesar 0,5 persen jika dibandingkan dengan data kuartal IV-2025 yang sebelumnya mencapai 3,58 miliar pengguna.
Kepala Keuangan Meta, Susan Li, menjelaskan bahwa merosotnya angka pengguna merupakan dampak langsung dari situasi geopolitik di Timur Tengah. Iran diketahui memblokir hampir seluruh akses internet di negaranya pascaserangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Selain kebijakan pemerintah setempat, infrastruktur kabel serat optik di Iran juga mengalami kerusakan akibat konflik bersenjata tersebut. Sebelumnya, Iran sempat melakukan pemutusan total akses internet selama tiga minggu mulai 8 Januari 2026 menyusul adanya gelombang protes anti-pemerintah.
Kondisi ini diperparah dengan kebijakan pemerintah Rusia yang membatasi akses WhatsApp sejak pertengahan Februari 2026. Moskow saat ini tengah mendorong warga sipil dan pegawai negara untuk beralih ke aplikasi lokal bernama Max yang dikembangkan sebagai aplikasi super.
Pihak WhatsApp memberikan tanggapan terkait upaya pemblokiran tersebut melalui media sosial X sebagai bentuk konfirmasi atas situasi yang terjadi di wilayah Rusia.
"Hari ini pemerintah Rusia mencoba memblokir WhatsApp sepenuhnya sebagai upaya mendorong warganya beralih ke aplikasi pengawasan buatan dalam negeri," tulis WhatsApp.
Perusahaan menilai langkah pemerintah Rusia tersebut sebagai sebuah kemunduran bagi konektivitas digital. Dampak kebijakan ini dirasakan oleh lebih dari 100 juta pengguna WhatsApp yang berdomisili di wilayah Rusia.
Meskipun jumlah pengguna menyusut dan saham Meta sempat terkoreksi 9 persen pada Jumat (1/5/2026), pendapatan perusahaan justru tumbuh. Meta membukukan kenaikan pendapatan sebesar 33 persen (YoY) menjadi 56,3 miliar dollar AS atau setara Rp 977 triliun dengan laba bersih mencapai 22,8 miliar dollar AS.
Merespons situasi ini, Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, memberikan persyaratan bagi perusahaan milik Mark Zuckerberg tersebut jika ingin layanannya kembali beroperasi normal di Rusia.
Peskov menegaskan bahwa WhatsApp bisa kembali normal jika Meta mematuhi hukum Rusia. Tanpa adanya langkah kompromi dari pihak pengembang, pemerintah Rusia menyatakan tidak ada peluang untuk memulihkan akses aplikasi pesan tersebut.