Raksasa teknologi Meta dilaporkan sedang mengembangkan sistem kecerdasan buatan (AI) terbaru bernama Hatch untuk mengotomatisasi berbagai aktivitas pengguna di ekosistem media sosial mereka. Teknologi ini dirancang agar AI dapat bertindak secara mandiri berdasarkan arahan minimal, sebagaimana dilansir dari Tekno.
Pengembangan sistem AI agent ini bertujuan untuk memperluas fungsi kecerdasan buatan dari sekadar pemberi jawaban menjadi sistem yang mampu mengambil tindakan langsung. Proyek internal Hatch ini dikabarkan terinspirasi dari teknologi OpenClaw yang memiliki kemampuan menjalankan tugas lintas aplikasi secara kompleks.
Dalam pengoperasiannya, AI agent tersebut diproyeksikan mampu merangkum percakapan dari berbagai aplikasi Meta setiap pagi serta memantau pergerakan promosi kompetitor bagi pemilik bisnis. Selain itu, sistem ini dapat mencari pertanyaan populer mengenai produk tertentu hingga membuat ide kampanye berdasarkan tren yang sedang berlangsung.
Integrasi teknologi ini juga menyasar fitur belanja di Instagram yang memungkinkan pengguna mencari produk dan membandingkan harga secara otomatis melalui instruksi suara atau teks. AI shopping agent tersebut dirancang untuk membantu penyelesaian transaksi pembelian tanpa mengharuskan pengguna keluar dari aplikasi Instagram.
Menurut laporan The Information, target pengujian internal untuk proyek Hatch direncanakan selesai sebelum akhir Juni 2026. Sementara itu, peluncuran fitur belanja berbasis AI untuk platform Instagram diprediksi akan dilakukan sebelum memasuki kuartal keempat tahun ini.
"bertindak" ujar Meta, Perusahaan induk Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Threads.
Sistem baru ini juga memungkinkan pembuatan unggahan otomatis sesuai tema tertentu dan pengiriman ucapan ulang tahun tanpa intervensi manual dari pengguna. Langkah ini diambil Meta untuk meningkatkan efisiensi aktivitas media sosial bagi seluruh penggunanya secara global.
"next level" kata Meta, Perusahaan Teknologi.
CEO Meta Mark Zuckerberg dikabarkan telah mulai menguji kecerdasan buatan tersebut menggunakan data aktivitas harian pribadinya untuk membantu mengotomatisasi pekerjaan rutin. Fokus utama dari pengembangan ini adalah membuat interaksi digital menjadi lebih efisien melalui bantuan asisten virtual yang proaktif.