Meta Platforms Inc. mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 8.000 karyawan secara global pada Rabu (20/5) pagi demi menekan biaya pengeluaran dan berinvestasi besar-besaran pada sektor kecerdasan buatan (AI).
Langkah restrukturisasi yang berdampak pada sekitar 10 persen tenaga kerja ini menyasar tim rekayasa serta produk, dimulai dari hub Asia di Singapura pada pukul 04.00 waktu setempat sebelum berlanjut ke wilayah Eropa dan Amerika Serikat.
Selain memangkas jabatan manajerial dan staf, perusahaan yang memiliki hampir 80.000 pekerja pada akhir Maret ini juga memindahkan sekitar 7.000 karyawan ke dalam inisiatif tim kecerdasan buatan yang baru dibentuk.
Menurut laporan Bloomberg News, Kepala Sumber Daya Manusia Meta Janelle Gale mengirimkan memo internal yang menjelaskan bahwa restrukturisasi ini bertujuan untuk menciptakan struktur organisasi yang lebih ramping.
"We’re now at the stage where many orgs can operate with a flatter structure with smaller teams of pods/cohorts that can move faster and with more ownership," kata Janelle Gale, Head of People Meta.
Manajemen Meta meyakini perubahan format kerja dengan tim-tim kecil tersebut dapat memicu produktivitas yang lebih tinggi sekaligus membuat pekerjaan menjadi lebih berharga.
"We believe this will make us more productive and make the work more rewarding," tutur Janelle Gale, Head of People Meta.
Di sisi lain, dilansir oleh The Guardian, Wakil Presiden Bidang Production Engineering Meta Peter Hoose mengumumkan pemindahan para insinyur terpilih ke dua tim baru, yaitu infrastruktur komputasi awan AI dan tim agen AI internal berkode Hatch.
"Our work, infrastructure and our products are fundamentally changing as a result of the continued acceleration of AI," tulis Peter Hoose, Vice President of Production Engineering Meta.
Peter Hoose menambahkan bahwa kecepatan pembangunan sistem baru ini belum pernah terjadi sebelumnya dan menjadi tantangan utama yang mendefinisikan kemampuan terbaik perusahaan.
"The pace of what we are building is unprecedented, and these are exactly the kind of challenges that define what we do best," kata Peter Hoose, Vice President of Production Engineering Meta.
Kebijakan sepihak ini memicu kritik keras dari internal, termasuk mengenai keharusan rotasi kerja ke tim Applied AI (AAI) serta penerapan alat pengawasan Model Capability Initiative (MCI) yang melacak aktivitas perangkat karyawan untuk melatih AI.
"Does ‘selected’ imply this is an [Applied AI]-style draft rather than a voluntary move?" tulis seorang Karyawan Meta.
Pihak manajemen berdalih bahwa pelacakan data pergerakan tetikus, ketukan papan ketik, hingga aktivitas menyalin teks sangat dibutuhkan agar model AI dapat mempelajari contoh nyata cara manusia menggunakan komputer.
"If we’re building agents to help people complete everyday tasks using computers, our models need real examples of how people actually use them – things like mouse movements, clicking buttons and navigating dropdown menus. To help, we’re launching an internal tool that will capture these kinds of inputs on certain applications to help us train our models. There are safeguards in place to protect sensitive content, and the data is not used for any other purpose," ujar Juru Bicara Meta.
Kendati manajemen menjamin keamanan konten sensitif, keresahan tetap meluas di kalangan pekerja hingga memicu lahirnya petisi penolakan pengumpulan data yang telah ditandatangani oleh lebih dari 500 karyawan di lima kantor Amerika Serikat.
"The new orgs showcase a shift in top level management strategy towards micro-authoritarianism," kata seorang Insinyur Meta.
Insinyur yang meminta identitasnya dirahasiakan tersebut menilai perusahaan kini mengedepankan budaya komando dan perintah alih-alih memberdayakan karyawan.
"No, we tell you what to do, and command and order is the way forward," ujar Insinyur Meta.
Ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap rangkaian serangan bertubi-tubi dari manajemen, mulai dari pemangkasan fasilitas kerja, ancaman PHK bergulir, hingga kewajiban rotasi kerja yang dinilai meruntuhkan semangat kerja staf.
"Small acts foreshadowed what was to come: rolling layoffs with months of uncertainty before confirmation, MCI, drafting … It feels like they are trying to defeat our spirit by landing multiple attacks at once," tutur Insinyur Meta.
Gelombang protes ini menandai kembalinya pergolakan internal pertama setelah para pekerja cenderung memilih bungkam sejak pemangkasan hubungan kerja massal Meta dimulai pada tahun 2022 lalu.
"Meta has an extreme culture of fear," kata seorang Ilmuwan Data Meta.
Ilmuwan data tersebut menyatakan bahwa perusahaan biasanya langsung meredam setiap perbedaan pendapat, namun isu pemanfaatan data perangkat ini berhasil menyatukan para pekerja untuk kembali melawan setelah satu tahun lebih berdiam diri.