Eksistensi Facebook yang sempat mendominasi jagat maya sejak peluncurannya pada 2004 kini dinilai sedang memasuki masa suram. Meski awalnya hanya terbatas bagi mahasiswa Harvard dan kampus elit, platform ini sempat meraih puncak kejayaan hingga melakukan penawaran saham perdana (IPO) pada 2012.
Dilansir dari Detik iNET, raksasa teknologi ini mencoba mempertahankan dominasi pasar melalui akuisisi besar terhadap Instagram dan WhatsApp. Namun, upaya tersebut tampaknya tidak cukup untuk membendung gelombang pengguna yang mulai meninggalkan platform utama mereka.
Kondisi linimasa Facebook menjelang tahun 2026 digambarkan semakin memburuk pasca kegagalan transisi ke ekosistem Metaverse. Pengguna kini lebih sering menjumpai konten buatan kecerdasan buatan (AI), iklan yang masif, serta penyebaran misinformasi yang tidak kunjung dibenahi oleh pihak perusahaan.
Jurnalis investigasi ternama, Julia Angwin, melalui tulisannya di New York Times menyoroti potensi kemunduran panjang yang dialami Meta. Ia membandingkan nasib perusahaan milik Mark Zuckerberg ini dengan mantan bintang web lainnya yang telah meredup seperti Yahoo dan AOL.
Tekanan pada pendapatan Meta muncul seiring dengan meningkatnya ketidakpuasan konsumen dan pola pengeluaran perusahaan yang dinilai kurang bijak. Laporan keuangan terbaru menunjukkan adanya penurunan angka pengguna, sebuah anomali yang baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah pelaporan mereka.
"Dan harga saham yang anjlok mengonfirmasi apa yang selama ini kita yakini dalam hati: Ini adalah perusahaan yang sedang memasuki era zombie," tulis Julia Angwin.
Secara teknis, perusahaan seperti AOL dan Yahoo memang masih beroperasi dan memiliki pelanggan tetap. Mereka bahkan tetap meraup keuntungan dengan cara menekan jumlah karyawan dan memonetisasi sisa-sisa lalu lintas web yang masih tersedia.
Meski demikian, citra platform tersebut di mata generasi muda sudah dianggap tidak lagi relevan atau bahkan memalukan. Julia Angwin mencatat bahwa banyak remaja saat ini merasa enggan jika harus diketahui memiliki akun AOL, email Yahoo, ataupun profil Facebook.
"Namun mereka, seperti kata anak-anak zaman sekarang, berada di tingkat sangat memalukan. Banyak remaja akan merasa lebih baik mati daripada ketahuan memiliki akun AOL, alamat email Yahoo atau profil Facebook," cetus Julia Angwin.
Zuckerberg yang pernah merasakan kesuksesan luar biasa setelah keluar dari Harvard kini harus berjuang keras di tengah situasi yang tidak lagi menguntungkan. Ambisinya di dunia realitas virtual (VR) yang belum membuahkan hasil dianggap telah menghabiskan dana dalam jumlah besar.
Saat ini, pimpinan Meta tersebut tengah berupaya membangun dominasi di sektor kecerdasan buatan yang persaingannya semakin memanas. Walaupun upayanya dinilai masih tertinggal dibandingkan para kompetitor, Zuckerberg diprediksi masih memiliki strategi cadangan untuk menghadapi tantangan di masa depan.