General Manager Microsoft Israel, Alon Haimovich dicopot dari jabatannya akibat skandal penyalahgunaan infrastruktur cloud untuk mengintai warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Manajemen kantor cabang tersebut kini diambil alih oleh Microsoft Prancis secara sementara pada Selasa (19/5/2026), dilansir dari Detik iNET.
Skandal ini terungkap setelah laporan The Guardian dan +972 Magazine membeberkan bahwa badan intelijen Israel menggunakan server Microsoft untuk operasi pemantauan massal. Penggunaan infrastruktur cloud Azure ini memperluas kesepakatan tahun 2021 antara CEO Microsoft Satya Nadella dan Komandan Unit 8200 Israel, Yossi Sariel.
Militer Israel diketahui diam-diam menyimpan database panggilan telepon warga Palestina di server Azure yang berlokasi di Eropa, tepatnya di Belanda dan Irlandia. Per Juli 2025, kapasitas data militer yang tersimpan mencapai lebih dari 1.500 TB atau setara dengan 200 juta jam audio.
Sistem pengintaian yang beroperasi sejak 2022 tersebut mampu memproses rekaman hingga 1 juta panggilan telepon per jam milik warga Palestina. Berdasarkan dokumen internal, data dari infrastruktur ini kemudian digunakan oleh algoritma alat penarget berbasis AI bernama Gospel dan Lavender untuk menyiapkan serangan udara di Gaza.
Kajian internal Microsoft akhirnya mendeteksi adanya kegagalan manajemen serta kurangnya transparansi yang merusak kepercayaan antarkantor perusahaan. Akibat meluasnya protes internal melalui kampanye 'No Azure for Apartheid' dan sorotan publik, Microsoft akhirnya memutus akses penyimpanan cloud untuk unit di Kementerian Pertahanan Israel tersebut.