Raksasa teknologi Microsoft melaporkan total pengeluaran mencapai lebih dari 100 miliar dolar AS untuk mendanai kemitraan dengan OpenAI di tengah persidangan antara Elon Musk dan Sam Altman di California pada pertengahan Mei 2026.
Biaya fantastis tersebut sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur Azure dan biaya hosting guna mendukung layanan OpenAI sebelum Microsoft mulai mendapatkan pendapatan dari kerja sama tersebut. Lead pengembangan korporat Microsoft, Michael Wetter, mengungkapkan rincian pengeluaran ini saat memberikan kesaksian dalam persidangan Musk melawan Altman yang berlangsung pekan ini.
"Kami perlu membangun infrastruktur Azure sebelum menyediakan layanan tersebut kepada OpenAI," kata Michael Wetter, Lead Pengembangan Korporat Microsoft.
Wetter menambahkan bahwa angka 100 miliar dolar AS tersebut bersifat kumulatif hingga tahun fiskal yang berakhir Juni 2026, termasuk di dalamnya investasi langsung sebesar 13 miliar dolar AS. Kemitraan ini kini telah diperbarui menjadi aliansi non-eksklusif yang menghapus kewajiban pembagian pendapatan OpenAI kepada Microsoft setelah mencapai batas 38 miliar dolar AS pada tahun 2030.
CEO Microsoft Satya Nadella menyatakan kebanggaannya atas langkah berani perusahaan dalam mengambil risiko investasi saat pihak lain masih ragu terhadap teknologi AI. Meskipun sempat ada pertentangan dari pendiri Microsoft Bill Gates pada 2019 terkait struktur nirlaba OpenAI, Nadella tetap melanjutkan kesepakatan tersebut.
"Sangat bangga," kata Satya Nadella, CEO Microsoft.
Sementara itu, persidangan antara Elon Musk melawan Sam Altman dan Greg Brockman terus mengungkap ketegangan internal di balik pendirian OpenAI. Musk menuduh kedua pimpinan OpenAI tersebut menipunya untuk mendanai organisasi nirlaba yang kemudian diubah menjadi entitas komersial demi keuntungan pribadi.
Di ruang sidang, tim pengacara Altman sempat menunjukkan sebuah trofi bertuliskan pesan sindiran yang ditujukan kepada ilmuwan riset Josh Achiam. Insiden ini bermula saat Achiam mempertanyakan ambisi Musk untuk menyalip Google, yang kemudian memicu respons keras dari Musk di masa lalu.
"Never stop being a jackass," ujar Yvonne Gonzalez Rogers, Hakim, saat membacakan tulisan di trofi tersebut di depan pers.
Persidangan mengungkap bahwa Musk menolak klaim pelecehan verbal tersebut dalam kesaksiannya. Ia berdalih bahwa ucapannya kemungkinan besar hanya berupa peringatan untuk tidak bertindak sembarangan dalam pengembangan teknologi.
"Jangan menjadi bajingan," kata Elon Musk, Pemilik xAI.
Selain konflik personal, laporan The Guardian menyoroti dampak lingkungan dan sosial dari persaingan agresif perusahaan AI. Di Tennessee dan New Mexico, warga mulai memprotes pembangunan pusat data superkomputer berskala besar yang dianggap mengancam hak dasar masyarakat lokal.
"Tarik napas dalam-dalam dua kali. Itu adalah hak asasi manusia," kata KeShaun Pearson, pemimpin perlawanan terhadap fasilitas superkomputer Colossus di Memphis.
Kritik juga datang dari sektor riset, di mana mantan Wakil Presiden Penelitian Cohere, Sara Hooker, menilai model penskalaan besar saat ini sebagai metode yang kurang presisi. Ia berpendapat bahwa industri cenderung memilih menambah daya komputasi daripada merancang metode baru yang lebih efisien.
"Scaling adalah formula murah untuk mendapatkan lebih banyak performa, tetapi itu juga merupakan formula yang sangat tidak tepat. Kami sangat menyukainya karena itu cocok dengan siklus perencanaan yang dapat diprediksi. Lebih mudah untuk mengatakan 'berikan lebih banyak komputasi pada masalah tersebut' daripada merancang metode baru," kata Sara Hooker, Mantan Wakil Presiden Penelitian Cohere.