Pakar etiket Mien R. Uno meluncurkan buku terbarunya berjudul Cermin Diri: Ketika Kita Bisa Melihat Diri Kita pada Diri Orang Lain dalam rangka merayakan milad ke-85 di Aula At-Taqwa Sriwijaya, Jakarta, pada Jumat (29/5), seperti dilansir dari Suara.
Karya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini merangkum 85 kisah reflektif mengenai perjalanan hidup, kedisiplinan, serta kesederhanaan. Buku tersebut diniatkan menjadi panduan bagi pengembangan generasi muda Indonesia agar mampu memahami diri sendiri melalui pengalaman orang lain.
Acara peluncuran tersebut dihadiri oleh sang putra, Sandiaga Uno, yang mendampingi ibundanya secara langsung. Sandiaga menyatakan rasa haru atas dedikasi sang ibu yang memilih berbagi inspirasi di usia senja demi kepentingan generasi masa depan.
"Di bulan Mei ini, bertepatan dengan milad ke-85, Ibu meminta peluncuran buku ini untuk menginspirasi. Mudah-mudahan kisah berbagi dalam buku Cermin Diri ini akan bermanfaat bagi generasi selanjutnya; generasi X, generasi Y, generasi Alpha, maupun generasi-generasi selanjutnya," ujar Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Sandiaga menambahkan bahwa kumpulan cerita ini menitikberatkan pada pentingnya melakukan introspeksi diri dari setiap pengalaman yang telah dilalui. Menurutnya, kemampuan untuk berkaca merupakan modal yang sangat krusial bagi seseorang untuk menjadi pemimpin masa depan.
"Nah, justru Ibu mengangkat bahwa dengan bercermin kita bisa belajar dari kesalahan kita, dan terus mengintrospeksi setiap kisah yang kita lalui. Jadi ini sangat penting untuk menjadi seorang pemimpin di masa depan. Kita harus mampu, istilahnya anak-anak sekarang, ‘ngaca’ dulu," kata Sandiaga Uno.
Sandiaga juga menegaskan banyak menyerap nilai-nilai karakter positif dari sang ibu, mulai dari etos kerja hingga cara menghormati sesama manusia. Nilai-nilai tersebut dinilainya tertuang jelas dalam seluruh bagian isi buku baru itu.
"Saya belajar disiplin, kerja keras, saya belajar juga mengenai menghormati orang lain, belajar menghormati yang tua, belajar juga kesederhanaan. Ini semua ada di dalam buku 85 kisah dalam proses cermin diri," ujar Sandiaga Uno.
Lebih lanjut, ia mengenang masa lalu ibundanya yang berprofesi sebagai guru. Meskipun hidup dalam segala keterbatasan, sang ibu terbukti mampu membesarkan keluarga dengan pondasi pendidikan yang kokoh.
"Harapannya dulu setipis kertas. Tapi dari profesi seorang guru ternyata bisa bertahan hidup dengan delapan orang anak. Dari kesederhanaan dengan penuh disiplin, itu akan menorehkan prestasi," kata Sandiaga Uno.
Sementara itu, Mien R. Uno menegaskan tekadnya bahwa penulisan karya ini memang sengaja difokuskan untuk memandu para remaja dan pemuda. Melalui buku ini, ia berharap generasi baru dapat memetik hikmah dan bersyukur atas segala capaian hidup.
"Sebenarnya buku ini saya tujukan untuk generasi muda. Jadi generasi muda itu harus belajar apa yang mereka lalui, atau belajar melalui orang lain. Bagaimana kita bisa menikmati semua yang kita dapatkan, dan kita selalu bersyukur bahwa kita bisa mendapatkannya," tutur Mien R. Uno, Penulis Buku.
Perempuan kelahiran Indramayu tersebut kemudian membagikan pandangannya mengenai arti kebahagiaan yang sejati. Ia menyadari bahwa keberadaan sahabat yang setia mendampingi dalam segala situasi jauh lebih bernilai daripada keramaian orang banyak.
"Ternyata banyak orang itu belum tentu membuat kita bahagia. Ternyata orang yang sangat membahagiakan ada pada saat kita dalam keadaan apa pun. Jadi itu adalah hal yang kita harus nikmati bahwa ternyata ada teman yang bisa berbagi bersama kita," lanjut Mien R. Uno.
Bagi Mien, salah satu realitas kehidupan yang paling berharga adalah kemampuan menyaring hubungan sosial saat menghadapi masa-masa sulit. Ia menilai momen kemunduran justru memperlihatkan siapa saja orang yang benar-benar tulus peduli.
"Biasanya kalau kita dalam keadaan tidak menyenangkan, semua pergi. Tapi satu dua orang tetap dekat di hati kita dan mereka mendengarkan apa yang kita perlu," ucap Mien R. Uno.
Pada bagian akhir, tokoh pendidikan ini menyelipkan harapan agar kaum muda mampu menggali potensi internal mereka secara optimal. Pemahaman mendalam mengenai kapasitas diri dinilai menjadi esensi utama dari seluruh rangkaian karyanya selama ini.
"Generasi muda itu saya ingin mereka belajar menerima diri sendiri, belajar bagaimana sih… apa sih yang dia punyai? Apa sih yang harus dia lakukan? Dan di situ semua ada di buku Cermin Diri itu, pelajaran 85 tahun saya berkarya," kata Mien R. Uno.