Misi Manusia ke Saturnus Butuh Waktu 17 Tahun dan 12 Ton Makanan

Misi Manusia ke Saturnus Butuh Waktu 17 Tahun dan 12 Ton Makanan

Penjelajahan manusia di ruang hampa udara telah berlangsung selama lebih dari enam dekade. Rekor jarak terjauh baru saja dipecahkan pada April 2026 melalui misi kru Artemis II yang berhasil mencapai titik 406.771 kilometer dari Bumi.

Pencapaian tersebut menjadi batas baru jangkauan manusia di kosmos saat ini. Meski pengiriman manusia ke Mars dinilai memungkinkan dalam waktu dekat, ambisi untuk menjangkau planet yang lebih jauh seperti Saturnus menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.

Sebuah studi mendalam yang dilansir dari Detik iNET meninjau kelayakan misi pulang-pergi ke sistem Saturnus. Target utamanya adalah mengumpulkan sampel dari Enceladus yang memiliki samudra bawah laut, serta Titan yang kaya akan danau metana.

Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan misi ambisius ini diperkirakan mencapai 17 tahun. Durasi yang sangat panjang tersebut menjadi kendala utama bagi ketahanan fisik maupun mental awak pesawat dalam perjalanan antarplanet.

Fisikawan dan ilmuwan roket di NASA, Geoffrey Landis, menjelaskan bahwa teknologi propelan saat ini menjadi faktor kunci. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya di Titan menjadi solusi praktis untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan saat perjalanan pulang.

"Apa yang kami tunjukkan adalah pada dasarnya sangat memungkinkan untuk membuat propelan dari bahan-bahan yang kita miliki di Titan," kata Geoffrey Landis.

Rencana strategis melibatkan pengiriman misi nirawak terlebih dahulu ke Titan untuk membangun stasiun pengisian bahan bakar. Cara ini dianggap mampu memangkas waktu tunggu pembuatan bahan bakar oleh kru saat mereka tiba di sana.

Meskipun demikian, faktor logistik makanan menjadi persoalan masif lainnya. Astronaut membutuhkan asupan kalori yang lebih tinggi dibandingkan manusia di Bumi, namun teknologi produksi pangan skala besar di luar angkasa belum tersedia.

Kebutuhan nutrisi seimbang diperkirakan mencapai 2 kilogram makanan per astronaut setiap harinya. Dalam durasi 17 tahun, satu orang astronaut saja memerlukan pasokan logistik makanan seberat lebih dari 12 ton.

Landis juga menyoroti perlunya sistem penggerak yang jauh lebih bertenaga untuk mempersingkat waktu tempuh. Ia menyarankan penggunaan reaktor nuklir sebagai pengganti sistem propulsi kimia konvensional guna menghadapi risiko radiasi dan beban pesawat yang semakin berat.

"Perjalanan pulang perginya memakan waktu yang sangat lama, 17 tahun berangkat dan pulang, jadi ini bukanlah misi yang cepat. Itu mungkin agak terlalu lama bagi manusia," ujar Landis.

"Itu akan menjadi perjalanan yang amat sangat panjang jika Anda menggunakan sistem propulsi kimia yang ada saat ini. Saya sangat menginginkan sistem propulsi berdaya dorong lebih kuat. Ini akan jadi sistem di mana Anda benar-benar akan memanfaatkan reaktor nuklir," tambahnya.

Artikel terkait

Rekomendasi