MUI Tangerang Ajak Umat Islam Jaga Konsistensi Spirit Qurban

MUI Tangerang Ajak Umat Islam Jaga Konsistensi Spirit Qurban

Momentum Idul Adha sejatinya menjadi sarana untuk memperkuat ketakwaan, keikhlasan, serta kepedulian sosial, bukan sekadar ritual tahunan. Semangat pengorbanan tersebut menuntut umat Islam untuk menundukkan ego, mengikis kesombongan, dan peduli terhadap sesama.

Perubahan perilaku setelah beribadah juga menjadi esensi utama dari ibadah haji. Kemabruran seorang jemaah akan terlihat dari kontribusi positif dan perubahan karakternya saat kembali ke masyarakat.

Melalui khutbah Jumat yang disusun oleh KH. Misbahul Munir, S.Ag. MM, Sekretaris Umum MUI Kota Tangerang, umat Islam diajak untuk menjaga nyala api spiritual tersebut, seperti dilansir dari Cahaya.

السّلام عليكم ورحمة الله ويركاته

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَعْيَادَ وَسِيْلَةً لِلطَّاعَاتِ، وَأَفَاضَ عَلٰى عِبَادِهِ فِيْهَا الرَّحْمَةَ وَالْبَرَكَاتِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ وَالنَّذِيْرُ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِك| عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: (لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ)

Meningkatkan kualitas takwa secara sungguh-sungguh dapat dilakukan dengan mematuhi perintah Allah SWT sekaligus menjauhi larangan-Nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hari Raya Idul Adha baru saja berlalu dan saat ini umat Islam masih berada dalam suasana hari Tasyrik. Sebagian jemaah sedang menyelesaikan ibadah haji di Tanah Suci, sementara sebagian lainnya telah melaksanakan penyembelihan qurban.

Pasca momentum tersebut, muncul sebuah perenungan penting mengenai keberlanjutan semangat ibadah yang telah dilaksanakan agar tidak memudar begitu saja.

Melalui ibadah qurban, Allah SWT menegaskan bahwa rida-Nya tidak dicapai melalui tumpukan daging atau tetesan darah hewan. Allah SWT tidak membutuhkan hal itu, melainkan menimbang ketakwaan yang tertanam di dalam hati.

Nilai sejati dari qurban bukan terletak pada harga materi, bobot fisik hewan, atau pengumuman nama di masjid. Esensi utamanya adalah keikhlasan murni, ketundukan jiwa, dan rasa takut kepada Allah SWT.

Ibadah ini menjadi ujian batin bagi setiap mudhahi untuk memastikan niatnya bebas dari sifat pamer atau riya. Ketakwaan yang menjadi penggerak akan mengubah ibadah ini menjadi cahaya batin dan kesadaran atas titipan Allah SWT.

Kesombongan atas kemampuan berqurban dibandingkan dengan tetangga yang belum mampu harus dihindari. Hewan yang disembelih akan habis dikonsumsi, namun catatan ketakwaan di dalam hati akan bersifat abadi di akhirat.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hajj: 37:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.”

Esensi qurban diarahkan untuk mengikis sifat egois, ketamakan, dan menara kesombongan dalam diri manusia. Penyembelihan hewan ternak menjadi simbol untuk mematikan sifat kebinatangan seperti kerakusan dan sikap acuh terhadap sesama.

Keikhlasan mengorbankan sebagian harta saat Idul Adha kini diuji konsistensinya dalam kehidupan sehari-hari. Umat Islam dituntut menjaga ketulusan amal tersebut tanpa mengharapkan pujian ataupun popularitas.

Sifat kikir dan pelit harus dibuang jauh-jauh setelah hari raya berakhir. Tangan tidak boleh kembali menggenggam erat harta duniawi sambil menutup mata dari jeritan kaum dhuafa.

Jiwa seorang mukmin diarahkan untuk bertransformasi menjadi pribadi yang siap mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, hingga materi demi kemaslahatan umat, keadilan sosial, dan kejayaan agama Allah SWT.

“Maka tanyakan pada diri kita masing-masing: Jika untuk membeli hewan qurban jutaan rupiah kita mampu, mengapa untuk sekadar bersedekah ribuan rupiah di kotak amal masjid setiap Jumat kita masih merasa berat?”

Ketaatan dan kesalehan yang ditunjukkan tidak boleh sekadar menjadi ibadah musiman yang datang dan pergi mengikuti kalender tahunan. Keimanan jangan seperti riak gelombang yang pasang saat hari raya namun surut di hari biasa.

Transformasi spirit ibadah ini harus menyatu menjadi kepribadian, karakter, dan identitas diri yang melekat erat dalam sanubari hingga akhir hayat.

Konsistensi dalam kebaikan saat menghadapi pasang-surut kehidupan merupakan pembuktian iman yang jujur sebagai hamba yang setia di setiap waktu dan tempat.

Bagi jemaah haji, puncak perjuangan bukan terletak saat melempar jumrah atau tawaf wada, melainkan ketika mereka kembali ke tanah air.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

“Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya melainkan surga.”

Para ulama menjelaskan bahwa tanda utama haji mabrur terlihat dari perubahan perilaku menjadi lebih baik, seperti menjadi ahli masjid dan sosok yang lebih dermawan.

Nilai kebersamaan, kesetaraan tanpa kasta melalui simbol pakaian ihram, serta fokus berdzikir juga harus diaplikasikan oleh umat yang belum berkesempatan naik haji.

Konsistensi atau istiqamah dalam menjaga spirit ibadah menjadi tolok ukur utama diterimanya amal saleh di sisi Allah SWT. Lahirnya kebaikan baru setelah beribadah menjadi penanda diterimanya amal tersebut.

Mempertahankan ritme ibadah di hari-hari biasa memiliki kedudukan tinggi dan menjadi bukti nyata bahwa seorang hamba menyembah Allah yang Maha Kekal, bukan menyembah momentum.

Idul Adha didesain sebagai madrasah spiritual singkat yang kurikulumnya wajib dipraktikkan sepanjang tahun, bukan hanya untuk waktu empat hari saja.

Sangat disayangkan jika pengorbanan materi dan lelahnya fisik dalam manasik hanya menyisakan cerita sejarah tanpa membawa perubahan pada kualitas akhlak sehari-hari.

Momentum ini semestinya menjadi batu loncatan yang kokoh untuk mengakselerasi ketaatan, di mana qurban dan haji berfungsi sebagai bahan bakar spiritual yang baru diisi ulang.

Komitmen baru setelah keluar dari masjid diwujudkan dengan menjadikan hari esok lebih bertakwa, ikhlas, dan bermanfaat bagi sesama demi menyongsong rida Allah SWT.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْYِ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Artikel terkait

Rekomendasi