الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّANِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ،
أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ Mَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ:يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
Meningkatkan kualitas iman dan takwa kepada Allah SWT merupakan wasiat utama bagi setiap muslim, seperti dilansir dari Cahaya. Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, Maha Pencipta, serta Mahakuasa atas segala sesuatu tanpa membutuhkan tempat maupun arah.
Ibadah haji yang mabrur menjadi impian besar bagi setiap jemaah yang berangkat ke Baitullah. Ganjaran yang disiapkan untuk ibadah yang diterima ini tidak lain adalah surga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْRَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ"
"Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga." (HR. Malik, Ahmad, al-Bukhari, Muslim dan al- Arba’ah [Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’ai, Ibnu Majah])
Selain itu, pelaksanaan haji yang bersih dari perbuatan dosa juga akan menyucikan kembali diri seorang hamba dari dosa-dosa masa lalu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
"مَنْ حَجَّ هٰذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ"
"Barang siapa yang berhaji ke Baitullah, lalu tidak bersetubuh (selama masih dalam rangkaian ibadah haji) dan tidak melakukan dosa besar, maka ia akan kembali (bersih dari dosa-dosanya) seperti saat dilahirkan ibunya" (HR. al-Bukhari, Muslim dan lainnya)
Haji mabrur diartikan sebagai ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT. Syarat utamanya meliputi niat yang ikhlas, penggunaan harta yang halal, serta kepatuhan terhadap tuntunan Rasulullah.
Baginda Nabi bersabda:
"اللهم حِجَّة لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلاَسُمْعَةَ (أخرجه ابن ماجه)"
"Ya Allah, jadikanlah haji kami murni karena-Mu, tidak ada riya’ (niat agar dilihat dan dipuji orang lain) dan sum’ah (niat agar didengar, memperoleh popularitas dan dipuji orang lain) di dalamnya." (HR. Ibnu Majah)
Indikator utama kemabruran dapat terlihat saat jemaah kembali ke tanah air dengan kepribadian yang lebih baik, tidak lagi mencintai dunia secara berlebihan, dan lebih mengutamakan akhirat.
Pandangan Ulama tentang Ketaatan
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Latha’if al-Ma’arif menyebutkan bahwa tanda diterimanya sebuah amal ketaatan adalah lahirnya ketaatan berikutnya.
Imam Ahmad pernah memanjatkan doa terkait kemuliaan dalam ketaatan ini:
"اللهم أَعِزَّنِي بِطَاعَتِكَ وَلَا تُذِلَّنِي بِمَعْصِيَتِكَ"
"Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan kepadamu dan janganlah hinakan aku dengan bermaksiat kepada-Mu." (Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-ma’arifi)
Doa serupa juga kerap dibaca oleh Imam Ibrahim bin Adham:
"اللهم انْقُلْنِي مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَةِ إِلَى عِزِّ الطَّاعَةِ"
"Ya Allah pindahkanlah aku dari kehinaan maksiat kepada kemuliaan taat." (Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-ma’arifi)
Sedikitnya Jemaah yang Diterima
Banyaknya jumlah orang yang berangkat ke tanah suci tidak menjamin seluruhnya mendapatkan predikat mabrur. Hal ini menjadi perhatian para sahabat dan tabiin.
Ketika dikatakan kepada sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, "Alangkah banyak orang yang berhaji." Beliau mengatakan,
"Alangkah sedikit jama’ah haji yang hajinya diterima." (Mushannaf ‘Abd ar-Razzaq)
Syuraih, salah seorang ulama di kalangan tabi’in mengatakan:
"الحَاجُّ قَلِيْلٌ وَالرُّكْبَانُ كَثِيْرَةٌ"
"Jamaah haji yang diterima hajinya sedikit walaupun orang yang berangkat untuk menunaikan haji banyak." (Mushannaf ‘Abd ar-Razzaq)
Mengenai kerikil yang dilempar saat jamarat, sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma memberikan penjelasan khusus.
Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan mengenai kerikil yang dilempar jamaah haji di jamarat:
"مَا يُقْبَلُ مِنْهُ رُفِعَ، وَمَا لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ تُرِكَ"
"Yang diterima darinya diangkat, dan yang tidak diterima ditinggal." (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih seperti dituturkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam at-Talkhish al-Habir)
Mendoakan Jemaah Haji yang Pulang
Saat jemaah haji Indonesia mulai kembali ke tanah air, umat muslim dianjurkan untuk mendatangi dan bersilaturahmi guna meminta doa serta ampunan.
Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"اللهم اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ (رواه البيهقي وصححه الحاكم)"
"Ya Allah, ampunilah dosa orang yang haji dan orang yang dimintakan ampunan dosa baginya oleh orang yang berhaji." (HR al-Baihaqi dan dinilai shahih oleh al-Hakim)
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.