Umat Islam diingatkan untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjauhi segala larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya secara maksimal. Seperti dikutip dari Cahaya, proses menjadi hamba terbaik ini selaras dengan firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa orang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa.
Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam mengajarkan kasih sayang kepada sesama makhluk, termasuk manusia, hewan, dan lingkungan. Salah satu manifestasi kasih sayang tersebut adalah melalui tutur kata yang baik yang dapat meninggikan derajat seseorang baik di hadapan Sang Pencipta maupun manusia lainnya.
Allah SWT secara eksplisit memerintahkan hambanya untuk mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama manusia melalui Surat al-Baqarah ayat 83:
قُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
"Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia."
Selain itu, karakter penghuni surga digambarkan sebagai mereka yang mendapatkan petunjuk untuk mengucapkan ucapan yang baik selama di dunia. Hal ini ditegaskan dalam Surat Al-Hajj ayat 24 yang menyebutkan bahwa mereka ditunjuki kepada ucapan yang baik dan jalan Allah yang terpuji.
Kewajiban menjaga lisan ini berlaku universal, baik kepada sesama muslim maupun non-muslim. Dalam Surat Al-Isra' ayat 53, Allah memperingatkan bahwa setan selalu berusaha menimbulkan perselisihan melalui ucapan manusia yang tidak terjaga.
Anjuran Diam dan Menjaga Perasaan
Jika seseorang tidak mampu menyampaikan kebaikan melalui ucapannya, maka lebih baik memilih untuk diam guna menghindari luka di hati orang lain. Rasulullah SAW memberikan pesan penting mengenai korelasi iman dengan lisan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam." (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Ucapan yang tidak terkontrol berisiko menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat dan merusak hubungan harmonis yang sudah terjalin. Penyakit hati dapat muncul baik bagi orang yang berbicara maupun yang mendengar jika lisan tidak disaring dengan bijak.
Kiat Terhindar dari Api Neraka
Imam al-Nawawi memberikan panduan bagi siapa saja yang ingin berbicara agar memikirkan terlebih dahulu dampak ucapannya. Jika ucapan tersebut mengandung maslahat atau manfaat, maka dipersilakan untuk berbicara, namun jika tidak, menahan diri adalah pilihan terbaik.
Nabi Muhammad SAW sangat peduli agar umatnya terbebas dari api neraka. Salah satu kiat yang diajarkan beliau adalah dengan bersedekah tutur kata yang baik apabila tidak memiliki harta untuk disedekahkan.
"Jauhilah neraka meski dengan [bersedekah] sepotong kurma, jika tidak melakukannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan tutur kata yang baik." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).
Pribadi yang beriman sejati dicirikan dengan lisan yang bersih dari celaan dan kutukan terhadap sesama. Melalui nasihat ini, umat diharapkan mampu menjadi pribadi yang santun dalam bertutur kata guna meraih kemuliaan di akhirat kelak.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم