Di lantai 3 Gedung Harco Pasar Baru, Jakarta Pusat, suasana berbeda terasa di antara deretan kios elektronik dan toko aksesori. Di salah satu sudut lorong, deretan uang kertas lawas tersusun rapi dalam plastik pelindung transparan. Warna-warna pudar dari pecahan rupiah lama memenuhi dinding kios kecil itu. Ada uang bergambar Presiden Pertama RI Soekarno, pecahan era Orde Baru, hingga mata uang pendudukan Jepang yang pernah digunakan di Indonesia.
Di etalase kaca, koin-koin logam tua disusun dalam bingkai koleksi. Sebagian terlihat kusam dimakan usia, sebagian lain masih tampak mengilap dengan detail angka dan lambang negara yang jelas. Di tengah derasnya transaksi digital dan pembayaran nontunai online, kios-kios uang kuno di Pasar Baru justru menghadirkan ruang nostalgia bagi para pengunjung.
Lapak pedagang ini menawarkan beragam jenis mata uang lama, mulai dari koin recehan hingga uang kertas yang sudah langka di Pasar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026). Bukan sekadar tempat jual beli koleksi, lapak-lapak itu menjadi ruang kecil tempat orang mengenang masa lalu lewat lembar rupiah yang pernah beredar puluhan tahun lalu.
Nana (45), salah satu pedagang uang kuno di lantai 3 Gedung Harco Pasar Baru, sudah menjalani usaha itu sejak 2010. Di kios berukuran kecil miliknya, album bertuliskan “Money Collection” tersusun di atas meja. Setiap halaman album berisi uang rupiah lama dari berbagai periode. Mulai dari emisi tahun 1958, pecahan era Orde Baru, hingga uang pendudukan Jepang yang pernah digunakan di Indonesia.
"Kalau di sini yang paling lama ada tahun 1958," ujar Nana, pedagang uang kuno.
Menurut dia, sebenarnya ada koleksi yang lebih tua lagi, termasuk uang tahun 1938 peninggalan masa kolonial. Namun barang-barang langka seperti itu tidak selalu tersedia.
"Kalau yang tahun 1938 sekarang lagi kosong. Barangnya susah dicari," kata Nana, pedagang uang kuno.
Magnet Nostalgia dan Keunikan Mahar
Bagi Nana, uang kuno bukan sekadar barang koleksi. Banyak pembeli datang karena ingin mengenang masa kecil mereka lewat desain uang lama yang sudah tidak beredar. Tren itu membuat pembeli uang kuno datang dari berbagai usia. Tidak hanya kolektor senior, tetapi juga anak muda yang tertarik dengan desain vintage atau mencari barang unik untuk pajangan.
"Banyak juga yang beli buat mahar pernikahan," kata Nana, pedagang uang kuno.
Menurut dia, uang kuno kini sering dijadikan hantaran atau dekorasi karena dianggap memiliki nilai estetika dan simbolis.
"Orang sekarang pengennya yang unik dan beda dari yang lain," ujar Nana, pedagang uang kuno.
Harga uang yang dijual di kios Nana pun beragam. Ada yang hanya Rp 5.000 untuk uang keluaran 1990-an, ada pula pecahan tertentu yang nilainya mencapai ratusan ribu rupiah.
"Kalau uang Soeharto yang plastik bisa sampai Rp 100.000," kata Nana, pedagang uang kuno.
Nana mengatakan kondisi fisik uang sangat menentukan harga. Semakin mulus dan semakin langka emisinya, nilai jualnya bisa meningkat berkali-kali lipat. Namun, di balik bisnis koleksi itu, ada relasi sosial yang kuat antar-pedagang dan kolektor.
"Di bisnis begini kepercayaan penting," ujar Nana, pedagang uang kuno.
Ia mengaku banyak transaksi dilakukan antarsesama kolektor yang sudah saling mengenal. Sebagian barang bahkan berpindah tangan lewat sistem online atau titip jual. Meski begitu, risiko penipuan tetap ada.
"Pernah ada yang minta barang dikirim dulu karena sudah sering belanja, habis itu hilang," kata Nana, pedagang uang kuno.
Evolusi Digital dalam Perburuan Fisik
Tak jauh dari kios Nana, Aryo (40) menjaga toko koleksi uang kuno miliknya yang juga dipenuhi uang dari berbagai negara. Dinding kiosnya dipenuhi lembar uang asing dan rupiah lama yang disusun rapi dalam bingkai plastik. Di salah satu sudut etalase, terdapat set koin “Republik Indonesia 1945–2016” yang dipajang khusus. Aryo mengaku sudah sekitar 15 tahun berjualan uang kuno.
"Kalau saya campur-campur. Enggak fokus ke uang Indonesia saja," ujar Aryo, pemilik toko koleksi uang kuno.
Selain rupiah lama, ia juga menjual mata uang asing, medali koleksi, hingga prangko luar negeri. Menurut Aryo, perkembangan teknologi ikut mengubah cara perdagangan uang kuno berlangsung. Kini banyak transaksi dilakukan secara online.
"Sekarang zamannya digital. Orang lihat dulu dari foto," kata Aryo, pemilik toko koleksi uang kuno.
Karena itu, sertifikat koleksi menjadi penting untuk meningkatkan kepercayaan pembeli. Di kios Aryo, beberapa uang lama telah dikemas dalam plastik sertifikasi lengkap dengan angka penilaian kondisi fisik.
"Semakin tinggi nilainya, biasanya makin mahal," ucap Aryo, pemilik toko koleksi uang kuno.
Aryo mengatakan banyak kolektor kini mencari uang dengan nomor seri unik atau kondisi yang masih sangat bagus. Salah satu koleksi yang pernah dijualnya bahkan mencapai Rp 4,5 juta karena memiliki nomor seri tertentu. Meski bisnis koleksi kini semakin modern, Aryo menilai sensasi berburu uang kuno tetap tidak tergantikan.
"Kalau datang langsung lebih seru," tutur Aryo, pemilik toko koleksi uang kuno.
Ia mengatakan banyak pengunjung datang bukan hanya untuk membeli, tetapi juga melihat-lihat sambil bernostalgia. Ada yang mencari uang masa kecilnya, ada pula yang penasaran melihat desain uang Indonesia era lama. Menurut Aryo, minat anak muda terhadap uang kuno juga cukup besar dalam beberapa tahun terakhir.
"Hobi enggak nyangkut usia," kata Aryo, pemilik toko koleksi uang kuno.
Menjaga Potongan Sejarah Bangsa
Bagi Rendy Prakoso (34), uang kuno menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada nominal yang tercetak di atasnya. Kolektor uang kuno itu mulai tertarik mengoleksi sejak sekitar 2012 setelah melihat simpanan uang lama milik kakeknya di rumah.
"Awalnya cuma suka desainnya," ujar Rendy Prakoso, kolektor uang kuno.
Lama-kelamaan, hobinya berkembang menjadi aktivitas berburu koleksi dari berbagai periode Indonesia. Kini ia memiliki ratusan koleksi uang kertas dan koin lama, mulai dari era 1950-an hingga 1990-an. Menurut Rendy, daya tarik uang lama terletak pada desain dan cerita sejarah yang melekat di dalamnya.
"Indonesia pernah punya uang model begini. Gambarnya beda-beda, warnanya juga khas," kata Rendy Prakoso, kolektor uang kuno.
Ia mengaku sering datang ke komunitas dan acara numismatik untuk bertemu sesama penghobi.
"Kadang kalau ada uang yang lagi dicari, teman-teman kolektor suka kasih info," ujar Rendy Prakoso, kolektor uang kuno.
Bagi Rendy, aktivitas mengoleksi uang kuno juga menghadirkan rasa nostalgia yang sulit dijelaskan. Ia merasa seolah sedang melihat kembali potongan sejarah Indonesia lewat lembar uang yang pernah digunakan masyarakat puluhan tahun lalu.
"Bukan cuma soal nominal, tetapi cerita zamannya juga," kata Rendy Prakoso, kolektor uang kuno.
Meski kini pembayaran digital semakin dominan, Rendy yakin uang fisik lama akan tetap memiliki tempat tersendiri di hati kolektor.
"Karena uang itu bagian dari perjalanan sejarah Indonesia," ujar Rendy Prakoso, kolektor uang kuno.
Perspektif Psikologi dan Ekonomi Koleksi
Psikolog Talissa Carmelia mengatakan ketertarikan orang terhadap uang kuno sering kali dipengaruhi historical nostalgia atau nostalgia terhadap masa lalu. Menurut Talissa, seseorang bisa memiliki keterikatan emosional dengan suatu periode sejarah meski tidak pernah hidup di zaman tersebut.
"Barang itu punya nilai emosional bagi kolektor," kata Talissa Carmelia, Psikolog.
Ia menjelaskan uang kuno dapat menjadi representasi dari masa lalu yang ingin dikenang atau dipelajari seseorang. Selain itu, proses berburu dan menemukan barang langka juga memberikan kepuasan psikologis tersendiri.
"Muncul rasa bangga dan puas saat berhasil menemukan barang tersebut," ujar Talissa Carmelia, Psikolog.
Talissa menilai banyak kolektor juga merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga benda-benda bersejarah.
"Ada keinginan menjaga sejarah atau peninggalan masa tersebut," kata Talissa Carmelia, Psikolog.
Menurut dia, aktivitas mengoleksi juga bisa memberikan rasa aman dan stabilitas emosional di tengah perubahan zaman yang cepat.
"Mengoleksi bisa menjadi salah satu cara memberikan rasa aman dan stabilitas," kata Talissa Carmelia, Psikolog.
Dari sisi ekonomi, M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, menjelaskan bahwa uang kuno memiliki nilai ekonomi karena unsur collectible value.
"Secara ekonomi, uang kuno memang sudah tidak memiliki fungsi sebagai alat pembayaran yang sah, tetapi tetap memiliki nilai ekonomi karena unsur kelangkaan, sejarah, dan collectible value," kata M Rizal Taufikurahman, Pengamat Ekonomi.
Ia menjelaskan, di sejumlah platform lelang internasional, uang kuno tertentu dapat dihargai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Nilai itu muncul karena jumlahnya terbatas, sementara permintaan kolektor terus meningkat.
"Nilainya bukan lagi berasal dari nominal uangnya, tetapi dari scarcity dan historical premium yang dibentuk pasar," ujar M Rizal Taufikurahman, Pengamat Ekonomi.
Menurut Rizal, perbedaan harga uang kuno di pasaran sangat ditentukan oleh berbagai faktor, mulai dari kelangkaan hingga kondisi fisik. Dalam perspektif ekonomi koleksi, mekanismenya berjalan seperti hukum permintaan dan penawaran dengan suplai yang sangat terbatas.
"Semakin terbatas suplai sementara permintaan kolektor meningkat, maka valuasinya bisa melonjak sangat tinggi meskipun nilai nominal aslinya kecil," kata M Rizal Taufikurahman, Pengamat Ekonomi.
Rizal menilai pasar uang kuno dapat dikategorikan sebagai bagian dari alternative asset market yang didorong faktor psikologis.
"Polanya mirip seperti pasar karya seni, jam mewah, atau barang antik. Transaksi lebih banyak didorong faktor psikologis,eksklusivitas, dan prestise," ujar M Rizal Taufikurahman, Pengamat Ekonomi.
Simbol Budaya dalam Masyarakat Modern
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai pasar numismatik tidak hanya menjadi ruang transaksi ekonomi, tetapi juga ruang sosial. Menurutnya, pedagang dan kolektor membangun identitas dan solidaritas melalui interaksi rutin.
"Pasar numismatik menjadi arena di mana seseorang memperoleh identitas sosial sebagai kolektor, ahli, atau pemburu sejarah," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Ia menjelaskan bahwa pergeseran nilai uang kuno dari alat tukar menjadi simbol nostalgia adalah sebuah konstruksi sosial. Di era digital, koleksi ini menjadi cara mengapresiasi sejarah sekaligus membangun identitas unik.
"Uang kuno bukan kehilangan relevansi, melainkan berubah fungsi menjadi simbol budaya dan media refleksi historis masyarakat," tutur Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.