Ada getaran yang terasa sangat istimewa ketika ratusan pita suara mengeluarkan nada dengan frekuensi yang sama. Jumat sore itu, di pelataran Sarinah, bukan kesempurnaan teknik paduan suara yang ditemukan, melainkan kehangatan dari suara-suara yang tercipta. Nyanyi Bareng Jakarta (NBJ) berhasil menyembuhkan rasa lelah para pesertanya layaknya sebuah rumah yang nyaman di tengah hiruk-pikuk kota.
Pukul lima sore di jantung Jakarta adalah waktu di mana ribuan kepala menyimpan lelah yang serupa. Langkah kaki keluar dari kantor dengan ritme kesibukan yang masih berputar di kepala. Di lokasi acara, tak ada kursi tersisa sehingga banyak peserta terpaksa berdiri di pinggiran, terjepit di antara bahu-bahu asing yang mengenakan baju maroon—seragam identitas bagi "warga" Nyanyi Bareng Jakarta. Sebagai penampil pembuka, tim NBJ naik ke atas panggung disambut oleh ledakan antusiasme dan sorakan suka cita yang memecah ketegangan sore.
Belajar Mendengar, Bukan Menghafal
Lagu "Senja Teduh Pelita" mulai mengalun saat para pemandu dari NBJ naik ke atas panggung dengan senyum terbuka dan suara merdu. Seketika atmosfer berubah. Dalam hitungan detik, massa yang awalnya hanya penonton pasif bersatu menyanyikan nada yang padu. Di tangan sang pendiri, Meda Kawu, musik menjadi urusan yang jauh lebih membumi tanpa perlu disiplin tinggi atau notasi balok yang mengintimidasi.
"Aku selalu bilang ke para fasilitator, bersuara saja," ungkap Meda, Founder Nyanyi Bareng Jakarta.
Baginya, identitas suara seseorang tidak melulu soal jangkauan nada, tapi soal karakter atau warna suara. Pendekatan ini mampu membelah ratusan orang asing menjadi barisan sopran, alto, tenor, dan bass dalam waktu singkat. Sarinah mendadak kedatangan kelompok paduan suara dari berbagai penjuru, bahkan ada yang rela datang dari luar kota demi ikut bersuara.
Sistemnya cukup sederhana dengan membagi ratusan orang menjadi tiga kelompok suara. Suara A untuk nada paling rendah di sisi kiri panggung, Suara B sebagai suara tengah, dan Suara C untuk nada paling tinggi di sisi kanan. Melalui teknik pecah suara yang praktis ini, partisipan yang hadir mampu menciptakan harmoni yang indah secara spontan.
Penawar Lelah Kaum Profesional
Di balik keriuhan nada itu, ada alasan kuat mengapa komunitas ini tumbuh begitu organik. Salah satu pendiri lainnya melihat fenomena ini sebagai pemenuhan akan kebutuhan ruang ketiga bagi masyarakat urban yang terjepit antara urusan domestik dan pekerjaan.
"Orang-orang itu nggak cuma butuh first space, yaitu rumah, nggak cuma butuh second space, yaitu kantor. Tapi mereka butuh third space buat cari tahu tempat di mana mereka bisa terhubung lewat interest yang sama," jelas Gladys Santoso, Founder Nyanyi Bareng Jakarta.
Uniknya, mayoritas peserta bukanlah mereka yang bekerja di industri hiburan. Peserta justru didominasi oleh para profesional seperti dokter, pengacara, hingga staf HRD. Mereka adalah individu-individu yang setiap harinya dituntut tampil sempurna secara profesional, namun menyimpan penat yang butuh disalurkan melalui getaran suara.
Bermula dari Paksaan Menuju Antrean Panjang
Semua berawal pada April 2025 di sebuah studio di kawasan Melawai. Meda mengenang bagaimana ia harus sedikit memberikan dorongan kepada kawan-kawannya agar mau hadir pada pertemuan perdana yang hanya diikuti oleh 60 orang.
“Waktu itu yang ikut baru 60 orang. 70 persen dari 60 orang itu adalah teman-teman kami yang kami undang. Bukan cuma diundang tapi dipaksa dikit,” ujar Meda, Founder Nyanyi Bareng Jakarta.
Dorongan kecil itu berubah menjadi ledakan rasa penasaran ketika dokumentasi kegiatan diunggah ke media sosial. Tiba-tiba saja, Jakarta terasa seperti kota yang haus akan koneksi untuk bernyanyi bersama. Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, antrean tiket di aplikasi mulai mengular.
"Sebesar itu niat orang untuk menemukan sebuah singing club," ujar Gladys Santoso, Founder Nyanyi Bareng Jakarta.
Di komunitas ini, tidak ada kurasi vokal yang kaku karena mereka menjunjung prinsip zona tanpa penghakiman. Hasilnya mengesankan dengan terkumpulnya orang dari lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga lansia yang menggunakan kursi roda. Banyak anak muda yang bahkan rela berebut tiket demi mengajak orang tua mereka bernyanyi.
Koneksi di Balik Setiap Nada
Kegiatan rutin NBJ biasanya berlangsung selama tiga jam yang terbagi ke dalam tiga sesi utama: Temukan Teman, Temukan Suara, dan yang paling esensial adalah Temukan Rasa. Hal inilah yang membedakan mereka dari sekadar sesi karaoke massal biasa.
"Di situ koneksi muncul, berasa nyaman, dan berasa terhubung... beban tuh bisa bareng-bareng diangkat. Itulah definisi rumah buat kita," ungkap Gladys Santoso, Founder Nyanyi Bareng Jakarta.
Bagi para pendiri, momen paling berkesan adalah saat terjadi pertukaran energi antara penampil dan peserta. Ada kisah tentang perantau hingga mereka yang memiliki isu kesehatan mental yang akhirnya berani bersosialisasi karena menemukan keluarga baru di komunitas ini.
"Aku mau buktikan bahwa semua orang yang bisa ngomong, pasti bisa nyanyi. Makanya terbentuklah Nyanyi Bareng Jakarta," tegas Meda Kawu, Founder Nyanyi Bareng Jakarta.
Meda merasa setiap momen sangat berarti karena sinergi yang tercipta memberikan dampak positif bagi kesehatan mental para anggotanya.
“Buat aku semua momen NBJ sangat berarti karena pertukaran energi tadi yang akhirnya menjadi sinergi buat semua orang. Dan senangnya gak cuma buat aku ternyata, tapi buat orang-orang yang laporan, ‘kak makasih udah bikin NBJ’,” tambah Meda Kawu, Founder Nyanyi Bareng Jakarta.
Setiap lagu yang dibawakan dikemas dengan versi khusus yang menekankan pada rasa. Sebelum bernyanyi, seringkali ada sesi berbagi cerita yang membuat setiap bait lagu menjadi lebih bermakna bagi setiap individu yang menyuarakannya.
“Kita punya sesi temukan rasa. Kita gak cuma nyanyi bagusan-bagusan, tapi we sing dengan rasa. Misalkan lagunya kemarin sama The Lantis, Bunga Maaf. Promnya adalah ‘kata maaf kepada siapa sih yang belum sempat kamu utarakan?’ Nah jadi mereka tulis, kemudian nanti pas sesi itu kita pilih beberapa untuk dibacakan atau orangnya sharing sendiri,” ujar Gladys Santoso, Founder Nyanyi Bareng Jakarta.
Menuju Klimaks Perjalanan
Saat ini para pendiri merasa perjalanan komunitas mereka baru memasuki tahap awal, seperti bagian jembatan nada sebelum mencapai puncak lagu. Banyak kejutan dan aransemen baru yang sedang dipersiapkan untuk masa depan, termasuk merambah ke minat lain di luar harmonisasi suara.
“Semoga semakin banyak orang yang bisa mendapatkan obat paling ringan, yaitu hati yang gembira. Nggak cuma berkumpul lewat nyanyi, tapi berkumpul lewat interest-interest lainnya juga,” harap Gladys Santoso, Founder Nyanyi Bareng Jakarta.
Ketika harmonisasi terakhir memudar di udara Jakarta malam itu, terasa bagaimana sebuah kota yang sibuk dan dingin bisa mendadak hangat hanya karena orang-orangnya sepakat untuk bernyanyi bersama. Jakarta sore itu pun terdengar jauh lebih merdu bagi siapa saja yang bersedia membuka suara mereka.