Pakar kecerdasan buatan dari University of California, Berkeley, Stuart Russell, mengkritik pengembangan Artificial General Intelligence (AGI) oleh OpenAI dan Elon Musk yang dinilai tidak terkendali pada Selasa (5/5/2026). Russell menyampaikan kesaksian tersebut dalam persidangan di hadapan Hakim Yvonne Gonzalez Rogers sebagaimana dilansir dari Teknologi.
Kritik tersebut menyoroti adanya ketegangan antara ambisi pencapaian AGI dengan protokol keamanan yang seharusnya diterapkan. Russell menjelaskan bahwa industri AI saat ini memiliki sifat yang cenderung memicu dominasi pasar secara tidak sehat oleh pihak tertentu.
"Ada berbagai risiko yang terkait dengan pengembangan AI, mulai dari ancaman siber hingga dominasi pasar yang tidak sehat," ujar Russell, Pakar AI University of California, Berkeley.
Penjelasan teknis tersebut diberikan Russell kepada juri untuk menggambarkan risiko dari perlombaan senjata antar-laboratorium AI. Ia sebelumnya merupakan salah satu tokoh yang menandatangani petisi penundaan riset AI pada tahun 2023 karena kekhawatiran serupa.
Di sisi lain, pengacara OpenAI melakukan pemeriksaan silang untuk mempertanyakan objektivitas Russell terhadap kebijakan internal perusahaan. Pihak OpenAI menegaskan bahwa perubahan model bisnis menjadi profit diperlukan demi menutup biaya operasional komputasi yang sangat masif.
Persidangan ini juga mengungkap fakta mengenai arah bisnis Tesla Inc yang disampaikan langsung oleh Elon Musk. Musk memberikan klarifikasi mengenai spekulasi keterlibatan perusahaan otomotif tersebut dalam pengembangan kecerdasan buatan tingkat lanjut.
"Tesla tidak memiliki rencana untuk mengejar AGI," kata Musk, CEO Tesla Inc.
Pernyataan ini mengundang tanda tanya besar bagi para investor global mengingat Tesla telah mengalokasikan modal sebesar US$25 miliar atau sekitar Rp433 triliun pada 2026. Sebagian besar dana tersebut sebelumnya disebut akan digunakan untuk berbagai proyek pengembangan berbasis kecerdasan buatan.
Selain masalah strategi Tesla, Musk mengakui bahwa perusahaan xAI miliknya menerapkan teknik distilasi untuk melatih model AI. Praktik ini melibatkan penggunaan model AI yang lebih kuat milik kompetitor untuk melatih model yang lebih kecil.
Meskipun Musk sebelumnya sering melontarkan kritik terhadap perusahaan seperti Anthropic terkait pengambilan data, ia kini membela tindakan perusahaannya. Di depan pengadilan, ia memberikan pembelaan mengenai standar operasional yang berlaku di industri teknologi saat ini.
Persidangan terus berlanjut dengan fokus utama pada dampak ambisi korporasi terhadap pengabaian protokol keamanan AI. Kasus ini diprediksi akan menjadi landasan hukum penting bagi regulasi tata kelola kecerdasan buatan di masa depan.