Museum Nasional Indonesia menyelenggarakan pameran seni ukir Nusantara bertajuk Tatah sejak 30 April hingga 5 Juli 2026. Eksibisi ini mengusung narasi "Suluk–Sulur–Jepara" untuk memperlihatkan perjalanan panjang tradisi ukir sekaligus memperkuat posisi industri kreatif Jepara sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
Penyelenggaraan acara ini melibatkan kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Jepara, HIMKI Jepara Raya, dan Rumah Kartini. Fokus utama kegiatan adalah menempatkan seni ukir sebagai identitas bangsa yang harus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, memberikan penekanan bahwa karya ukir merupakan bagian integral dari karakter budaya Indonesia. Beliau memandang inovasi sebagai kunci utama untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini di masa depan.
"Pameran ini juga menjadi ruang apresiasi dan edukasi yang memperlihatkan bagaimana nilai budaya terus hidup dalam karya, sekaligus membuka peluang pengembangan ke depan," ujarnya Fadli Zon, Menteri Kebudayaan.
Selain aspek estetika, pelestarian seni pahat tersebut diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata. Fadli Zon menyoroti pentingnya kesejahteraan bagi para pengrajin dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.
"Warisan budaya perlu dimanfaatkan sebagai kekuatan ekonomi, yang mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya Fadli Zon, Menteri Kebudayaan.
Direktur Pelaksana pameran Tatah, Veronica Rompies, menjelaskan bahwa kegiatan ini melampaui sekadar pameran produk kriya biasa. Ia menilai ukiran Jepara sebagai karya seni tinggi yang memiliki kedalaman sejarah serta nilai kemanusiaan bagi masyarakat.
"Pameran ini mempertemukan nilai sejarah, keterampilan, dan kemanusiaan dalam setiap karya yang ditampilkan," ungkapnya Veronica Rompies, Direktur Pelaksana pameran Tatah.
Lebih dari 30 karya ukir khas dipajang dalam pameran ini, termasuk benda ikonik seperti Macan Kurung dan Kursi Kartini. Koleksi yang ditampilkan tidak hanya mengejar keindahan visual, tetapi juga membawa pesan filosofis yang mendalam bagi pengunjung.
Pengelola pameran juga menyediakan pengalaman imersif melalui rekonstruksi ruang kerja pengukir atau brak. Fasilitas ini memungkinkan pengunjung melihat langsung alat dan teknik tradisional yang digunakan dalam proses pemahatan kayu secara autentik.
Seluruh narasi pameran disusun berdasarkan riset sejarah yang kuat untuk menelusuri evolusi seni tersebut. Pendekatan ini bertujuan menghubungkan karya seni dengan konteks sosial yang membentuk perkembangan ukiran Jepara dari masa ke masa.