Bulan Zulhijah menjadi salah satu momen mulia dalam kalender Islam yang patut diisi dengan berbagai amal saleh. Umat Islam sangat dianjurkan untuk menunaikan puasa sunnah pada sembilan hari pertama bulan tersebut.
Ibadah puasa ini tidak hanya terbatas pada hari Arafah saja, melainkan dituntunkan sejak tanggal 1 hingga 9 Zulhijah. Sebelum mengamalkannya, penting untuk memahami niat, dalil, tata cara, serta keutamaannya agar ibadah berjalan dengan benar, seperti dilansir dari Cahaya.
Niat puasa Zulhijah merupakan sebuah ketetapan dan tekad di dalam hati untuk melaksanakan puasa sunnah karena Allah SWT. Kehadiran niat menjadi penentu arah sekaligus tujuan dari setiap amal perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.
"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR Bukhari dan Muslim)
Melalui landasan hadis tersebut, niat berperan penting sebagai pembeda utama antara aktivitas biasa dengan ibadah yang bernilai pahala di sisi Allah SWT.
Dalil Puasa 1-9 Zulhijah
Melaksanakan puasa pada awal bulan Zulhijah memiliki landasan yang kuat karena termasuk dalam kategori amal saleh yang amat dicintai oleh Allah SWT.
"Tidak ada amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah daripada amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Zulhijah." (HR Bukhari)
Rutinitas berpuasa ini juga diperkuat oleh riwayat yang menceritakan mengenai kebiasaan Rasulullah SAW dalam memanfaatkan momentum sembilan hari pertama Zulhijah.
“Dari Hunaidah ibn Khalid, dari istrinya, dari salah seorang istri Nabi saw (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Rasulullah saw melakukan puasa pada sembilan hari bulan Zulhijah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan, dan hari Senin dan Kamis pertama setiap bulan [HR Ahmad dan Abu Dawud)."
Keterangan dari Hunaidah tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW terbiasa berpuasa pada periode tersebut. Dengan demikian, pelaksanaan puasa sunnah ini mencakup rentang waktu dari tanggal 1 sampai 9 Zulhijah.
Puasa Arafah Sudah Dikenal Para Sahabat
Di antara seluruh rangkaian puasa sunnah di bulan Zulhijah, puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah menempati kedudukan yang sangat istimewa. Kebiasaan puasa ini bahkan sudah menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan para sahabat Nabi.
“Dari Maimunah istri Nabi saw (diriwayatkan) bahwa ia berkata: Orang-orang saling berdebat apakah Nabi saw berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (Wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Peristiwa serupa mengenai kepastian puasa Rasulullah SAW saat melaksanakan wukuf juga disampaikan dalam riwayat dari Ummu al-Fadl binti al-Haris.
“Dari Ummu al-Fadl binti al-Haris (diriwayatkan) bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi saw, sebagian mereka mengatakan: Beliau berpuasa. Sebagian lainnya mengatakan: Beliau tidak berpuasa. Lalu Ummu al-Fadl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya”(HR al-Bukhari dan Muslim).
Melalui dua catatan hadis di atas, terlihat jelas bahwa para sahabat telah memahami keberadaan puasa Arafah sebelum momen haji wadak bersama Rasulullah SAW. Diskusi muncul semata-mata untuk memastikan status puasa Nabi SAW sewaktu wukuf.
Bacaan Niat Puasa Zulhijah
Pada dasarnya, lintasan niat di dalam hati sudah dianggap sah untuk menjalankan ibadah ini. Namun, pelafalan secara lisan sering dilakukan oleh sebagian umat Muslim untuk membantu memantapkan kekhusyukan.
Nawaitu shauma syahri dzilhijjati sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: “Saya berniat puasa sunnah Zulhijah karena Allah Ta'ala.”
Bagi umat Islam yang berniat mengamalkannya pada keesokan hari, redakah berikut dapat menjadi pilihan:
Saya berniat puasa sunnah Zulhijah esok hari karena Allah Ta'ala.
Berbeda dengan puasa wajib Ramadhan yang mengharuskan niat sebelum fajar, niat puasa sunnah Zulhijah boleh diucapkan pada malam hari maupun pagi hari menjelang zuhur, selama belum ada hal yang membatalkan.
Tata Cara Puasa Zulhijah
Mekanisme pelaksanaan puasa Zulhijah mengacu pada aturan puasa sunnah pada umumnya. Umat Islam memulainya dengan memantapkan niat, lalu menahan diri dari segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.
Makan sahur tetap bernilai berkah dan sangat dianjurkan untuk dilakukan walaupun ibadah ini berstatus sunnah.
"Bersahurlah kalian, karena di dalam sahur terdapat keberkahan." (HR Bukhari dan Muslim)
Selama menjalani ibadah puasa, setiap Muslim juga diimbau untuk menjaga pikiran, ucapan, serta perbuatan agar pahala yang didapatkan tidak berkurang.
Pilihan puasa pada rentang tanggal 1-9 Zulhijah ini dapat dipadukan dengan puasa sunnah reguler lainnya, seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Dawud.
Keutamaan Puasa Zulhijah
Keagungan puasa Zulhijah terletak pada pemanfaatan waktu-waktu yang disucikan dan dimuliakan dalam ajaran Islam. Setiap amal saleh yang dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan ini memperoleh tempat istimewa di sisi Allah SWT.
Selain berfungsi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Pencipta, puasa ini melatih keikhlasan, kesabaran, rasa syukur, serta manajemen emosi.
Secara khusus, puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah menjanjikan keutamaan berupa penghapusan dosa yang telah lalu dan setahun yang akan datang.
Penghapusan dosa selama dua tahun tersebut dapat diraih sepenuhnya jika ibadah ditunaikan secara tulus dan diiringi dengan peningkatan amal kebajikan lainnya.
Amalan yang Dianjurkan Saat Zulhijah
Umat Islam tidak hanya terpaku pada ibadah puasa saja, melainkan juga dianjurkan menghidupkan awal Zulhijah dengan aneka ragam kebaikan. Beberapa amalan tersebut meliputi membaca Al-Qur'an, memperbanyak zikir, bersedekah, memanjatkan doa, serta merawat hubungan baik antar sesama manusia.
Menjaga lisan dan perilaku dari perbuatan sia-sia akan membuat esensi ibadah menjadi lebih mendalam. Puasa Zulhijah sejatinya melatih kualitas spiritual diri, bukan sekadar menahan lapar.
Pentingnya Meluruskan Niat
Keabsahan dan nilai pahala dari puasa Zulhijah bertumpu pada ketulusan niat. Niat yang bersih karena Allah SWT akan mengubah aktivitas menahan haus dan lapar menjadi sebuah bentuk penghambaan yang bernilai tinggi.
Penguasaan terhadap bacaan niat, pemahaman dalil, kepatuhan tata cara, serta penghayatan keutamaan akan membantu umat Islam dalam mengoptimalkan momentum emas di bulan mulia ini.