CEO Nvidia Jensen Huang mengungkapkan bahwa dominasi pasar perusahaannya di China telah berakhir dengan angka pangsa pasar yang menyentuh nol persen pada akhir April 2026. Penurunan drastis ini dipicu oleh kebijakan kontrol ekspor pemerintah Amerika Serikat yang sangat ketat terhadap teknologi kecerdasan buatan.
Kondisi tersebut merupakan perubahan besar mengingat Nvidia sebelumnya menguasai hampir seluruh pasar perangkat keras pendukung kecerdasan buatan di Negeri Tirai Bambu. Dilansir dari Tekno, kegagalan Nvidia mempertahankan pasar memberikan ruang bagi produsen lokal China untuk mengambil alih posisi tersebut.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Jensen Huang dalam sesi wawancara program Memos to the President. Ia membandingkan posisi masa lalu Nvidia dengan situasi sulit yang dihadapi perusahaan saat ini di pasar internasional tersebut.
"Nvidia sebelumnya memiliki, sebut saja, sekitar 90-an persen pangsa pasar di sana," ungkap Huang dalam wawancara tersebut.
Pernyataan tersebut merujuk pada masa keemasan Nvidia sebelum adanya pembatasan perdagangan yang signifikan. Namun, situasi tersebut kini telah berubah total sesuai dengan data terbaru yang dimiliki perusahaan.
"Namun hari ini, di China, pangsa pasar kami kini telah turun menjadi nol," ungkap Huang.
Meski bisnisnya terdampak secara finansial, pimpinan perusahaan raksasa chip tersebut menyatakan dukungannya terhadap kebijakan keamanan nasional Amerika Serikat. Ia menegaskan persetujuannya agar China tetap dibatasi dalam mendapatkan akses ke arsitektur pemrosesan data terbaru.
Huang juga secara khusus melarang pengiriman produk terbaru Nvidia yang paling bertenaga ke wilayah China. Ia menekankan pentingnya bagi Amerika Serikat untuk mempertahankan keunggulan teknologi di atas negara lain dalam persaingan global.
"Amerika Serikat harus memiliki yang pertama, yang terbanyak, dan yang terbaik," tegas Huang.
Penegasan tersebut mencakup kepemilikan perangkat keras paling mutakhir agar supremasi teknologi tetap berada di tangan Washington. Walaupun mendukung pembatasan, ia juga meminta pemerintah tetap memberikan ruang bagi perusahaan AS untuk berkompetisi di luar produk-produk yang dilarang.
Sebelumnya pada Maret lalu, Nvidia sempat melaporkan adanya pesanan dari pelanggan China untuk chip seri H200 yang kemampuannya telah disesuaikan agar lolos aturan. Namun, laporan terbaru dari Tom's Hardware menunjukkan bahwa manuver agresif produsen chip lokal China telah mengubah peta persaingan secara permanen.