Startup teknologi Panthalassa berencana memindahkan sebagian infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dari daratan ke laut dalam dengan membangun pusat data mandiri. Perusahaan ini merancang sistem komputasi lepas pantai yang sepenuhnya beroperasi menggunakan tenaga ombak dan pendingin air laut alami pada Rabu, 6 Mei 2026.
Dilansir dari Detik iNET, ambisi tersebut mendapat dukungan finansial signifikan melalui pendanaan Seri B sebesar USD 140 juta atau setara Rp 2,2 triliun. Suntikan modal ini akan digunakan untuk mentransformasi prototipe perangkat keras menjadi unit komersial perdana yang mampu menjalankan chip AI tanpa koneksi jaringan listrik darat.
Infrastruktur yang dikembangkan berupa platform otonom bernama nodes yang berbentuk struktur baja tinggi dengan posisi sebagian besar terendam di bawah permukaan air. Pergerakan vertikal mengikuti ayunan ombak akan mendorong air ke turbin internal untuk menghasilkan listrik dalam siklus tertutup.
CEO dan salah satu pendiri Panthalassa, Garth Sheldon-Coulson, menjelaskan bahwa efisiensi penggunaan energi menjadi poin utama dalam operasional ini. Setiap unit membawa tumpukan komputasi dalam kapsul tersegel dan mengirimkan hasil kerja melalui jaringan satelit.
"Salah satu wawasan utama yang kami miliki adalah sangat penting untuk menggunakan listrik di tempat," ungkap Garth Sheldon-Coulson, CEO dan salah satu pendiri Panthalassa.
Sheldon-Coulson menegaskan bahwa model bisnis mereka tidak melibatkan pengiriman daya listrik kembali ke wilayah pesisir. Strategi ini diklaim membedakan proyek mereka dengan upaya pemanfaatan energi laut lainnya yang pernah ada.
"Kami tidak akan pernah mentransmisikan listrik kembali ke pantai. Itulah yang membuat kami sangat berbeda dari semua proyek energi laut yang pernah dicoba di masa lalu," tutur Garth Sheldon-Coulson, CEO dan salah satu pendiri Panthalassa.
Struktur nodes dirancang tanpa komponen luar seperti gearbox atau engsel untuk mengurangi risiko kerusakan akibat hantaman laut. Selain itu, laut dalam berfungsi sebagai penyerap panas alami yang menjaga suhu server tetap stabil dan memperpanjang usia perangkat keras.
Mantan peneliti energi ini juga memandang karakteristik ombak sebagai sumber daya yang sangat andal karena sifatnya yang terkonsentrasi. Ia mengibaratkan fenomena alam tersebut sebagai media penyimpan energi matahari yang dapat diakses sepanjang waktu.
"Ombak diciptakan oleh angin, dan angin diciptakan oleh panas dari matahari. Jadi ombak adalah sinar matahari yang terkonsentrasi dua kali lipat, dan mereka terus bergerak bahkan saat angin berhenti. Ombak seperti baterai untuk sinar matahari, dan kita bisa memanfaatkannya 24/7," pungkas Garth Sheldon-Coulson, CEO dan salah satu pendiri Panthalassa.
Pendanaan proyek ini melibatkan investor besar seperti Peter Thiel, Marc Benioff, dan Max Levchin untuk menyelesaikan pabrik percontohan di Portland, Oregon. Panthalassa menjadwalkan peluncuran seri Ocean-3 di Pasifik Utara pada tahun 2026 sebelum memulai ekspansi komersial penuh setahun kemudian.