Pasangan Bekasi Menikah di KUA dengan Biaya Dibawah Rp 10 Juta

Pasangan Bekasi Menikah di KUA dengan Biaya Dibawah Rp 10 Juta

Pasangan pengantin asal Bekasi, Aura Sabrina dan Zikri, menjadi sorotan setelah melaksanakan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) Bekasi Utara pada Jumat, 10 April 2026, dengan total biaya hanya Rp 8.244.000. Keputusan ini diambil untuk mengalokasikan dana resepsi sebagai uang muka pembelian rumah.

Dilansir dari Wolipop, rincian biaya yang diunggah melalui akun TikTok @oorraaaaa tersebut mencakup busana pengantin wanita sebesar Rp 1 Juta, pakaian pria Rp 349 Ribu, serta jasa fotografer Rp 1,25 Juta. Biaya lainnya meliputi MUA Rp 1,45 Juta, mahar Rp 145 Ribu, buket bunga Rp 150 Ribu, nail art Rp 100 Ribu, dan konsumsi keluarga Rp 3,8 Juta.

Pihak pengantin menjelaskan bahwa pendaftaran nikah di KUA pada hari kerja tidak dikenakan biaya atau gratis. Unggahan tersebut kini telah ditonton lebih dari 986,2 ribu kali dan memicu beragam reaksi dari warganet mengenai konsep pernikahan sederhana.

"Spill budget nikah KUA ala gen z. Attire wanita Rp 1 Juta. Jas & celana pria Rp 349 Ribu. Fotografer Rp 1,25 Juta. Nikah KUA gratis. MUA dan hijab Rp 1,45 Juta. Frame mahar Rp 145 Ribu. Buket bunga Rp 150 Ribu. Nail art Rp 100 Ribu. Makan keluarga Rp 3,8 Juta," tulis akun TikTok @oorraaaaa.

Interaksi di media sosial menunjukkan minat besar pada konsep ini, namun beberapa pengguna mempertanyakan mekanisme biaya administrasi negara. Pemilik akun memberikan klarifikasi mengenai perbedaan biaya pelaksanaan akad di dalam dan luar kantor.

"Bayar itu buat yg di weekend dan di luar kua kak, itu byr 600 lgsg ke kas negara ko bukan buat orang kua nya," balas @oorraaaaa.

Aura Sabrina mengungkapkan bahwa pemilihan lokasi di KUA merupakan keinginannya sendiri karena menyukai kesederhanaan. Pasangannya, Zikri yang berusia 26 tahun, juga mendukung keputusan tersebut karena kepribadiannya yang tertutup.

"Dalam video yang aku share itu proses nikah KUA," ujar Aura.

Wanita berusia 24 tahun itu menjelaskan bahwa suaminya tidak memiliki banyak undangan, sehingga prosesi di KUA dianggap lebih efisien secara biaya. Aura mengaku justru dialah yang sangat menginginkan konsep tersebut dibandingkan pihak laki-laki.

"Kebetulan pasangan aku orangnya introvert, tidak memiliki banyak teman untuk diundang di acara pernikahan kami, dan nikah KUA itu gratis jadi hemat biaya. Biasanya pihak perempuan yang nggak mau kalau nikah KUA, tapi aku malah pengen banget nikah KUA aja," jelas Aura.

Dukungan orang tua menjadi faktor kunci kelancaran rencana pasangan ini, terutama karena mereka menggunakan tabungan pribadi tanpa bantuan pihak lain. Rencana jangka panjang untuk memiliki hunian menjadi alasan utama peniadaan pesta mewah.

"Reaksi orang tua alhamdulillah mendukung banget, karena memang dari awal aku sama pasangan sudah jelasin kalau budget yang tadinya buat nikah di gedung mau dialokasiin buat DP rumah," ungkap Aura.

Investasi pada isi rumah dan kepemilikan aset dianggap lebih penting daripada perayaan satu malam yang berpotensi menghabiskan ratusan juta rupiah. Aura menilai keberhasilan finansial pasca-nikah dimulai dari pengelolaan dana pernikahan yang bijak.

"Budget resepsi kita gunain untuk membeli rumah dan membeli isi rumah yang dibutuhkan. Kalau kita gunain untuk resepsi bisa aja tapi bisa habis ratusan juta. Sedangkan kalau nikah KUA under 10 juta kita sudah bisa sah di mata agama dan negara. Apalagi kalau nikah di weekday itu gratis," tambahnya.

Terakhir, ia berpesan kepada pasangan lain agar tidak terlalu memusingkan stigma negatif dari lingkungan sekitar mengenai pernikahan yang hemat. Kemandirian ekonomi setelah menikah disebut sebagai prioritas utama.

"Dari aku alumni nikah KUA, please jangan dengerin omongan orang, hidup kita yang jalanin. Lebih baik uang tabungan kalian simpen buat kehidupan setelah menikah atau dibeliin rumah buat masa depan," pungkas Aura.

Artikel terkait

Rekomendasi