Dua pelajar berbakat asal Indonesia berhasil mengukir prestasi gemilang di panggung teknologi internasional. Francesco Emmanuel Setiawan dan Ghazali Ahlam Jazali dinobatkan sebagai Pemenang Utama atau Distinguished Winners dalam ajang Apple Swift Student Challenge 2026, seperti dilansir dari Medcom.
Pencapaian luar biasa ini membawa keduanya masuk dalam jajaran 50 pelajar terbaik dari seluruh dunia. Kompetisi tahunan yang diadakan oleh raksasa teknologi Apple tersebut menantang peserta untuk menciptakan app playground orisinal menggunakan bahasa pemrograman Swift.
Kompetisi Swift Student Challenge 2026 sendiri menerima total 350 karya pemenang yang berasal dari 37 negara dan wilayah. Sebagai bentuk apresiasi atas kemenangan ini, Francesco dan Ghazali mendapatkan kesempatan berharga untuk menghadiri Worldwide Developers Conference (WWDC) 2026 di Apple Park, Amerika Serikat, pada Juni mendatang.
Selama tiga hari di sana, mereka akan mengikuti serangkaian pengalaman eksklusif. Agenda tersebut meliputi menyaksikan Keynote secara langsung, belajar langsung dari para engineer serta ahli Apple, hingga berpartisipasi dalam sesi hands-on labs.
Francesco Emmanuel Setiawan, seorang mahasiswa Ilmu Komputer tingkat akhir di BINUS University sekaligus lulusan Apple Developer Academy Tangerang 2025, memenangkan penghargaan melalui aplikasi buatannya yang dinamakan Against the Silence.
Aplikasi ini lahir dari latar belakang yang sangat personal bagi pemuda berusia 23 tahun tersebut. Francesco yang tumbuh dengan rasa cemas secara sosial kerap merasa kehilangan kesempatan untuk mengutarakan ide-ide penting karena kesulitan berbicara spontan.
Setelah melakukan wawancara terhadap 22 profesional muda, Francesco menemukan fakta bahwa 75 persen dari mereka menghadapi kendala serupa. Hal ini mendorong dirinya untuk merancang sebuah game yang berfungsi melatih spontanitas dalam berbicara.
Di dalam permainan ini, pemain secara metaforis akan bertarung melawan demon yang menjadi simbol dari ketakutan terhadap penilaian orang lain. Tantangannya adalah mempertahankan pendapat yang tidak populer, salah satunya seperti alasan nanas layak menjadi toping pizza.
Game ini menuntut pengguna untuk memakai kata-kata tertentu sekaligus menghindari penggunaan kata pengisi seperti "umm" atau "hmm". Jika kata pengisi tersebut terucap, maka skor pemain akan berkurang.
"Bagi saya, dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan Swift Student Challenge bukan sekadar penghargaan biasa. Ini adalah bukti bahwa perjuangan pribadi kita dapat menjadi sarana yang membantu orang lain," ujar Francesco.
They Have Your Fingerprint!: Edukasi Kreatif Mengenai Ancaman Privasi
Pemenang Unggulan kedua, Ghazali Ahlam Jazali, juga berusia 23 tahun dan merupakan lulusan Ilmu Komputer dari Universitas Sanata Dharma serta Apple Developer Academy Surabaya 2025. Ia menciptakan aplikasi edukatif yang diberi judul They Have Your Fingerprint!.
Aplikasi ini dirancang untuk menyoroti isu privasi digital krusial yang kerap diabaikan masyarakat, yaitu canvas fingerprinting. Ghazali melihat banyak orang salah kaprah dan mengira bahwa menghapus cookies sudah cukup untuk melindungi privasi mereka di internet.
Padahal, terdapat metode pelacakan lain yang jauh lebih canggih yang tetap beroperasi mengintai data pengguna. Untuk mempermudah pemahaman mengenai konsep abstrak ini, Ghazali membangun sebuah app playground yang dilengkapi mini-game interaktif.
Permainan tersebut menempatkan pengguna langsung dari sudut pandang seorang pelacak data. Berbagai informasi rahasia disajikan lewat dokumen virtual seperti paspor, name tag, hingga tiket penerbangan agar ancaman privasi terasa nyata.
"Tujuan saya adalah mengambil ancaman privasi yang tak kasat mata seperti canvas fingerprinting, dan membuatnya terlihat agar orang-orang benar-benar dapat memahaminya," kata Ghazali.
Setelah kompetisi ini berakhir, kedua pemenang tersebut memiliki rencana untuk terus mengembangkan dan menyempurnakan aplikasi mereka. Target berikutnya adalah merilis karya inovatif tersebut ke layanan App Store agar dapat diakses dan digunakan oleh masyarakat luas.