Fluktuasi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan menekan industri teknologi nasional dengan memicu kenaikan harga perangkat elektronik pada Senin (27/4/2026). Lonjakan harga smartphone hingga laptop diperkirakan mulai terasa pada kuartal III/2026, sebagaimana dilansir dari Teknologi.
Kenaikan harga ini dipicu oleh masuknya stok baru yang memiliki biaya impor lebih tinggi. Direktur ICT Institute Heru Sutadi menjelaskan bahwa saat ini pelaku industri masih berupaya menahan harga jual dengan mengandalkan ketersediaan stok lama serta komitmen kontrak sebelumnya.
“Kenaikan harga umumnya mulai terlihat pada kuartal III 2026, saat stok baru masuk dengan biaya impor lebih tinggi,” kata Heru Sutadi, Direktur ICT Institute.
Penyesuaian harga diperkirakan akan meluas pada kuartal IV apabila depresiasi mata uang Garuda terus berlanjut, khususnya untuk produk di segmen menengah dan premium. Heru menyebut faktor global seperti kelangkaan komponen juga turut menjadi penentu besaran harga di tingkat konsumen.
“Tak ketinggalan, pendekatan bertahap dalam penyesuaian harga juga akan membantu menjaga permintaan tetap stabil di tengah tekanan biaya,” kata Heru Sutadi, Direktur ICT Institute.
Proyeksi serupa disampaikan oleh Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community Tesar Sandikapura. Ia menilai periode puncak kenaikan harga akan terjadi pada akhir tahun seiring dengan peluncuran model-model baru yang langsung mengadopsi kurs terbaru.
“Karena Q3 masih gunakan stok lama, tapi Q4 untuk model baru langsung ikuti harga kurs,” kata Tesar Sandikapura, Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community.
Tesar mengingatkan agar produsen tidak mengambil langkah agresif dalam menaikkan harga agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Ia menyarankan pengembang untuk lebih fokus pada pemberian insentif tambahan bagi calon pembeli.
“Tahan harga, minim upgrade teknologi, perbanyak gimmick [bonus/cicilan], dan jaga segmen bawah tetap hidup,” kata Tesar Sandikapura, Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community.
Pada penutupan perdagangan Senin (27/4/2026), nilai tukar rupiah sebenarnya menguat 18 poin ke level Rp17.211 per dolar AS. Namun, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mencatat nilai tersebut tetap lebih lemah dibandingkan posisi bulan lalu pada periode yang sama.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.210 sampai Rp17.260 per dolar AS,” kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Mata Uang.
Ibrahim menambahkan bahwa kondisi pasar saat ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun demikian, terdapat harapan akan stabilitas pasokan melalui usulan pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Iran dilaporkan telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Dalam usulan tersebut, Teheran menawarkan untuk menunda negosiasi nuklir demi fokus pada penyelesaian konflik,” kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Mata Uang.