Umat Islam dapat menemukan kekuatan dalam menghadapi takdir melalui kesadaran mendalam akan kebaikan yang dipilihkan oleh Allah SWT. Ketika menyadari kebaikan tersebut, seorang hamba akan mengerti bahwa Allah SWT tidak berniat menyakiti, melainkan Maha Penyayang kepada makhluk-Nya.
Dilansir dari Detikcom, hal ini selaras dengan firman-Nya dalam surah al-Ahzab ayat 43:
"Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan menuju cahaya (yang terang benderang). Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin."
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan rahmat kepada kaum beriman dan menguji mereka di hadapan malaikat. Para malaikat memohonkan ampunan agar Allah SWT mengeluarkan mereka melalui taufik, hidayah, dan rahmat dari kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan.
Allah SWT Maha Penyayang kepada seluruh Muslim di dunia dengan memberikan petunjuk ke jalan yang benar, serta memberikan keselamatan di akhirat dari malapetaka yang hebat. Penderitaan yang ditakdirkan sering kali menyimpan karunia dan kenikmatan di baliknya, sebagaimana termaktub dalam surah az-Zumar ayat 10:
"Katakanlah (Nabi Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu." Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan."
Melalui ayat ini, Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya untuk menyeru umat agar tetap bertakwa, menaati perintah, dan menjauhi larangan. Manusia yang berbuat baik di dunia akan dianugerahi kesehatan, kesejahteraan, dan kesuksesan karena akhlak luhur mereka, serta mendapatkan kenikmatan dan keridaan di akhirat.
Kaum Muslimin juga diminta bersiap hijrah ke Madinah dan tabah meski terpisah dari tanah air dan keluarga. Perintah berpindah ini diberikan jika kebebasan beribadah di Mekah terganggu, agar mereka mendapat ketenangan di negeri lain.
Perintah hijrah ini dipertegas dalam an-Nisā' ayat 97:
"Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?"
Pada bagian akhir ayat, Allah SWT menegaskan bahwa pahala tanpa batas hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bersabar.
Pengetahuan tentang keluasan ilmu Allah SWT juga menjadi faktor yang membuat hamba sanggup bersabar. Seorang hamba yang mengerti bahwa Allah SWT selalu mengawasinya saat diuji akan merasakan keringanan dalam menghadapi penderitaan tersebut.
Prinsip ini tercantum dalam surah ath-Thur ayat 48:
"Bersabarlah (Nabi Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami! Bertasbihlah seraya bertahmid (memuji) Tuhanmu ketika engkau bangun!
Ayat tersebut meminta Nabi Muhammad SAW untuk bersabar menunggu ketetapan karena selalu berada dalam pengawasan dan pemeliharaan-Nya. Manusia juga diminta bertasbih memuji Tuhan saat bangun pagi sebelum memulai aktivitas duniawi maupun ukhrawi.
Selain itu, keindahan Allah SWT dapat memicu kesabaran atas segala ketetapan. Jika Allah SWT menampakkan diri di tengah pahitnya ujian, rasa sakit itu akan ternetralisasi oleh nikmatnya kehadiran Sang Pencipta.
Fenomena psikologis ini digambarkan melalui kisah dalam surah Yusuf ayat 31:
"Maka, ketika dia (istri al-Aziz) mendengar cercaan mereka, dia mengundang wanita-wanita itu dan menyediakan tempat duduk bagi mereka. Dia memberikan sebuah pisau kepada setiap wanita (untuk memotong-motong makanan). Dia berkata (kepada Yusuf), "Keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka." Ketika wanita-wanita itu melihatnya, mereka sangat terpesona (dengan ketampanannya) dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri seraya berkata, "Mahasempurna Allah. Ini bukanlah manusia. Ini benar-benar seorang malaikat yang mulia."
Istri al-Aziz menyiapkan siasat dengan mengundang perempuan yang mencercanya dalam sebuah jamuan dengan tempat duduk yang nyaman. Setiap tamu diberikan pisau untuk memotong hidangan buah-buahan, lalu Nabi Yusuf AS diminta keluar menunjukkan diri.
Para wanita yang hadir terpesona oleh ketampanan rupa Nabi Yusuf AS hingga tanpa sadar melukai tangan mereka sendiri. Rasa sakit akibat goresan pisau tersebut tidak mereka rasakan karena keindahan paras yang sedang mereka saksikan.