Rencana perluasan pembangunan pusat data atau data center ke wilayah Indonesia timur dinilai sebagai langkah yang realistis oleh Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel). Meskipun begitu, langkah ini memerlukan dukungan infrastruktur penunjang dan nilai investasi yang cukup besar.
Ketua Industri AI, IoT & Big Data Mastel, Teguh Prasetya, menjelaskan bahwa desentralisasi fasilitas teknologi ini sangat mungkin dilakukan di luar Pulau Jawa. Hal ini termasuk untuk memenuhi kebutuhan pusat pemulihan bencana atau disaster recovery center (DRC).
"Tinggal seberapa besar size dan usecasenya yang tentunya harus mengikuti dan sejalan dengan besaran investasi tersebut," kata Teguh dikutip dari Teknologi.
Selama ini, pembangunan fasilitas tersebut masih terpusat di Pulau Jawa karena ketersediaan infrastruktur pendukung yang mumpuni. Faktor utama meliputi jaringan fiber optik, pasokan listrik, akses air, hingga keberadaan kawasan industri yang sudah matang.
Selain faktor infrastruktur, dominasi permintaan pengguna yang masih tinggi di Pulau Jawa menjadi alasan para investor. Namun, Teguh berpendapat ekspansi ke timur akan memicu dampak ekonomi positif melalui peningkatan investasi infrastruktur penunjang yang lebih luas.
Mastel menyoroti risiko unik yang dihadapi Indonesia sebagai negara kepulauan dalam mengelola pusat data. Sebuah studi memproyeksikan banyak fasilitas di ASEAN, termasuk Indonesia, akan menghadapi krisis air pada 2030, di samping risiko bencana alam seperti gempa bumi dan banjir.
Tantangan lain muncul dari kondisi sistem kelistrikan Jawa-Bali yang saat ini mengalami kelebihan pasokan. Kondisi ini secara tidak langsung memberikan tekanan finansial bagi PLN dan menghambat akselerasi penggunaan energi terbarukan karena adanya perjanjian jual beli listrik jangka panjang.
Secara statistik, infrastruktur data center nasional terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada 2025, tercatat ada 81 fasilitas yang sudah beroperasi dan 24 fasilitas lainnya sedang dalam tahap perencanaan atau konstruksi di 18 kota berbeda.
Kapasitas beban IT diperkirakan melonjak tajam dari 1,44 GW pada 2025 menjadi 3,56 GW pada tahun 2030. Pertumbuhan tahunan rata-rata atau CAGR dalam sektor ini diprediksi mencapai angka 19,89 persen.
Pengoperasian Pusat Data Nasional (PDN) di Cikarang sejak Maret 2025 menjadi pencapaian penting bagi pemerintah. Kehadiran perusahaan raksasa global seperti AWS, Google Cloud, dan Microsoft juga semakin memperkuat ekosistem digital domestik.
Oracle juga telah meresmikan wilayah cloud pertamanya di Batam pada Juli 2025. Di saat yang sama, Indonesia Investment Authority (INA) menjalin kemitraan internasional untuk mengembangkan fasilitas skala besar di Jakarta dan Batam.
Teguh mengingatkan bahwa kesiapan infrastruktur untuk kecerdasan buatan atau AI masih perlu ditingkatkan secara masif. Fasilitas AI memerlukan spesifikasi teknis tinggi, seperti sistem pendingin cair dan kepadatan daya per rak yang besar.
"Namun masih perlu diperluas secara masif," kata Teguh mengenai tahap awal pembangunan kapasitas tersebut di Indonesia.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turut mendorong agar pembangunan infrastruktur digital tidak hanya menumpuk di bagian barat. Pemerintah saat ini tengah menyusun rencana induk pengembangan pusat data nasional untuk sektor swasta.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menekankan pentingnya pemerataan wilayah. Menurutnya, pusat data merupakan fondasi utama bagi pengembangan kecerdasan buatan dan tulang punggung ekonomi masa depan.
"Kami mengupayakan bagaimana data center itu jangan terfokus di satu wilayah, wilayah Barat," kata Wayan.
Visi Komdigi ke depan adalah menjadikan pusat data sebagai aset strategis negara yang mendukung kedaulatan data dan berkelanjutan melalui konsep ramah lingkungan. Indonesia memiliki ambisi untuk menjadi pusat digital di kawasan regional.
"Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi hub data center di kawasan, dan ini harus kami dorong menjadi lebih serius sebagai bagian dari pemosisian strategis nasional," kata Wayan.
Di sisi lain, Equinix Indonesia masih memfokuskan ekspansinya di Jakarta. Perusahaan tersebut sedang melanjutkan pembangunan fase kedua pusat data JK1 International Business Exchange (IBX) di kawasan pusat bisnis Jakarta.
"Saat ini, kami tengah melanjutkan pengembangan fase berikutnya dari pusat data JK1 International Business Exchange™ (IBX®)," kata Managing Director Equinix Indonesia, Haris Izmee.
Target penambahan lebih dari 1.000 kabinet direncanakan rampung pada kuartal keempat tahun 2026. Fasilitas ini dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan AI dengan akses latensi rendah ke pusat keuangan nasional.
Haris menyatakan bahwa mereka menggunakan teknologi pendingin canggih dan berkomitmen menggunakan 100 persen energi terbarukan pada 2030. Hal ini sejalan dengan ambisi mendukung target Indonesia Emas 2045.
"Di Indonesia, kami memanfaatkan sertifikat energi terbarukan serta terus mengeksplorasi efisiensi energi untuk mendukung target Indonesia Emas 2045," kata Haris.
Meski potensinya besar, Haris menggarisbawahi beberapa tantangan seperti ketahanan energi, kedaulatan data, hingga proses perizinan. Implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) juga menjadi faktor krusial dalam pembangunan infrastruktur digital saat ini.
"Dengan terus mengembangkan infrastruktur berbasis konektivitas serta investasi pada talenta digital, Indonesia berada pada posisi yang kuat untuk tidak hanya melayani pasar domestik, tetapi juga menjadi pusat digital regional yang tangguh," kata Haris.