Pemerintah Andalkan Satelit LEO Percepat Pemerataan Internet

Pemerintah Andalkan Satelit LEO Percepat Pemerataan Internet

Akses internet yang belum merata masih menjadi persoalan utama dalam percepatan transformasi digital di Indonesia. Seperti dikutip dari Suara, pemerintah kini mulai melirik teknologi satelit generasi terbaru sebagai langkah taktis mempercepat pemerataan konektivitas di seluruh wilayah nusantara.

Teknologi Non-Geostationary Satellite Orbit (NGSO), khususnya satelit Low Earth Orbit (LEO), dinilai menjadi solusi paling potensial. Teknologi ini diklaim mampu menyalurkan jaringan internet ke kawasan terpencil yang selama ini tidak terjangkau oleh Base Transceiver Station (BTS) maupun kabel serat optik.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menjelaskan bahwa tantangan geografis Indonesia yang dipenuhi pegunungan dan ribuan pulau memerlukan strategi infrastruktur yang tidak seragam. Pembangunan digital di wilayah sulit membutuhkan pendekatan teknologi yang berbeda.

"Teknologi satelit Non-Geostationary Orbit, khususnya satelit Low Earth Orbit menawarkan solusi dengan manfaat yang sesuai dengan yang kita inginkan, terutama pada tiga dimensi utama yang sangat penting yaitu secara mendasar, secara strategis, dan juga praktis," ujar Nezar dalam keterangan resminya, Jumat (5/6/2026).

Pembangunan infrastruktur BTS konvensional diakui tidak selalu efektif untuk diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Kendala topografi yang ekstrem dan besarnya nilai investasi sering kali menjadi hambatan utama bagi operator telekomunikasi dalam memperluas jaringan mereka.

Oleh karena itu, optimalisasi teknologi alternatif seperti satelit orbit rendah terus didorong untuk mengikis kesenjangan digital. Satelit LEO dinilai mampu membuka akses komunikasi di wilayah yang sebelumnya dianggap tidak layak secara komersial oleh pelaku industri telekomunikasi.

"Tidak semua tempat bisa dibangun BTS karena topografinya tidak memungkinkan untuk dibangun BTS. Jadi coba diterobos dengan cara lain, misalnya pakai kabel serat optik, atau LEO saya kira menjadi salah satu solusi," jelasnya.

Ketahanan Digital dan Komunikasi Pascabencana

Selain berfungsi memperluas jaringan reguler, satelit LEO memegang peran vital dalam memulihkan jaringan komunikasi saat situasi darurat bencana alam. Ketika infrastruktur telekomunikasi darat rusak atau terputus total, konektivitas satelit ini dapat diandalkan sebagai saluran komunikasi utama untuk koordinasi penyelamatan.

Karakteristik inilah yang membuat teknologi satelit orbit rendah diposisikan sebagai pilar penting dalam menjaga ketahanan digital nasional. Keandalan sistem ini telah teruji dalam menjaga konektivitas tetap hidup di tengah situasi krisis akibat bencana.

"Saya kira LEO sangat spesifik dan krusial perannya. Hal itu terbukti saat bencana kemarin bagaimana ketika komunikasi terputus di wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar. Konektivitas yang memungkinkan di daerah-daerah itu hanya dengan LEO," ungkap Nezar.

Fokus Pemerataan Keadilan Akses Digital

Isu pemanfaatan ruang angkasa ini juga mengemuka dalam ajang Indonesia Connectivity Forum 2026. Forum yang mempertemukan elemen pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga masyarakat sipil ini berfokus merumuskan integrasi antara infrastruktur darat dan satelit.

Kesenjangan akses digital ditegaskan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi domestik. Perluasan jaringan komunikasi tidak boleh sekadar berorientasi pada penyediaan aspek teknis, melainkan harus menyentuh prinsip keadilan sosial bagi seluruh komunitas.

Co-founder dan CEO Obviously Sustainable, Rezha Bayu Oktavian Arief, menilai kesenjangan digital masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Menurutnya, penetrasi internet harus memberikan dampak konkret pada sektor pendidikan, pelayanan kesehatan, pemenuhan layanan publik, hingga stimulus ekonomi digital masyarakat.

"Menutup kesenjangan ini bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal keadilan, yaitu memastikan tidak ada satu pun komunitas yang tertinggal," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi