Di tengah gempuran jam tangan digital dan smartwatch yang terus bermunculan, keberadaan tukang servis jam tangan pinggir jalan justru masih dicari sebagian masyarakat. Bukan sekadar memperbaiki mesin yang mati atau mengganti baterai, para tukang servis jam kini turut menjadi “penjaga” berbagai kenangan yang melekat pada arloji lama milik pelanggan.
Di lapak-lapak servis sederhana di pinggir jalan seperti milik Safrizal (74) dan Ade (78) di kawasan Depok, Jawa Barat, jam tangan lama dengan usia belasan hingga puluhan tahun masih rutin datang untuk diperbaiki. Sebagian merupakan jam warisan keluarga, sebagian lain merupakan koleksi vintage yang kembali diminati anak muda.
Salah satu pelanggan, Hendra (48), mengaku tetap mempertahankan jam tangan lamanya karena memiliki nilai emosional yang besar. Jam tersebut telah ia kenakan hampir 15 tahun sejak pertama kali diberikan oleh ayahnya saat dirinya diterima bekerja.
“Kalau jam ini saya sudah pakai hampir 15 tahun. Dulu dikasih sama almarhum bapak waktu saya pertama kali diterima kerja. Waktu itu beliau bilang, ‘Biar kamu ingat waktu dan tanggung jawab’,” kata Hendra saat ditemui di lapak milik Ade di Citayam, Selasa (19/5/2026).
Baginya, jam itu bukan sekadar penunjuk waktu. Arloji tersebut selalu menemaninya dalam berbagai fase penting kehidupan. Ia menuturkan, jam itu menyimpan banyak kenangan karena selalu menemaninya dalam berbagai fase kehidupan, mulai dari bekerja, menikah, hingga saat anaknya lahir. Menurut Hendra, setiap melihat jam tersebut dirinya selalu teringat pada momen ketika sang ayah memasangkan jam itu ke tangan dirinya.
“Yang paling saya ingat itu waktu pertama diterima kerja. Saya masih ingat beliau sendiri yang masangin jam ini ke tangan saya,” ujar Hendra, pelanggan servis jam.
Memilih Memperbaiki daripada Mengganti Baru
Meski kondisi jamnya beberapa kali rusak, Hendra mengaku tidak pernah terpikir untuk menggantinya dengan yang baru karena merasa jam tersebut memiliki nilai emosional yang tidak tergantikan. Ia menilai, membeli jam baru mungkin lebih praktis, tetapi tidak akan memberikan perasaan yang sama seperti mempertahankan barang lama yang penuh cerita.
“Karena rasanya enggak tergantikan. Kalau beli baru mungkin lebih gampang lebih modern, tapi ya beda rasanya. Jam ini sudah ikut perjalanan hidup saya lama sekali,” tutur Hendra, pelanggan servis jam.
Selain alasan emosional, Hendra juga merasa servis jam masih lebih terjangkau dibanding membeli jam baru dengan kualitas yang setara. Namun baginya, alasan utama tetap karena rasa sayang terhadap barang lama yang sudah melekat dalam hidupnya.
“Daripada beli baru yang sekarang harganya lumayan, servis kadang cuma ganti baterai atau bersihin mesin. Tapi buat saya bukan cuma soal murahnya juga, lebih karena sayang kalau dibuang,” kata Hendra, pelanggan servis jam.
Ia menambahkan, jam lama memiliki karakter dan sejarah tersendiri yang tidak dimiliki barang baru.
“Kita tahu sejarah barang itu. Lecetnya juga kadang jadi kenangan sendiri. Beda sama jam baru yang mungkin bagus, tapi belum punya cerita apa-apa,” ujar Hendra, pelanggan servis jam.
Hendra mengaku sudah sekitar lima tahun menjadi pelanggan tetap di lapak servis jam tersebut karena merasa cocok dengan ketelitian Ade dalam menangani jam-jam lama. Menurut dia, keberadaan tukang servis jam tangan masih sangat dibutuhkan, terutama bagi pemilik jam lawas atau jam warisan keluarga yang memiliki komponen rumit.
“Soalnya enggak semua orang bisa bongkar atau ngerti mesin jam. Apalagi jam lama yang komponennya kecil-kecil dan rumit,” kata Hendra, pelanggan servis jam.
Anak Muda Mulai Melirik Jam Vintage
Berbeda dengan Hendra yang mempertahankan jam warisan keluarga, Riko (27) justru mulai menyukai jam tangan karena ketertarikannya pada barang-barang vintage. Ia mengatakan, jam yang kini rutin dipakainya dibeli sekitar tiga tahun lalu dari seorang teman kolektor jam vintage.
Awalnya, Riko mengaku tidak terlalu tertarik dengan jam tangan. Namun setelah memiliki jam tersebut, ia mulai menyukai barang-barang yang memiliki desain klasik dan cerita tersendiri.
“Dulu sebenarnya saya enggak terlalu peduli sama jam tangan justru. Tapi sejak punya ini, saya mulai suka barang-barang yang punya desain dan cerita,” kata Riko saat dihubungi melalui WhatsApp, Selasa.
Menurut dia, desain jam vintage terasa lebih unik dibanding banyak model jam modern saat ini yang dinilai cenderung mirip satu sama lain.
“Waktu pertama lihat, saya langsung suka karena modelnya klasik banget, beda sama jam sekarang yang kebanyakan desainnya mirip-mirip,” ujar Riko, pemuda pencinta jam vintage.
Jadi Hadiah untuk Diri Sendiri
Meski bukan barang warisan keluarga, Riko mengaku jam tersebut tetap memiliki nilai khusus baginya karena menjadi awal mula dirinya menyukai dunia jam vintage. Ia mengatakan, jam itu dibeli menggunakan uang hasil pekerjaan freelance pertamanya setelah melewati masa-masa sulit saat awal bekerja.
“Dulu saya beli jam ini pakai uang hasil freelance pertama saya. Jadi rasanya kayak hadiah buat diri sendiri setelah masa-masa kerja enggak jelas,” tutur Riko, pemuda pencinta jam vintage.
Jam tersebut juga disebut banyak menemani berbagai fase hidupnya saat mulai bekerja dan membangun rasa percaya diri.
“Dulu waktu awal kerja saya sering pakai ke mana-mana jadi bikin saya pede lah gitu karena ngerasa punya sesuatu yang saya suka dan saya rawat sendiri,” kata Riko, pemuda pencinta jam vintage.
Memilih Merawat Barang Lama
Riko mengaku lebih memilih memperbaiki jam lama dibanding membeli baru karena menyukai proses merawat barang yang sudah dimiliki. Menurut dia, kebiasaan seseorang yang langsung mengganti barang rusak dengan yang baru membuat banyak benda lama kehilangan kesempatan untuk tetap digunakan.
“Sekarang kan orang lebih sering langsung ganti baru kalau rusak. Tapi saya suka konsep mempertahankan barang selama masih bisa dipakai,” ujar Riko, pemuda pencinta jam vintage.
Ia menilai jam lamanya sebenarnya masih dalam kondisi baik dan hanya mengalami gangguan pada bagian mesin akibat usia pemakaian. Karena itu, ia merasa sayang jika jam tersebut dibiarkan rusak begitu saja.
“Jam lama itu punya karakter. Kadang warnanya sudah agak pudar, ada gores-goresan, tapi justru itu yang bikin unik. Kalau jam baru kan masih mulus belum punya cerita,” tutur Riko, pemuda pencinta jam vintage.
Menurut dia, memperbaiki jam lama juga memberikan kepuasan tersendiri karena barang yang sempat mati bisa kembali digunakan. Ia pun menilai profesi tukang servis jam tangan masih akan bertahan karena tren barang vintage dan analog kembali diminati anak muda.
“Sekarang justru banyak anak muda mulai suka barang vintage dan analog lagi. Orang mulai cari sesuatu yang lebih personal dan punya cerita, bukan sekadar barang baru,” tutur Riko, pemuda pencinta jam vintage.
Eksistensi Servis Jam Tangan Pinggir Jalan
Karena itu juga lapak-lapak servis jam sederhana di pinggir jalan masih terus didatangi pelanggan dari berbagai usia. Salah satunya terlihat di lapak kecil milik Safrizal (74) di Jalan Pitara Raya, Pancoran Mas, Depok.
Di tengah deru kendaraan dan hiruk-pikuk jalan raya, Safrizal tetap telaten memperbaiki jam tangan pelanggan menggunakan alat-alat sederhana yang sudah dipakainya bertahun-tahun. Safrizal mengaku telah menekuni profesi servis jam selama sekitar 40 tahun. Sebelum membuka lapak servis, ia sempat bekerja sebagai kondektur bus. Namun pekerjaan itu ditinggalkannya karena merasa terlalu lelah harus terus pulang malam.
Tanpa latar belakang keahlian khusus, Safrizal belajar memperbaiki jam secara otodidak dengan membongkar sendiri bagian-bagian mesin jam lalu mengingat kembali posisi setiap komponennya.
“Caranya, baut-baut jam itu saya lepas dan saya pisah-pisahkan sendiri. Sambil membongkar, saya perhatikan dan saya contek lagi posisinya tadi baut ini ditaruh di mana, yang itu di mana,” kata Safrizal saat ditemui di lapaknya, Selasa.
Menurut dia, proses belajar itu tidak memakan waktu terlalu lama karena dirinya hanya berpegang pada rasa penasaran dan keyakinan untuk bisa belajar sendiri.
“Prinsip saya waktu itu, ‘Orang lain kok bisa, masa saya tidak bisa?’ Saya pikirkan sendiri, dan alhamdulillah dalam seminggu sudah lancar,” ujar Safrizal, tukang servis jam.
Di lapak kecilnya, Safrizal hanya mengandalkan alat-alat sederhana seperti obeng kecil, tang, gunting, pisau, hingga jepitan untuk memperbaiki jam tangan pelanggan. Meski terlihat sederhana, ia mengaku alat manual tersebut justru lebih awet dibanding perlengkapan modern.
“Alat-alat saya ini alami saja, tidak canggih. Tapi kalau dibandingkan dengan alat yang canggih, alat saya ini belum kalah. Alat yang canggih itu terkadang belum lama dipakai sudah patah, sedangkan alat manual saya ini kuat dan awet,” katanya Safrizal, tukang servis jam.
Setiap hari, Safrizal membuka lapaknya dari pagi hingga sore. Ia mengaku jarang libur selama kondisi tubuhnya masih sehat. Namun penghasilannya sebagai tukang servis jam tidak selalu menentu. Dalam sehari, dirinya kadang hanya memperoleh Rp20.000 hingga Rp30.000 dari jasa mengganti baterai atau memperbaiki bagian kecil jam tangan.
“Ada kalanya sehari dapat Rp20.000, kadang Rp30.000, ya diterima saja. Tadi dari pagi sampai sore baru dapat Rp27.000 dari jasa potong rantai dan ganti pen samping jam,” tutur Safrizal, tukang servis jam.
Menurut Safrizal, jenis kerusakan jam saat ini juga jauh berbeda dibanding masa lalu. Dulu dirinya sering menangani kerusakan rumit pada jam mekanikal lama seperti memperbaiki bagian as atau rambut jam. Namun kini, sebagian besar pelanggan hanya datang untuk mengganti baterai atau memperbaiki IC karena penggunaan jam analog mulai berkurang akibat keberadaan smartphone.
“Penyakit jam sekarang kebanyakan cuma baterai atau IC, tidak banyak macamnya. Kerjanya lebih enak sekarang. Kalau cuma ganti baterai, paling lima menit selesai,” ujarnya Safrizal, tukang servis jam.
Meski pelanggan tidak seramai dulu, Safrizal mengatakan, masih ada anak-anak muda yang datang membawa jam lama atau jam bergaya vintage untuk diperbaiki. Bahkan, sebagian pelanggan sengaja mempertahankan jam lama karena memiliki nilai kenangan tersendiri.
Selain Safrizal, cerita serupa juga datang dari Ade atau yang akrab disapa Mang Ade (78), tukang servis jam tangan di kawasan Citayam, Jawa Barat. Di bawah rindangnya pohon besar di pinggir Jalan Raya Citayam, lapak kecil bercat hijau milik Mang Ade berdiri sederhana tepat di depan Pos Polisi Citayam. Sebuah etalase kaca kecil berisi jam tangan dan onderdil menjadi teman kesehariannya menunggu pelanggan.
Ade mengaku mulai belajar servis jam pada pertengahan tahun 1980-an setelah diajak seorang pemilik toko servis jam di Jakarta. Sebelum menjadi tukang servis jam, ia sempat berjualan rokok untuk bertahan hidup di perantauan. Menurut Ade, pertemuannya dengan sang guru bermula dari kebiasaan berjualan rokok di Jakarta. Dari situ, hubungan mereka semakin dekat karena sama-sama berasal dari Garut.
“Singkat cerita, kami jadi akrab dan sering main gaple bareng setiap malam Minggu sampai pagi di rumah beliau,” kata Ade saat berbincang dengan Kompas.com di Citayam, Selasa.
Dari hubungan pertemanan itu, sang pemilik toko kemudian menawarkan Ade untuk belajar servis jam tangan.
“Akhirnya beliau menawarkan, ‘Daripada dagang rokok ribet, mau tidak belajar jam? Pikirkan dulu.’ Akhirnya Bapak mau,” ujarnya Ade, tukang servis jam.
Ade mengatakan proses belajar servis jam pada masa itu dilakukan sangat disiplin. Ia diminta membongkar dan memasang kembali mesin jam berulang-ulang sampai benar-benar hafal posisi setiap komponennya. Menurut dia, seorang tukang servis jam tidak cukup hanya menghafal bentuk mesin, tetapi juga harus memahami detail letak setiap bagian agar bisa memperbaiki kerusakan sendiri.
“Mesin yang sudah dibongkar, dipasang lagi, bongkar lagi, begitu terus sampai hafal luar kepala untuk satu mesin,” kata Ade, tukang servis jam.
Setelah merasa cukup mampu memperbaiki berbagai jenis kerusakan jam, Ade akhirnya membuka usaha sendiri. Pada masa itu, persaingan antar tukang servis jam di kawasan Jakarta disebut sangat ketat. Meski begitu, Ade berhasil bertahan hingga puluhan tahun dan menghidupi keluarganya dari pekerjaan tersebut.
“Semua ini berkat dukungan istri. Kami menikah saat Bapak belum punya apa-apa, hidup di pasar,” ujarnya Ade, tukang servis jam.
Menurut Ade, sang istri juga memiliki peran besar dalam mengatur keuangan keluarga hingga akhirnya mereka mampu membangun rumah sendiri di Jakarta. Bahkan, candaan sang istri soal profesinya masih terus diingat hingga sekarang.
“Kalau ditanya suaminya kerja apa, dia jawab, ‘Suami saya dokter ahli bedah.’ Orang kaget dan tanya ahli bedah apa, dia jawab, ‘Ahli bedah jam. Dia hebat, jam yang sudah mati saja bisa hidup lagi,’” tutur Ade sambil tertawa.
Masih Punya Tempat di Tengah Era Digital
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai keberadaan tukang servis jam tangan pinggir jalan masih memiliki tempat di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Menurut dia, profesi seperti yang dijalani Safrizal dan Mang Ade tetap dibutuhkan karena perbaikan jam tangan, terutama jam mekanis dan model lama, memerlukan keterampilan manual yang tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi modern.
“Jadi ini juga kan kalau kita lihat banyak jam tangan terutama yang mekanis atau model lama membutuhkan perbaikan yang teliti dan dikerjakan secara manual oleh orang-orang yang ahli,” kata Rakhmat saat dihubungi melalui WhatsApp, Selasa.
Ia menjelaskan, selama masih ada barang yang rusak dan orang yang memiliki kemampuan memperbaikinya, profesi tukang servis jam akan tetap bertahan. Rakhmat juga menilai keputusan sebagian orang untuk tetap memperbaiki jam lama bukan hanya karena alasan fungsi semata, tetapi juga dipengaruhi faktor ekonomi dan kualitas barang. Selain itu, ia menyebut sejumlah jam tangan lama dinilai memiliki kualitas yang lebih baik dibanding produk baru yang dianggap lebih cepat rusak.
“Nah faktor lain adalah kualitas beberapa jam tangan lama misalnya yang dianggap lebih kuat atau bernilai dibandingkan dengan produk baru yang lebih cepat rusak,” katanya Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Menurut Rakhmat, jam tangan juga kerap menyimpan nilai sentimental bagi pemiliknya sehingga banyak orang tetap mempertahankan dan memperbaikinya meski sudah berusia lama.
“Jam tangan bisa menjadi kenang-kenangan dari orang tua, hadiah dari orang penting, atau simbol momen tertentu dalam hidup seseorang,” kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Di sisi lain, Rakhmat menilai profesi tukang servis jam mencerminkan daya tahan usaha kecil di tengah perubahan zaman. Meski jumlahnya semakin sedikit, profesi tersebut dinilai masih memiliki peluang bertahan karena munculnya tren barang vintage, barang koleksi, hingga budaya memperbaiki barang atau repair culture.
“Jadi usaha kecil biasanya lebih fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Nah mereka biasanya bertahan karena memiliki pelanggan tetap dan hubungan sosial yang kuat dengan lingkungan sekitar,” ujarnya Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Meski demikian, ia mengakui minat generasi muda terhadap pekerjaan berbasis keterampilan manual kini tidak sebesar dulu. Namun, profesi seperti tukang servis jam dinilai masih bisa bertahan apabila keterampilannya terus diwariskan dan didukung peluang usaha yang memadai.
“Kalau keterampilan ini diajarkan dengan baik dan didukung peluang usaha, profesi seperti ini menurut saya tetap bisa menarik bagi generasi muda,” kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.