Kartu kecil bergambar karakter populer seperti Pikachu, Charizard, atau Mewtwo kini memiliki nilai jual yang sangat tinggi di pasar kolektor. Mainan yang dahulu akrab di kalangan anak-anak tersebut, sekarang bisa berharga setara dengan kendaraan roda empat atau hunian mewah.
Fenomena ini memicu rasa penasaran mengenai alasan di balik lonjakan harga komoditas berbahan kertas tersebut hingga menembus ratusan juta rupiah. Padahal, secara kasat mata, wujud fisik mainan ini tidak berbeda dengan kartu yang dimainkan dari generasi ke generasi.
Dikutip dari Megapolitan, beberapa kolektor mengungkapkan sejumlah faktor utama yang mengerek nilai jual kartu Pokemon di pasaran.
Seorang kolektor bernama WY (38) menjelaskan bahwa aspek kelangkaan menjadi pemicu utama mahalnya harga kartu di pasaran.
"Kartu-kartu mahal itu kebanyakan kartu vintage contoh dari tahun 1999 gitu karena kelangkaan kartu jadinya mahal," ucap dia ketika dihubungi Kompas.com, Senin (18/5/2026).
Tingkat kesulitan untuk menemukan kartu tertentu berbanding lurus dengan harga yang ditawarkan di pasar sekunder. Kendati demikian, WY menambahkan bahwa status keluaran lama tidak menjadi jaminan tunggal sebuah kartu bernilai tinggi.
"Tapi, tidak semua kartu. Hanya lebih ke kartu-kartu yang terlihat iconic. Rata-rata pasti icon-iconnya contoh Pikach dan Charizard," sambung dia.
Menurut penuturannya, produk modern keluaran terbaru belum mampu menyamai rekor harga varian klasik yang mencapai ratusan juta rupiah. Oleh karena itu, WY berpendapat hobi ini tidak selalu membutuhkan modal besar karena banyak kartu yang dijual dengan harga ribuan rupiah.
Varian berbiaya rendah tersebut tetap diminati oleh para penggemar karena keunikan ilustrasinya yang dinilai cocok sebagai koleksi di dalam binder.
Pandangan senada mengenai faktor kelangkaan dikemukakan oleh kolektor lain, Erin (25). Menurutnya, mekanisme pasar ditentukan oleh hukum penawaran dan permintaan.
"Itu lebih ke arah suplai dan permintaan. Kartunya sudah sangat langka, entah karena sudah lama sekali atau susah didapatkan. Suplainya sedikit tapi banyak orang yang ingin punya," jelas dia ketika dihubungi Kompas.com, Senin.
Erin menilai setiap kolektor memiliki preferensi yang berbeda-ubah tanpa ada satu acuan khusus mengenai produk yang paling diburu. Sebagian penggemar fokus pada varian klasik, sementara sebagian lainnya memilih mengumpulkan satu karakter spesifik seperti Psyduck.
Sistem Sertifikasi Dongkrak Nilai Jual
Kolektor lain bernama Bagir (37) memaparkan bahwa lonjakan harga hingga ratusan juta rupiah erat kaitannya dengan proses sertifikasi atau grading.
"Saya punya kartu yang sudah di-grading atau disertifikasi. Istilahnya kartu tersebut sudah diotentikasi dan diberi nilai oleh perusahaan sertifikasi. Yang paling terkenal adalah PSA dari Amerika dan Jepang," tutur dia ketika dihubungi Kompas.com, Senin.
Proses ini melibatkan lembaga independen yang menguji kondisi fisik kartu secara mendetail. Nilai sempurna atau skor 10 menjadi target utama para kolektor untuk melipatgandakan harga jual.
Aspek penilaian mencakup tingkat kebersihan, ketiadaan titik putih, kualitas cetakan, hingga tingkat simetris pada seluruh sisi kartu.
"Jika kartu mendapatkan nilai 10, harganya bisa naik berkali-kali lipat. Misalnya kartu mentahnya harga Rp 2 juta, jika dapat nilai 10 bisa menjadi Rp 8 juta atau lebih," jelas Bagir.
Prosedur sertifikasi ini memerlukan biaya operasional yang tidak sedikit. Di Amerika Serikat, biaya grading berkisar antara 25 hingga 35 dollar AS atau setara Rp 441.300 hingga Rp 529.560.
Sementara di Indonesia, penyedia jasa perantara mematok tarif sekitar Rp 600.000 hingga Rp 750.000 per kartu. Proses pengiriman dan penilaian eksternal ini membutuhkan waktu tunggu selama lima hingga enam bulan.
Setelah penilaian selesai, kartu akan disegel di dalam wadah akrilik khusus yang disebut slab guna menjaga kondisinya dari kerusakan fisik jangka panjang.
Potensi Investasi dan Ekosistem Kekayaan Intelektual
Rumitnya prosedur penilaian membuat sebagian kolektor lebih memilih untuk bertransaksi kartu yang sudah memiliki sertifikat resmi.
"Koleksi saya yang sudah disertifikasi biasanya saya beli sudah dalam kondisi jadi (sudah grading). Harganya variatif, ada yang Rp 1 juta hingga belasan juta rupiah," ungkap Bagir.
Bagir mengalokasikan dana besar karena memandang komoditas ini sebagai instrumen investasi yang menjanjikan. Dasar keyakinan tersebut bertumpu pada status Pokemon sebagai kekayaan intelektual (IP) terbesar di dunia yang melampaui Disney maupun Marvel.
Basis penggemar yang mencakup lintas generasi dari anak-anak hingga lansia dinilai mampu menjaga stabilitas pasar di masa depan.
Pakar Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agung Satria Permana, membenarkan bahwa manajemen IP Pokemon yang solid berhasil menciptakan efek turunan ekonomi yang luas.
"Pokémon menjadi contoh bagaimana sebuah IP bisa berkembang, dari yang awalnya dikenal sebagai game, lalu berkembang menjadi anime, merchandise, hingga trading card game," kata Agung ketika dihubungi Kompas.com, Senin.
Integrasi antar-produk turunan tersebut memperkuat nilai ekosistem secara keseluruhan. Menurut Agung, harga jual di tingkat komunitas kini tidak lagi diukur berdasarkan biaya produksi fisik, melainkan oleh sentimen subjektif dari para penggemar.
Risiko Spekulasi di Pasar Alternatif
Agung menyatakan sejauh ini belum ada parameter baku dalam pembentukan harga kartu yang bernilai fantastis tersebut. Popularitas karakter dan tingkat kelangkaan menjadi acuan informal yang diperkuat oleh kehadiran industri grading.
"Berkembangnya kartu Pokémon juga memunculkan perkembangan pada industri grading yang dapat memberikan sedikit acuan bagi pembeli menilai keaslian, kondisi, dan kelayakan harga sebuah kartu," ujar Agung.
Namun, ia menambahkan bahwa pergerakan harga belakangan ini juga dipengaruhi oleh faktor psikologis market. Tren membuka kemasan kartu atau 'brewek' yang marak dilakukan oleh influencer di media sosial memicu fenomena ketakutan akan tertinggal tren (FOMO).
"Akibatnya, banyak orang masuk ke pasar bukan semata-mata karena hobi atau memahami nilai koleksinya, tetapi karena takut tertinggal tren dan berekspektasi bahwa harga kartu akan terus naik," ucap dia.
Agung mengingatkan bahwa tingginya potensi manipulasi harga membuat komoditas ini belum layak dikategorikan sebagai instrumen investasi alternatif yang aman.
Perencana Keuangan dari Finante.ic, Rista Zwestika, menegaskan bahwa kartu Pokemon memiliki karakteristik aset dengan tingkat spekulasi tinggi.
"Nilainya bisa naik tajam, tetapi juga bisa turun drastis karena sangat dipengaruhi tren dan sentimen pasar," kata Rista saat dihubungi Kompas.com, Senin.
Absennya data historis yang valid, regulasi perlindungan hukum, dan indikator fundamental yang jelas membedakan komoditas hobi ini dengan instrumen investasi konvensional. Risiko kerugian finansial mengintai para pelaku pasar yang bertransaksi tanpa bekal pemahaman yang komprehensif.
Ancaman kerugian tersebut meliputi penurunan nilai aset secara mendadak, rendahnya tingkat likuiditas, peredaran produk tiruan, hingga kerusakan fisik pada objek koleksi.
"Berbeda dengan saham atau emas yang pasarnya luas, kartu mahal membutuhkan pembeli yang spesifik," tegas Rista.