Bukan Sekadar Mainan, Perburuan Kartu Pokémon Bernilai Fantastis

Bukan Sekadar Mainan, Perburuan Kartu Pokémon Bernilai Fantastis

Keberadaan kartu Pokémon saat ini bukan lagi sekadar mainan anak-anak. Sejumlah jenis kartu tersebut bahkan memiliki nilai ekonomi fantastis dan banyak diburu kolektor. Sebagian kolektor rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar hingga pergi ke luar negeri demi mendapatkan kartu Pokémon impian mereka. Kartu Pokémon yang dulu mudah ditemukan di pedagang mainan kini telah masuk ke pasar global dan dianggap sebagai barang koleksi bernilai tinggi.

Beragam Ketertarikan para Pemburu Kartu

Salah satu kolektor sekaligus pedagang kartu Pokémon, Erin (25), mengatakan bahwa jenis kartu yang paling diburu kolektor sangat beragam. Ia menyampaikan, setiap kolektor memiliki ketertarikan tersendiri, baik karena karakter Pokémon tertentu, ilustrator, seri, maupun faktor lainnya.

"Sangat beragam. Ada yang khusus koleksi kartu vintage, ada yang koleksi Pokémon tertentu saja seperti Psyduck," tutur Erin ketika ditelepon Kompas.com melalui WhatsApp, Senin (18/5/2026).

Menurut Erin, kartu-kartu vintage atau keluaran lama banyak dicari karena memberi nilai nostalgia terhadap seri Pokémon terdahulu. Selain itu, kartu vintage umumnya sudah tidak lagi diproduksi dalam jumlah banyak sehingga keberadaannya di pasaran semakin langka dan hanya dimiliki sebagian orang. Kelangkaan inilah yang membuat harga kartu Pokémon vintage dapat mencapai jutaan hingga ratusan juta rupiah.

Kolektor lain, WY (38), juga mengatakan bahwa kartu yang paling banyak diburu umumnya merupakan kartu vintage atau edisi lama. Salah satu contohnya ialah kartu yang diterbitkan pada 1999. Menurut WY, jumlah kartu tersebut kini semakin sedikit karena tidak semua kolektor menyimpannya dengan baik sejak dahulu. Meski begitu, tidak semua kartu vintage otomatis memiliki harga tinggi. Biasanya, kartu yang paling dicari adalah kartu dengan karakter ikonik.

"Semakin lama (kartunya) semakin mahal. Tapi, tidak semua kartu, hanya lebih ke kartu-kartu yang terlihat iconic. Rata-rata pasti icon-icon-nya. Contoh, Pikachu dan Charizard," ucap WY ketika dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Senin.

Karena itu, WY tidak setuju jika koleksi kartu Pokémon selalu dianggap sebagai hobi mahal. Menurut dia, masih banyak kartu modern atau keluaran terbaru yang harganya terjangkau. Selain itu, tidak sedikit kolektor yang mengoleksi kartu dengan harga puluhan ribu rupiah.

"Banyak juga kok kartu yang dijual hanya ribuan perak. Jadi, menurutku berita terlalu ngegoreng karena selalu menganggap kartu Pokemon mahal, padahal ada juga yang murah dan lucu-lucu," jelas WY.

Proses Panjang di Balik Lonjakan Harga

Kolektor lainnya, Bagir (37), menjelaskan bahwa harga kartu Pokémon bisa mencapai ratusan juta rupiah jika telah melalui proses grading atau sertifikasi. Ia mencontohkan, seseorang membeli satu pack kartu Pokémon seharga Rp 200.000. Setelah dibuka atau “dibrewek”, ternyata mendapatkan kartu langka atau “hit” yang banyak dicari kolektor. Agar kartu tersebut memiliki nilai tinggi, kartu harus melalui proses grading terlebih dahulu. Grading biasanya dilakukan oleh lembaga independen seperti Professional Sports Authenticator (PSA) di Amerika Serikat atau Jepang. Proses sertifikasi itu bertujuan menilai kondisi fisik kartu dan tingkat keasliannya. Kartu yang memperoleh nilai 10 biasanya dihargai sangat mahal karena dianggap memiliki kondisi sempurna.

"Faktor penilaiannya meliputi kebersihan, tidak ada titik putih, kualitas cetakan yang bagus, dan simetris antara sisi kanan-kiri serta atas-bawah," ungkap Bagir ketika dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Senin.

Setelah tersertifikasi, kartu biasanya disimpan di dalam akrilik bening atau disebut “slab” agar tetap awet dan terlindungi. Jika memperoleh nilai sempurna, harga kartu bisa melonjak berkali-kali lipat.

"Misalnya kartu mentahnya harga Rp 2 juta, jika dapat nilai 10 bisa menjadi Rp 8 juta atau lebih," sambung Bagir.

Namun, proses sertifikasi tidak mudah karena harus dilakukan di luar negeri. Biaya grading di luar negeri berkisar 25-30 dollar AS atau sekitar Rp 442.750 hingga Rp 531.300. Menurut Bagir, di Indonesia memang ada jasa perantara untuk mengurus sertifikasi dengan biaya sekitar Rp 600.000 hingga Rp 750.000. Meski begitu, prosesnya cukup lama karena kartu harus dikirim ke luar negeri terlebih dahulu sebelum dikembalikan ke Indonesia. Total proses bisa memakan waktu lima hingga enam bulan. Karena prosesnya panjang, Bagir lebih memilih membeli kartu yang sudah tersertifikasi.

"Koleksi saya yang sudah disertifikasi biasanya saya beli sudah dalam kondisi jadi atau sudah dislab. Harganya variatif, ada yang Rp 1 juta hingga belasan juta rupiah," ucap Bagir.

Selain membeli kartu tersertifikasi, Bagir juga lebih suka membeli kartu dalam bentuk boks karena kondisinya masih tersegel rapi. Menurut dia, membeli pack satuan lebih berisiko karena harganya cukup mahal, sekitar Rp 200.000 hingga Rp 400.000 untuk isi 10 kartu.

"Kalau tidak beruntung, kita tidak dapat kartu bagus. Akhirnya saya lebih memilih investasi dengan membeli kartu dalam kondisi masih tersegel di dalam boks," ucap Bagir.

Selain masih tersegel, harga kartu yang masih di dalam boks juga cenderung stabil dan naik di pasaran, karena jumlahnya semakin sedikit seiring banyaknya orang yang membukanya. Di tengah meningkatnya tren koleksi kartu Pokémon, kartu palsu juga mulai banyak beredar dan membuat kolektor pemula tertipu. Salah satu cara membedakan kartu asli dan palsu adalah menggunakan bantuan cahaya. Menurut Bagir, kartu palsu biasanya lebih mudah ditembus cahaya karena kualitas kertasnya berbeda dengan kartu asli.

"Jika disorot dengan lampu senter, kartu palsu biasanya cahayanya akan menembus dengan sangat jelas, sedangkan kartu asli lebih samar karena tekstur kertasnya lebih padat dan berkualitas," ungkap Bagir.

Namun, cara terbaik bagi pemula adalah datang ke acara komunitas dan bertanya langsung kepada kolektor atau vendor yang sudah berpengalaman.

Psikologi Pasar dan Hukum Kelangkaan

Pakar Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Agung Satria Permana mengatakan, sampai saat ini tak ada standar baku bagaimana harga suatu kartu menjadi sangat mahal.

"Namun, harga sebuah kartu lebih banyak dibentuk dari bagaimana popularitas suatu karakter di dalam komunitas dan seberapa langka kartu tersebut apakah edisi terbatas," ucap Agung ketika dihubungi Kompas.com, Senin.

Selain itu, berkembangnya industri grading juga memberi acuan bagi pembeli untuk menilai keaslian, kondisi, dan kelayakan harga sebuah kartu. Agung menilai kelangkaan memang menjadi faktor utama pembentuk nilai kartu Pokémon. Namun, kenaikan harga belakangan ini juga dipengaruhi tren dan psikologi pasar. Saat kartu Pokémon ramai dibicarakan di media sosial, diperlihatkan influencer lewat tren “brewek”, atau dikaitkan dengan potensi keuntungan, minat masyarakat ikut meningkat. Akibatnya, banyak orang masuk ke pasar bukan semata karena hobi atau memahami nilai koleksinya, melainkan karena takut tertinggal tren dan berharap harga kartu terus naik.

Artikel terkait

Rekomendasi