Masyarakat dunia memperingati Hari Ibu pada Minggu, 10 Mei 2026, sebagai momentum untuk menghormati pengabdian perempuan melalui berbagai tradisi mulai dari perayaan keluarga hingga refleksi mendalam mengenai nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Perayaan ini memiliki akar sejarah panjang dari festival dewi ibu di Yunani dan Romawi kuno serta tradisi Mothering Sunday di Inggris yang kemudian diformalkan oleh Presiden AS Woodrow Wilson pada 1914 atas prakarsa Anna Jarvis. Namun, perkembangan perayaan ini juga menghadapi kritik terkait komersialisasi yang dinilai mengaburkan makna ketulusan di balik peran seorang ibu dalam kehidupan sehari-hari.
Kolumnis Mike Dewey dalam laporannya melalui yourohionews.com memberikan catatan mengenai kompleksitas sejarah dan penolakan terhadap komersialisme yang sempat dilakukan oleh putri Anna Jarvis sendiri.
"Old age is not the season of ashes but the season of embers" ujar Saint-John Perse, penyair Prancis yang dikutip oleh Fr. M. Titus Mohan dalam tulisannya di indiancatholicmatters.org.
Fr. M. Titus Mohan menekankan bahwa kekuatan seorang ibu seringkali terpancar melalui ketabahan dalam menghadapi penyakit dan usia tua, di mana aktivitas spiritual seperti doa menjadi pilar yang menjaga keutuhan keluarga. Menurutnya, konsep keibuan juga melampaui batas biologis karena mencakup semua perempuan yang memberikan kehidupan, keberanian, dan kasih sayang kepada sesama tanpa harus menjadi sempurna.
"holy mother," kata Fr. M. Titus Mohan menggambarkan istilah yang sering disematkan masyarakat.
Ia berpendapat bahwa beban ekspektasi untuk menjadi sempurna justru dapat menyampingkan sisi kemanusiaan seorang ibu yang juga merasakan kelelahan dan ketakutan.
"mother from heaven," lanjut Fr. M. Titus Mohan.
Narasi mengenai pengorbanan tanpa batas seringkali membuat kebutuhan pribadi ibu terabaikan oleh standar masyarakat.
"perfect in every way." tutur Fr. M. Titus Mohan.
Dalam perspektif spiritual, St. Oscar Romero menyebut aktivitas harian ibu sebagai bentuk kemartiran yang terjadi secara perlahan dan sunyi di balik rutinitas mengasuh serta mendidik anak.
"Mothers are the strongest antidote to the spread of selfish individualism," kata Paus Fransiskus sebagaimana dikutip dalam laporan indiancatholicmatters.org.
Kehadiran ibu dinilai sebagai penangkal individualisme egois karena mereka mengajarkan kepercayaan dan kepedulian sebelum seorang anak mengenal dunia luar melalui buku atau institusi formal.
"nonprofit clinic," cetus Mike Dewey menirukan ucapan ibunya saat memprotes pembangunan di lahan hijau dekat rumah mereka.
Dewey menceritakan bagaimana ibunya memiliki sifat pembangkang yang kuat terhadap aturan yang dianggap tidak tepat, termasuk dalam menyikapi perubahan lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.
"That was some kind of smart … no way they'll ever catch you." kenang Mike Dewey atas ucapan ibunya setelah ia melakukan aksi protes di masa remaja.
Melalui perspektif Mike Dewey, penghormatan kepada ibu tidak harus selalu mengikuti pakem komersial, melainkan bisa dirayakan melalui penghargaan atas karakter unik dan kenangan personal yang ditinggalkan.
"O God, grant our mothers a little more life." tulis Fr. M. Titus Mohan menutup refleksinya.
Peringatan tahun ini diharapkan menjadi momen bagi masyarakat untuk memberikan dukungan nyata dan rasa hormat kepada perempuan atas peran mereka sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar simbol kesempurnaan.