Penyebab Pesawat Singapore Airlines Mendarat Darurat Akibat Gas Domba

Penyebab Pesawat Singapore Airlines Mendarat Darurat Akibat Gas Domba

Sebuah insiden unik terjadi dalam dunia penerbangan internasional yang melibatkan pesawat pengangkut barang milik maskapai Singapore Airlines. Pesawat kargo tersebut terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bali pada 27 Oktober 2025.

Dilansir dari Tekno, pendaratan darurat ini bukan dipicu oleh kerusakan mesin atau kendala teknis pada sistem bahan bakar. Penyebab utama gangguan penerbangan ini justru berasal dari gas buang atau kentut ribuan domba yang diangkut di dalam kabin.

Awalnya, kru pesawat tidak menyadari bahwa akumulasi gas dari hewan ternak tersebut bisa memicu prosedur darurat. Situasi ini sempat membuat petugas penerbangan bekerja keras untuk mengidentifikasi sumber masalah yang sebenarnya.

Pesawat yang terlibat dalam peristiwa ini adalah Boeing 747-400 freighter milik Singapore Airlines Cargo dengan nomor penerbangan SQ7108. Armada dengan registrasi 9V-SFI tersebut sedang menempuh rute dari Sydney menuju Kuala Lumpur.

Di dalam kabin kargo, pesawat mengangkut sebanyak 2.186 ekor domba hidup. Penerbangan ini juga diawaki oleh empat orang kru yang bertugas memastikan keamanan logistik selama di udara.

Berdasarkan data yang dikutip dari laporan The Aviation Herald, masalah muncul saat pesawat berada pada ketinggian jelajah 32.000 kaki. Posisi pesawat saat itu berada di wilayah udara sekitar 400 mil laut di sebelah selatan Denpasar.

Indikator peringatan asap di kokpit tiba-tiba menyala yang menunjukkan adanya deteksi asap di ruang kargo. Dalam protokol aviasi, peringatan semacam ini merupakan indikasi serius yang menandakan adanya potensi kebakaran di dalam pesawat.

Kru segera merespons dengan menurunkan ketinggian pesawat ke posisi 25.000 kaki. Mereka kemudian memutuskan untuk melakukan pengalihan penerbangan atau diversion ke Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar.

Hasil Investigasi Gas Metana

Pesawat akhirnya berhasil mendarat dengan aman di Bali sekitar 45 menit setelah peringatan muncul. Tim darurat bandara langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh pada seluruh bagian pesawat setelah pendaratan dilakukan.

Petugas tidak menemukan adanya titik api, suhu panas yang berlebih, maupun kerusakan pada sistem kargo. Hasil investigasi justru mengungkap bahwa gas metana dari kentut domba serta uap dari kotoran hewan telah memicu sensor sensitif di ruang kargo.

Kombinasi partikel dan gas tersebut dinilai cukup kuat untuk mengelabui sistem pendeteksi hingga mengategorikannya sebagai asap kebakaran. Meskipun jarang terjadi, fenomena ini memang memungkinkan dalam pengangkutan hewan ternak dalam jumlah besar.

Dalam industri aviasi, pengiriman hewan hidup memerlukan prosedur khusus karena panas tubuh dan gas yang dihasilkan dapat memengaruhi kualitas udara. Setelah kondisi dinyatakan sepenuhnya aman, pesawat SQ7108 kembali melanjutkan perjalanan menuju Kuala Lumpur.

Artikel terkait

Rekomendasi