Korea Aerospace Industries (KAI) resmi memulai produksi massal unit pertama jet tempur KF-21 Boramae pada Maret 2026 sebagai upaya memperkuat pertahanan domestik. Proyek jet supersonik canggih ini menempatkan Korea Selatan sebagai negara kedelapan di dunia yang berhasil mengembangkan pesawat tempur kelas elit.
Peluncuran produksi massal ini menandai fase baru bagi jet generasi 4,5 tersebut, dengan target pengiriman 40 unit Block I untuk Angkatan Udara Korea Selatan pada 2028. Dilansir dari Detik iNET, pengembangan KF-21 merupakan puncak dari proyek jangka panjang Seoul yang telah diinisiasi sejak tahun 2001 silam.
Dosen studi pertahanan di King's College London, Bence Nemeth, memberikan analisis terkait posisi tawar pesawat ini di pasar internasional. Nemeth menilai keunggulan Korea Selatan terletak pada aspek biaya, kualitas, serta kecepatan pengiriman unit ke negara pembeli.
"Karenanya, KF-21 butuh pemasaran agresif dan jaminan keberlanjutan jangka panjang yang kredibel. Versi siluman lebih canggih dari KF-21 dapat bersaing lebih langsung dengan pesawat generasi kelima, tapi itu tetap bergantung pada peningkatan di masa depan, pemasaran, dan hubungan politik Seoul dengan pasar potensial," sebut Bence Nemeth, Dosen studi pertahanan di King's College London.
Selain faktor teknis, keberhasilan ekspor jet ini sangat bergantung pada stabilitas rantai pasokan dan dinamika politik global. Korea Selatan kini berupaya meningkatkan volume ekspor guna menekan biaya produksi per unit agar tetap kompetitif melawan jet tempur dari China, Amerika Serikat, dan Eropa.
Keterlibatan Indonesia dalam proyek ini juga mencatat perkembangan baru setelah adanya negosiasi ulang beban finansial. Jakarta dilaporkan mempertimbangkan pembelian 16 pesawat Block II, meskipun kontribusi pendanaan sempat direvisi dari 1,5 triliun won menjadi 600 miliar won pada tahun lalu.
Peneliti Centre for Foreign Policy and National Security, Yang Uk, menyoroti bahwa rekam jejak operasional menjadi faktor krusial yang masih dinantikan oleh para calon pembeli internasional.
"Pada dasarnya, kinerjanya belum 100 persen. Pesawat ini harus mencapai Block II terlebih dahulu, dimulai dengan kemampuan serangan darat, agar fungsi-fungsi ini terintegrasi pada tingkat tertentu sebelum dapat dievaluasi sebagai pesawat yang mampu melakukan operasi skala penuh," ujar Yang Uk, Peneliti Centre for Foreign Policy and National Security.
Pesawat model Block I saat ini difokuskan untuk misi superioritas udara dengan persenjataan rudal Meteor dan IRIS-T. Sementara itu, pengembangan Block II yang mencakup kemampuan serangan udara ke darat dan laut ditargetkan selesai pada awal tahun depan guna mencapai kapabilitas tempur penuh.
Pengembangan jangka panjang diproyeksikan berlanjut hingga dekade 2030-an melalui model Block III. Versi tersebut direncanakan memiliki kemampuan siluman penuh serta fitur generasi keenam, termasuk integrasi drone pendamping atau wingmen dalam operasinya.