Skenario pertemuan manusia dengan makhluk luar angkasa menjadi pembahasan serius di kalangan ilmuwan. Kontak pertama diprediksi terjadi melalui deteksi sinyal, bukan kedatangan pesawat antariksa secara mendadak.
Kemungkinan ini disampaikan oleh Prof. Michael Garrett selaku direktur Jodrell Bank Centre for Astrophysics. Fenomena ini dilansir dari Detik iNET yang mengutip laporan BBC pada Rabu, 3 Juni 2026.
Mengenai potensi keberadaan makhluk luar angkasa tersebut, Michael Garrett memberikan pandangan mengenai situasi yang mungkin terjadi di alam semesta.
"Peradaban alien mana pun kemungkinan besar jauh lebih maju daripada kita. Mereka bisa saja menyembunyikan diri," sebutnya yang dikutip detikINET dari BBC, Rabu (3/6/2026).
Menurut Michael Garrett, pengetahuan mengenai eksistensi makhluk asing lebih berpotensi diperoleh melalui observatorium yang menangkap sinyal ekstraterestrial.
Guna mengantisipasi situasi tersebut, organisasi dalam SETI atau Search for Extra-Terrestrial Intelligence telah merumuskan protokol khusus kontak pertama.
Prosedur awal yang wajib dilakukan adalah menjaga kerahasiaan temuan sampai verifikasi selesai dilaksanakan secara luas oleh pihak berwenang.
"Langkah pertama adalah verifikasi sinyal oleh observatorium independen," kata Garrett.
Setelah verifikasi berhasil dilakukan, pemerintah dari negara yang menemukan sinyal beserta Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB harus segera mendapatkan laporan. Publikasi kepada masyarakat luas akan dilakukan sesaat setelah tahapan tersebut terpenuhi.
Kendati alur resmi telah ditetapkan, Michael Garrett menyatakan pandangan skeptis mengenai realisasi aturan tersebut saat berhadapan dengan situasi nyata.
"Apakah protokol tersebut akan benar-benar diterapkan, saya sedikit ragu," ungkap Garrett.
Implementasi di lapangan sangat bergantung pada karakteristik sinyal alien yang ditangkap. Faktor kemampuan manusia dalam memahami serta menerjemahkan pesan tersebut juga menjadi penentu, termasuk keputusan untuk mengirimkan jawaban.
Persoalan lain yang muncul adalah potensi adanya kelompok amatir yang bertindak sendiri tanpa koordinasi resmi untuk membalas sinyal tersebut.
"Tidak diragukan lagi akan ada kelompok-kelompok kecil penggemar dan amatir akan mengirim sinyal. Namun apa yang memberi hak kelompok, individu, atau negara mengirim pesan atas nama planet? Di sini keterlibatan PBB menjadi penting, meskipun saat ini PBB belum memiliki pandangan resmi mengenai hal ini," sebutnya.
Dampak penemuan kehidupan cerdas di luar Bumi sering digambarkan membawa perubahan masif bagi cara pandang umat manusia terhadap diri mereka sendiri.
Skenario fiksi ilmiah memproyeksikan manusia akan menjadi lebih bersatu dan termotivasi oleh penjelajahan dibanding konflik, namun respons nyata masyarakat masih belum dapat dipastikan.
"Saya rasa banyak hal bergantung pada jarak. Jika alien berada di dalam Tata Surya kita, saya rasa orang akan khawatir. Namun jika mereka berada di sisi lain galaksi, saya pikir orang-barang justru akan antusias," cetus Garrett.
Penemuan peradaban luar angkasa juga diperkirakan memicu penyesuaian ajaran pada beberapa organisasi keagamaan, meskipun sebagian besar dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang baik.
"Beberapa organisasi keagamaan mungkin perlu mengubah doktrin tapi sebagian besar agama cukup pandai beradaptasi dengan hal-hal baru yang muncul. Saya ingin percaya bahwa jika kita menemukan peradaban lain di luar sana, itu akan mempercepat kedewasaan politik, etika, dan moralitas kita sendiri," pungkasnya.