Psikolog Ingatkan Orang Tua Tak Terburu Kenalkan Anak ke Pasangan Baru

Psikolog Ingatkan Orang Tua Tak Terburu Kenalkan Anak ke Pasangan Baru

Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., menyoroti pentingnya menjaga stabilitas emosional dan rasa aman anak sebelum orang tua memutuskan untuk memperkenalkan pasangan baru setelah perpisahan. Penegasan ini muncul sebagai respons atas dinamika hubungan antara Na Daehoon dan Julia Prastini yang menjadi sorotan publik pada Selasa (5/5/2026).

Danti menjelaskan bahwa setiap interaksi dengan sosok dewasa baru dapat memengaruhi fondasi emosional anak secara signifikan, terutama bagi balita yang sedang berada dalam fase pembentukan kepercayaan dasar. Kehadiran figur baru dianggap memerlukan pertimbangan matang berdasarkan perspektif psikologi perkembangan.

"Melihat dinamika yang terjadi pada kasus tersebut, terdapat beberapa poin krusial yang bisa ditinjau dari perspektif psikologi perkembangan dan teori kelekatan atau attachment theory," kata Danti, Psikolog Ibunda.id.

Menurut laporan Kompas.com, tidak ada patokan waktu pasti secara angka mengenai kapan saat paling aman untuk mengenalkan pasangan baru. Namun, kondisi anak yang harus sudah stabil pasca-perpisahan orang tua menjadi indikator utama yang tidak bisa diabaikan.

"Anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan rutinitas baru setelah orangtua berpisah," ujar Danti.

Selain faktor kesiapan anak, kematangan hubungan baru juga menjadi pertimbangan penting bagi orang tua. Para ahli menyarankan masa penjajakan sekitar enam hingga 12 bulan untuk memastikan hubungan memiliki potensi jangka panjang sebelum melibatkan anak di dalamnya.

"Sebaiknya, anak bisa diperkenalkan kepada pasangan jika hubungan tersebut sudah berada di tahap komitmen yang sangat serius," kata Danti.

Danti menambahkan bahwa anak balita sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, sehingga kehadiran orang asing secara mendadak berisiko memicu kecemasan perpisahan yang tinggi. Anak dapat merasa terancam jika menganggap perhatian orang tua akan terbagi kepada sosok baru tersebut.

Proses perkenalan pun disarankan dilakukan secara bertahap di lokasi netral, seperti taman bermain atau restoran, dengan durasi yang singkat. Penggunaan istilah "teman" lebih dianjurkan daripada langsung memakai sebutan orang tua baru untuk menghindari konflik loyalitas.

"Kenalkan pasangan sebagai teman," kata Danti.

Lebih lanjut, orang tua diminta untuk tetap memberikan perhatian penuh selama pertemuan berlangsung agar anak tidak merasa terabaikan. Psikolog menegaskan bahwa orang tua tidak boleh mengenalkan setiap pasangan baru demi menjaga konsistensi figur dewasa dalam hidup anak.

"Menjaga privasi anak dan memastikan mereka tidak terpapar pada dinamika romantis orang dewasa yang belum stabil adalah langkah protektif yang esensial bagi kesehatan mental mereka dalam jangka panjang," ujar Danti.

Artikel terkait

Rekomendasi