Keberanian siswi SMAN 1 Pontianak dalam memprotes keputusan juri pada ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI baru-baru ini memicu diskusi publik mengenai pentingnya karakter asertif pada remaja. Dilansir dari Lifestyle, para ahli menilai kemampuan menyuarakan pendapat tersebut merupakan hasil bentukan lingkungan yang memberikan ruang berekspresi sejak dini.
Psikolog Anak dan Remaja RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, mengungkapkan bahwa ketegasan yang tetap santun bukan merupakan sifat bawaan, melainkan keterampilan yang dilatih melalui pembiasaan di rumah. Lingkungan keluarga memegang peranan vital dalam menentukan apakah seorang anak berani berbicara di depan figur otoritas atau justru memilih diam.
"Komunikasi asertif itu bisa dilatih sejak kecil. Anak perlu diberi ruang untuk menyampaikan ketidaksetujuan atau perasaannya tanpa langsung dimarahi," ujar Joko, Psikolog Anak dan Remaja RS Dr. Oen Solo Baru.
Joko menekankan bahwa fondasi keberanian moral adalah perasaan aman saat berbicara, karena banyak anak enggan bersuara akibat sering dipotong atau dibentak oleh orang dewasa. Pola asuh yang represif cenderung membuat anak merasa pendapat mereka tidak memiliki nilai penting dalam sebuah diskusi.
"Kadang anak belum selesai bicara sudah dimarahi atau langsung disuruh diam. Lama-lama mereka merasa pendapatnya tidak penting," kata Joko, Psikolog Anak dan Remaja RS Dr. Oen Solo Baru.
Selain memberikan ruang, orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan pilihan kata agar ketidaksetujuan disampaikan dengan cara yang sehat dan sopan. Hal ini bertujuan agar perbedaan pendapat tidak berakhir menjadi konflik, melainkan diskusi yang konstruktif.
"Anak boleh berbeda pendapat, tetapi tetap perlu diarahkan bagaimana cara menyampaikannya dengan baik," lanjut Joko, Psikolog Anak dan Remaja RS Dr. Oen Solo Baru.
Dari perspektif psikologi, perlakuan tidak adil yang dialami anak saat berkompetisi atau berinteraksi dapat menimbulkan bekas emosional yang lebih mendalam dibandingkan sebuah kekalahan teknis. Rasa tidak dihargai berisiko merusak kepercayaan diri dan kredibilitas anak terhadap sistem yang ada di sekitarnya.
"Kalah karena merasa diperlakukan tidak adil bisa menimbulkan kecewa, marah, malu, bahkan hilang kepercayaan terhadap orang dewasa atau sistem," ujar Joko, Psikolog Anak dan Remaja RS Dr. Oen Solo Baru.
Integritas orang dewasa juga diuji melalui cara mereka merespons kritik dari generasi yang lebih muda tanpa merasa wibawanya terancam. Sikap terbuka dalam mengakui kesalahan justru dipandang sebagai bentuk kedewasaan emosional yang memberikan contoh nyata bagi anak-anak.
"Kalau memang ada kekeliruan, mengakui kesalahan bukan berarti kehilangan wibawa. Itu justru menunjukkan integritas," katanya Joko, Psikolog Anak dan Remaja RS Dr. Oen Solo Baru.
Penerimaan masukan secara tenang oleh orang dewasa akan mengajarkan anak bahwa perbedaan pendapat adalah hal wajar yang bisa diselesaikan secara tertib. Hal ini sekaligus memastikan anak tetap merasa memiliki hak untuk bersuara dalam berbagai situasi.
"Yang penting anak tetap diberi ruang untuk bersuara, sementara cara penyampaiannya tetap diarahkan agar sopan dan tertib," ujar Joko, Psikolog Anak dan Remaja RS Dr. Oen Solo Baru.