PSN Operasikan Satelit Nusantara Lima untuk Perkuat Konektivitas ASEAN

PSN Operasikan Satelit Nusantara Lima untuk Perkuat Konektivitas ASEAN

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) secara resmi mengoperasikan Satelit Nusantara Lima pada Senin (11/5/2026) di Jakarta guna memperkuat kapasitas nasional dan kemandirian konektivitas digital di kawasan Asia Tenggara. Dilansir dari Teknologi, satelit yang menjangkau wilayah Indonesia, Malaysia, dan Filipina ini sebelumnya telah meluncur pada 11 September 2025.

Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso menjelaskan bahwa kehadiran infrastruktur ini menjadi bukti nyata peningkatan kekuatan Indonesia dalam menyediakan layanan digital di tengah dinamika geopolitik. Satelit tersebut diproyeksikan memberikan kedaulatan kapasitas bagi negara-negara tetangga.

"Satelit Nusantara Lima memiliki cakupan Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Bentuk dari peningkatan kekuatan Indonesia dalam menghadirkan konektivitas digital di negara Asean ini," kata Adi Rahman Adiwoso, Direktur Utama PSN.

Adi memaparkan bahwa posisi Indonesia saat ini sangat diperhitungkan dalam industri antariksa global dengan total kapasitas satelit mencapai sekitar 400 gigabit per second. Kapasitas tersebut diklaim sebagai yang terbesar di kawasan Asia Pasifik, melampaui capaian negara besar lainnya.

"Sampai saat ini Indonesia adalah pemain terbesar di Asean dan salah satu kekuatan utama di kawasan Asia Pasifik. Kita sekarang memiliki kapasitas satelit terbesar di Asia Pasifik. Lebih besar daripada China dan lebih besar daripada Jepang," kata Adi Rahman Adiwoso, Direktur Utama PSN.

Kemandirian teknologi dianggap sangat krusial agar negara tidak memiliki ketergantungan berlebihan pada pihak asing, terutama saat terjadi perubahan situasi politik internasional. PSN sendiri telah menginvestasikan lebih dari Rp23 triliun dalam satu dekade terakhir untuk pengembangan tiga program satelit geostasioner.

"Kita harus berani untuk bergantung pada kapasitas nasional punya kita sendiri bila ada perubahan geopolitik yang tidak diinginkan dan tidak bergantung kepada pihak lain," katanya Adi Rahman Adiwoso, Direktur Utama PSN.

Menurutnya, infrastruktur komunikasi masa depan telah bergeser fungsi dari sekadar urusan bisnis menjadi bagian vital dari pertahanan dan keamanan nasional. Hal ini mendorong urgensi bagi negara untuk memiliki sistem dan jaringan teknologi yang dikelola secara mandiri.

"Mereka membangun sistem sendiri, satelit sendiri, teknologi sendiri, jaringan sendiri. Mengapa? Karena mereka memahami bahwa infrastruktur digital dan komunikasi hari depan bukan hanya soal bisnis. Tetapi mencakup masalah pertahanan, keamanan, serta masa depan negara itu tersendiri," kata Adi Rahman Adiwoso, Direktur Utama PSN.

Selain pengembangan satelit, Adi menyoroti potensi pembangunan bandar antariksa di Biak yang direncanakan bekerja sama dengan Rusia, India, dan Turki. Lokasi strategis di garis khatulistiwa tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar peluncuran hingga 15 persen.

"Dengan adanya bandar antariksa yang direncanakan di Biak, Indonesia akan dapat mengamankan akses ke luar angkasa," ujarnya Adi Rahman Adiwoso, Direktur Utama PSN.

Perusahaan juga aktif mengoptimalkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui riset internal, termasuk pengembangan perangkat antena Cedric. Upaya ini dibarengi dengan dukungan terhadap pengembangan talenta lokal di bidang roket amatir dan satelit nano.

"Ini salah satu program strategis PSN untuk meningkatkan kemandirian nasional, memacu industri dalam negeri, dan mengedepankan optimalisasi TKDN dengan memproduksi produk-produk PSN di dalam negeri sendiri," kata Adi Rahman Adiwoso, Direktur Utama PSN.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid memberikan apresiasi terhadap keberhasilan PSN dalam menuntaskan seluruh tahapan proyek dari pengembangan hingga operasional. Ia menilai langkah ini menunjukkan eksistensi kuat Indonesia di kancah internasional.

"Mengucapkan apresiasi kami kepada PT Pasifik Satelit Nusantara keberhasilan menyelesaikan seluruh tahapan pengembangan peluncuran hingga pengoperasian satelit Nusantara Lima," kata Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital.

Meutya mengungkapkan bahwa meskipun 80 persen populasi Indonesia telah terkoneksi internet, pemerataan akses ke wilayah terluar seperti Miangas masih menjadi prioritas utama pemerintah. Pembangunan konektivitas diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara inklusif.

"Keinginan kita adalah bagaimana agar 280 juta warga Indonesia bisa terhubung dan tidak hanya di daerah-daerah yang dekat dari Pulau Jawa, tapi di berbagai daerah sampai Sabang, sampai Merauke, sampai Pulau Rote, sampai Miangas," katanya Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital.

Dalam menutup pernyataannya, Meutya menekankan bahwa pembangunan ekosistem industri antariksa memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah dan pihak swasta. Pemerintah berkomitmen terus membuka ruang komunikasi bagi pelaku industri untuk memperkuat pertahanan digital nasional.

"Kita meyakini bahwa ekosistem ini dibangun bersama, bukan oleh pemerintah, tapi justru titik berat ada pada industri," kata Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital.

Artikel terkait

Rekomendasi