Pemanfaatan teknologi blockchain serta aset digital di kawasan Asia Tenggara kini dinilai kian masuk ke dalam fase penggunaan riil oleh masyarakat luas. Aktivitas finansial harian perlahan mulai melibatkan teknologi web3, mulai dari pengiriman dana lintas negara, sistem pembayaran digital, hingga penyimpanan aset kripto berbasis stablecoin.
Melihat tren perkembangan tersebut, Rise In bersama dengan Stellar Development Foundation secara resmi menggulirkan program APAC Stellar Hackathon 2026 yang telah dimulai sejak 14 Mei 2026. Kompetisi ini diproyeksikan menjadi salah satu ajang peretasan web3 terbesar di wilayah Asia Pasifik.
Seperti dikutip dari Detik iNET, program ini sengaja melibatkan para pengembang, penemu startup, hingga pembangun ekosistem digital dari berbagai negara. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan aplikasi keuangan digital berbasis blockchain yang mampu diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kawasan Asia Tenggara dipilih sebagai titik fokus utama lantaran wilayah ini mencatatkan pertumbuhan ekonomi digital tercepat di dunia. Selain itu, kebijakan regulasi terkait aset digital di sejumlah negara kian terbuka, beriringan dengan lonjakan transaksi berbasis blockchain.
Indonesia menjadi salah satu negara yang memperoleh perhatian besar setelah fungsi pengawasan aset kripto dialihkan secara resmi ke Otoritas Jasa Keuangan atau OJK sejak Januari 2025. Di sisi lain, negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand turut membuka ruang regulasi yang luas bagi inovasi finansial.
Berdasarkan data dari laporan keuangan Chainalysis, wilayah Asia Pasifik bahkan didapuk sebagai kawasan dengan pertumbuhan aktivitas on-chain paling agresif di dunia. Volume transaksi aset kripto di regional ini melonjak hingga 69% secara tahunan, mencapai nilai US$2,36 triliun dalam rentang waktu 12 bulan hingga Juni 2025.
Country Lead Rise In Indonesia, Kenny Rivaldi menyatakan bahwa Asia Tenggara memiliki kans yang luar biasa besar untuk bertransformasi menjadi pusat inovasi teknologi finansial untuk generasi masa depan.
"Asia Tenggara punya potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan inovasi teknologi keuangan berikutnya. Kami ingin Hackathon ini menjadi ruang lahirnya solusi-solusi yang tidak hanya menarik secara teknologi, tetapi juga benar-benar relevan dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya Minggu (24/5/2026).
Menurut penjelasan Kenny Rivaldi, inisiatif ini tidak melulu berorientasi pada ajang kompetisi teknologi semata. Pihaknya berupaya keras untuk merajut ekosistem talenta digital yang kokoh di kawasan regional Asia Pasifik.
"Kami berharap semakin banyak developer muda dari Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara yang berani membangun produk digital dengan dampak nyata. Target kami bukan hanya menghasilkan proyek selama Hackathon berlangsung, tetapi juga membuka jalan agar solusi-solusi terbaiknya bisa terus berkembang setelah program selesai," lanjutnya.
Sepanjang jalannya hackathon, seluruh peserta dituntut untuk mematangkan berbagai ragam solusi finansial berbasis blockchain yang berpusat pada kegunaan pengguna. Beberapa klasifikasi yang menjadi prioritas meliputi sistem pembayaran lintas batas, dompet digital, jasa remitansi, pengupahan berbasis stablecoin, hingga desentralisasi keuangan (DeFi).
Pihak Rise In bersama Stellar juga memotivasi peserta untuk merancang aplikasi yang terintegrasi langsung dengan ekosistem blockchain Stellar. Hal ini mencakup pemanfaatan infrastruktur pembayaran, protokol DeFi, serta dompet digital yang sebelumnya sudah tersedia.
Kompetisi berskala internasional ini terbuka lebar untuk para pengembang web3, kelompok mahasiswa, pendiri startup, praktisi engineer, hingga publik yang berminat meniti solusi finansial blockchain. Selain memperluas relasi global, peserta berkesempatan memperebutkan total hadiah senilai USD 60.000 atau berkisar Rp970 juta.
Bagi para peserta dengan inovasi terbaik nantinya akan mendapatkan bimbingan mentorship eksklusif dari jaringan ekosistem Stellar, pembelajaran teknis, workshop, sertifikasi resmi Rise In, hingga peluang insentif grant. Kegiatan ini diselenggarakan daring lewat rangkaian workshop serta aktivasi kampus di Indonesia, Vietnam, dan Filipina, lalu ditutup dengan babak final offline serentak.