Wilayah Santa Clara Gugat Meta Atas Iklan Penipuan di Media Sosial

Wilayah Santa Clara Gugat Meta Atas Iklan Penipuan di Media Sosial

Wilayah Santa Clara di California resmi menggugat Meta Platforms pada Senin, 11 Mei 2026, atas tuduhan pengambilan keuntungan dari iklan penipuan di Facebook dan Instagram. Gugatan yang diajukan di Pengadilan Tinggi Santa Clara ini mengeklaim Meta melanggar undang-undang periklanan palsu dan praktik bisnis tidak adil di California.

Tindakan hukum tersebut mewakili seluruh penduduk California dan menuduh raksasa media sosial itu membiarkan iklan curang terjadi secara global. Pihak penggugat kini menuntut restitusi, ganti rugi perdata, serta perintah pengadilan untuk melarang Meta melanjutkan praktik bisnis yang dinilai tidak adil tersebut.

Aduan tersebut merujuk pada dokumen internal bocor yang pertama kali dilaporkan Reuters tahun lalu, yang menyatakan perusahaan memperoleh pendapatan tahunan hingga $7 miliar dari iklan berisiko tinggi. Santa Clara menuduh Meta lebih memilih menetapkan pembatasan pada upaya pengurangan penipuan daripada melakukan penumpasan secara luas.

Penegasan mengenai skala pelanggaran ini disampaikan oleh Penasihat Wilayah Santa Clara, Tony LoPresti, yang menyoroti tanggung jawab perusahaan teknologi di Silicon Valley terhadap hukum yang berlaku.

"The scale of Meta’s misconduct has reached an extraordinary level, and it needs to stop," ujar Tony LoPresti, Penasihat Wilayah.

LoPresti menambahkan bahwa sebagai jaksa sipil di wilayah pusat teknologi dunia, lembaganya memiliki kewajiban khusus untuk memastikan akuntabilitas perusahaan besar.

"As civil prosecutors in Silicon Valley, we have a special duty to hold tech companies accountable to the law," kata Tony LoPresti, Penasihat Wilayah.

Meta tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait gugatan terbaru ini, namun sebelumnya perusahaan secara konsisten menolak klaim bahwa mereka sengaja menerima iklan penipuan demi pendapatan. Tahun lalu, juru bicara Meta menyatakan bahwa pihaknya agresif dalam memerangi penipuan karena konten tersebut merugikan pengguna dan pengiklan sah.

"We aggressively fight fraud and scams because people on our platforms don’t want this content, legitimate advertisers don’t want it and we don’t want it either," ujar Juru Bicara Meta, Perwakilan Perusahaan.

Namun, dalam berkas gugatan, Santa Clara menilai pernyataan tersebut justru merupakan bagian dari perilaku buruk Meta untuk menipu publik dan menyembunyikan ketergantungan laba pada iklan palsu. Gugatan tersebut mengeklaim Meta memiliki kemampuan untuk mengatur volume iklan penipuan guna mencapai target pendapatan tertentu.

"On information and belief, Meta can even adjust the flood of scam ads it allows on its platforms in order to smooth its earnings or hit specific revenue targets," tulis Santa Clara, dalam dokumen gugatan.

Santa Clara juga menuduh Meta berkontribusi pada wabah penipuan dengan membiarkan perantara menjual akun yang terlindung dari penegakan hukum untuk memasang iklan. Berdasarkan pengujian Reuters, sistem kecerdasan buatan generatif milik Meta juga dituduh membantu pemasar tidak etis dalam membuat materi iklan penipuan.

Artikel terkait

Rekomendasi