Paradigma lama yang menganggap pusat data berkapasitas 1 megawatt sebagai fasilitas besar kini sudah tidak berlaku lagi. Hal ini dipicu oleh lonjakan beban kerja kecerdasan buatan (AI) modern.
Dilansir dari Medcom, Senior Vice President sekaligus Chief Technology Officer (CTO) Schneider Electric, Jim Simonelli, menyampaikan hal tersebut dalam forum penutup Computex 2026 di Taipei. Menghadapi era gigawatt secara berkelanjutan, efisien, dan efektif memerlukan tiga tema dasar arsitektur pusat data.
Tiga tema utama tersebut meliputi aspek kepadatan bangunan, pengelolaan suhu panas, serta interaksi yang stabil dengan jaringan listrik (grid).
Tema pertama adalah pentingnya membangun secara padat (build thick). Konsolidasi perangkat komputer dalam ruang rapat memberikan performa belanja modal (CapEx) per megawatt yang jauh lebih baik sehingga produksi token aktivitas data center menjadi lebih efektif.
Tema kedua berfokus pada penolakan panas (e-rejection). Industri disarankan berani menjalankan sistem dengan suhu lebih panas pada kisaran target 40 hingga 45 derajat Celsius.
Pengoperasian suhu tinggi ini membuat penolakan panas dapat dilakukan tanpa sistem pendingin mekanis masif. Hasilnya, setiap watt daya yang masuk dialokasikan sepenuhnya untuk komputasi server guna menghasilkan pendapatan.
Kemajuan teknologi masa depan bahkan diarahkan untuk mengubah sisa pembuangan panas tersebut kembali menjadi tenaga listrik yang berguna.
Tema ketiga berkaitan erat dengan interaksi dan pemanfaatan jaringan listrik (grid interaction). Pemanfaatan unit UPS atau konversi AC-DC yang dikaitkan dengan penyimpanan (storage) menjadi elemen vital agar variasi daya yang naik turun cepat tidak mengganggu stabilitas jaringan.
Gangguan kecil pada perangkat transisi di skala raksasa dapat menyebabkan daya sebesar 3 gigawatt keluar mendadak dari jaringan listrik dan sulit kembali. Simonelli menekankan hal ini sebagai prinsip arsitektur nyata untuk membangun pusat data berskala besar secara berkelanjutan.
Schneider Electric juga menerbitkan White Paper 213 untuk mengurai kerumitan rekayasa tersebut menjadi solusi praktis. Dokumen itu menyebutkan desain pusat data arus searah (DC) selalu bervariasi pada penyedia skala besar (hyperscaler), ritel, maupun grosir (wholesale) sesuai masalah yang dihadapi.
Aspek proteksi kelistrikan, selektivitas keamanan, serta pendekatan holistik antara keputusan teknologi informasi (IT) dan infrastruktur fisik juga harus dipikirkan secara matang.
Mengenai adopsi teknologi kelistrikan ini, Simonelli memberikan pandangan yang realistis mengenai persaingan industri.
"Kadang-kadang teknologi terbaik tidak menang, karena, ingat, prinsip ini adalah skala dan kecepatan skala, yang berarti kita harus siap membangun di gigawat skala."
Faktor kapasitas rantai pasokan (supply chain) menjadi penentu utama dalam memilih arsitektur yang tepat untuk masa kini dan masa depan. Seluruh prosedur operasi serta pemeliharaan teknologi baru seperti OBC juga wajib didokumentasikan ketat agar dipahami elemen operasional manusia, robot, maupun drone.
Peningkatan densitas rak generasi berikutnya memaksa industri beralih ke tegangan yang lebih tinggi seperti implementasi sistem 800V guna menyalurkan daya optimal. Jalur distribusi tradisional yang memakan banyak ruang membuat industri mulai memindahkan seluruh komponen daya keluar ke rak khusus (power rack) di sebelah rak IT.
Meskipun arsitektur lokal dengan rasio satu-ke-satu hasil kemitraan Betagoogle dan NVIDIA sangat umum saat ini, arah industri diproyeksikan bergerak menuju sistem sentralisasi penuh untuk seluruh data center. Sentralisasi daya DC menawarkan keuntungan berupa penskalaan terukur, keluaran daya (throughput) kabel lebih besar, dan kemudahan koordinasi teknik integrasi jaringan listrik luar.
Schneider Electric memproyeksikan implementasi blok daya DC terpusat berkapasitas 2 hingga 5 megawatt menggunakan teknologi seperti DC-UPS, konverter modular pada transformator, atau Solid State Circuit Breaker (SSD) mulai digelar masif pada 2026 hingga 2027. Ukuran blok pusat data terpusat ini diperkirakan terus berkembang menuju skala raksasa hingga mencapai kapasitas 12 megawatt.