Kue Bantal Bertahan di Jakarta Sebagai Simbol Akulturasi Budaya

Kue Bantal Bertahan di Jakarta Sebagai Simbol Akulturasi Budaya

Pedagang kue tradisional Suyatno tetap konsisten menjajakan kue bantal atau galundeng di Pasar Ikan Jatinegara, Jakarta Timur, sebagai upaya menjaga kuliner warisan di tengah modernitas kota. Dilansir dari Megapolitan, usaha yang ditekuni sejak 1983 tersebut masih diminati masyarakat dengan angka penjualan mencapai ratusan buah setiap harinya pada Rabu (6/5/2026) malam.

Eksistensi kudapan berbahan dasar tepung terigu, gula, dan ragi ini menjadi bukti daya tahan pangan lokal di tengah gempuran camilan kekinian. Setiap hari, rata-rata sebanyak 350 buah kue bantal laku terjual kepada para pembeli yang mengunjungi lapak dagangannya.

"Dagang galundeng dari tahun 1983. Dan selalu laku sekitar 350 buah per harinya," kata Suyatno, Pedagang.

Perbedaan penyebutan nama menjadi keunikan tersendiri bagi penganan ini di berbagai daerah di Indonesia. Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI), Imam Setyobudi, menjelaskan bahwa meski memiliki banyak nama, secara teknis dan bahan dasar, kudapan tersebut tetaplah sama.

"Galundeng dan kue bantal sebenarnya adalah makanan yang sama, yaitu roti goreng manis berbentuk kotak yang empuk, namun memiliki penyebutan berbeda tergantung daerahnya," ujar Imam Setyobudi, Antropolog ISBI.

Imam merinci bahwa kue ini disebut galundeng di Yogyakarta dan Banyumas, kue bantal di Jakarta, serta odading di Jawa Barat. Sementara itu, warga Semarang menyebutnya bolang baling, masyarakat Solo menamainya gembukan, dan di Medan dikenal sebagai kue bohong karena bagian dalamnya yang kosong.

Sejarah kemunculan kue ini berakar dari perpaduan budaya Tionghoa dan Eropa. Penggunaan gandum serta ragi merupakan pengaruh dari budaya Belanda, sementara teknik menggoreng dengan minyak banyak atau deep frying diadopsi dari tradisi kuliner etnis Tionghoa.

"Secara bentuk dan teknik, galundeng memiliki kemiripan dengan oliebollen, donat tradisional Belanda yang digoreng," kata Imam Setyobudi, Antropolog ISBI.

Nama odading sendiri berasal dari anekdot keluarga Belanda yang menyebut roti tersebut dengan kalimat tanya spontan. Selain itu, teknik pengolahan adonan yang diputar-putar menjadi asal-usul penamaan di wilayah Jawa Tengah.

"Di beberapa daerah, nama seperti galundeng atau golang-galing merujuk pada gerakan adonan yang "diguling-gulingkan" atau dibolak-balik saat digoreng agar matang merata," sambung Imam Setyobudi, Antropolog ISBI.

Secara budaya, galundeng dipandang sebagai representasi ekonomi rakyat karena harganya yang terjangkau dibandingkan roti panggang elit di masa kolonial. Dalam tradisi Jawa, makanan ini juga sering hadir sebagai pelengkap dalam acara kenduri atau selamatan.

"Singkatnya, galundeng adalah roti gaya Eropa yang dimasak dengan teknik goreng Tionghoa, lalu diadaptasi rasanya agar sesuai dengan lidah lokal masyarakat Jawa yang gemar rasa manis," tutur Imam Setyobudi, Antropolog ISBI.

Kue bantal dianggap sebagai simbol kesederhanaan karena disajikan tanpa hiasan rumit, melainkan cukup dengan taburan wijen atau gula. Imam menekankan bahwa kudapan ini merepresentasikan keterbukaan masyarakat Indonesia terhadap pengaruh luar.

"Kehadirannya melambangkan prinsip genep (lengkap). Hidangan yang beragam dalam satu nampan melambangkan harapan agar hidup penuh dengan keberkahan dari berbagai sisi," tutur Imam Setyobudi, Antropolog ISBI.

Daya tahan galundeng di pasar modern dipengaruhi oleh harga yang ekonomis serta faktor nostalgia bagi para konsumennya. Tekstur yang padat dan mengenyangkan menjadikannya teman setia saat minum kopi atau teh di pagi dan sore hari.

"Rasa manis yang khas dan tekstur empuknya telah menjadi standar kenyamanan atau comfort food bagi lidah lokal yang sulit digantikan oleh rasa makanan asing," tutur Imam Setyobudi, Antropolog ISBI.

Faktor lain yang mendukung kelangsungan kuliner ini adalah penggunaan bahan sederhana tanpa pengawet yang kini mulai dicari kembali oleh masyarakat. Beberapa pedagang juga mulai memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produknya kepada generasi muda.

"Kesimpulannya, galundeng bertahan karena ia menawarkan kombinasi antara ekonomi, rasa yang autentik, dan ikatan emosional yang tidak dimiliki oleh makanan musiman," kata Imam Setyobudi, Antropolog ISBI.

Artikel terkait

Rekomendasi