Sektor Keuangan Incaran Utama Ransomware Akibat Perputaran Uang Besar

Sektor Keuangan Incaran Utama Ransomware Akibat Perputaran Uang Besar

Sektor keuangan global terus menjadi sasaran utama serangan siber jenis ransomware akibat besarnya nilai transaksi dan perputaran uang yang dikelola. Serangan ini diprediksi akan terus membayangi infrastruktur kritis seiring dengan perkembangan modus operandi peretas yang kini berfokus pada pengambilalihan sistem secara menyeluruh.

Dilansir dari Teknologi, laporan KELA menunjukkan lonjakan insiden ransomware global mencapai 4.701 kasus sepanjang Januari hingga September 2025, meningkat dari 3.219 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total insiden tersebut, sebanyak 50 persen serangan menyasar sektor infrastruktur kritis termasuk industri perbankan dan keuangan.

CTO Prosperita Group, Yudhi Kukuh, menjelaskan bahwa server yang terhubung dengan internet publik memiliki risiko tinggi menjadi target peretasan dalam waktu singkat. Menurutnya, motivasi utama para pelaku adalah keuntungan finansial yang sangat besar dari tindakan mengunci data korban.

"Ransomware itu never die, terutama ada duitnya. Uang besar itu," kata Yudhi Kukuh, CTO Prosperita Group dalam media briefing di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Penargetan ini tidak hanya didasarkan pada jenis industrinya, melainkan fungsi pekerjaan spesifik seperti bagian keuangan atau akuntansi yang menyimpan data sensitif. Meski semua sektor berisiko, industri keuangan tetap berada di baris terdepan sebagai target utama karena volume transaksi yang mereka kelola setiap hari.

Untuk menghadapi kompleksitas ancaman yang semakin modern, pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI dianggap krusial dalam mempercepat proses monitoring dan deteksi celah keamanan secara efisien.

"Kita perlu memonitor dengan bantuan AI, karena tanpa machine learning, serangan dalam sehari akan sulit ditangani karena saking banyaknya," ujar Yudhi Kukuh, CTO Prosperita Group.

Yudhi menambahkan bahwa AI memiliki peran ganda dalam dunia keamanan siber sebagai alat untuk bertahan maupun menyerang. Penggunaan AI untuk sisi pertahanan, seperti melakukan penambalan sistem (patching) secara otomatis, sangat diperlukan untuk merespons ancaman dalam hitungan menit.

Walaupun memberikan perlindungan signifikan, teknologi AI juga menyimpan risiko tersendiri apabila dimanipulasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Input data tertentu dapat digunakan peretas untuk mengecoh sistem sehingga menghasilkan analisis keamanan yang tidak akurat.

Artikel terkait

Rekomendasi