Kebiasaan orang tua membagikan informasi anak di internet memicu tren yang mengkhawatirkan bagi keamanan siber. Seperti diberitakan oleh Medcom, sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa semakin tinggi frekuensi berbagi konten anak, semakin rendah pula motivasi untuk melindungi privasi digital mereka.
Fenomena ini erat kaitannya dengan sharenting, yaitu perilaku orang tua yang aktif menggunakan media sosial untuk mempublikasikan detail kehidupan anak, seperti foto dan video. Kecenderungan tersebut memicu risiko keamanan yang sering kali diabaikan demi kenyamanan instan.
Studi bertajuk Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data mengonfirmasi hal tersebut. Riset ini merupakan kolaborasi antara Kaspersky dengan Singapore Institute of Technology (SIT).
Data penelitian ini melibatkan 152 responden yang tersebar di wilayah Asia Pasifik dan Mesir, termasuk Indonesia. Berdasarkan data tersebut, Associate Professor Jiow Hee Jhee dari SIT mengonfirmasi adanya pola yang konsisten pada perilaku digital orang tua.
“Seiring meningkatnya frekuensi berbagi informasi, motivasi untuk mengadopsi langkah-langkah perlindungan justru menurun,” kata Jiow Hee Jhee.
Padahal, sebanyak 87% orang tua sebenarnya paham bahwa membatasi visibilitas unggahan hanya untuk keluarga terdekat bisa menekan risiko. Namun, mayoritas responden menganggap proteksi tersebut terlalu rumit dan menyita waktu.
Sebanyak 49% responden menilai pengelolaan privasi sangat memakan waktu. Sementara itu, 40% menganggap penghapusan izin berbagi butuh usaha besar, dan 36% lainnya enggan mematikan fitur penandaan geografis atau metadata karena alasan yang sama.
Faktor Kenyamanan Mengalahkan Keamanan
Perwakilan dari Kaspersky, Trishia Octaviano, menjelaskan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh psikologi dasar manusia. Menurutnya, pengguna internet cenderung mengutamakan kenyamanan dan imbalan langsung daripada memikirkan keamanan jangka panjang.
Hal inilah yang memicu pudarnya rasa sabar orang tua terhadap proses keamanan yang dapat menunda kepuasan instan saat mengunggah konten. Meski begitu, rasa percaya diri orang tua dalam menjaga privasi anak tetap dibayangi oleh kecemasan lain.
Sebanyak 72% orang tua merasa tetap rentan terkena retas meskipun mereka telah menyesuaikan pengaturan privasi pada akun mereka.
Menanggapi ancaman peretasan ini, para pakar mendesak orang tua untuk lebih aktif mengamankan ruang digital keluarga. Beberapa langkah mitigasi yang disarankan meliputi peninjauan berkala terhadap daftar kontak serta pengaturan privasi akun media sosial.
Orang tua juga diimbau untuk menghapus akun lama yang sudah terbengkalai, serta menyembunyikan lokasi spesifik anak seperti sekolah atau tempat olahraga. Penggunaan aplikasi proteksi khusus seperti Kaspersky Safe Kids juga menjadi alternatif rekomendasi.
“Pola pikir orang tua dalam berbagi informasi sangat menentukan bagaimana privasi digital anak-anak mereka terlindungi di masa depan,” tutur Jiow Hee Jhee.