Siswi Bina Bangsa School Jakarta Menangi Apple Swift Student Challenge 2026

Siswi Bina Bangsa School Jakarta Menangi Apple Swift Student Challenge 2026

Seorang siswi Bina Bangsa School Jakarta bernama Nicole Lim berhasil memenangi kompetisi teknologi internasional Apple Swift Student Challenge 2026 melalui aplikasi buatannya yang dinamakan HandHearted. Prestasi membanggakan dari pelajar Indonesia ini dilansir dari Detik iNET atas penciptaan platform pembelajaran bahasa isyarat berbasis machine learning.

Aplikasi tersebut dirancang secara interaktif untuk pembelajaran American Sign Language (ASL) yang memungkinkan pengguna melatih gerakan tangan langsung di depan kamera. Ide pembuatan platform ini didasarkan pada pengalaman pribadi Nicole saat berada di suatu lingkungan yang menggunakan bahasa yang sama sekali tidak dipahaminya.

"Saya ingat berada di tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa berbicara menggunakan bahasa saya. Saat itu saya benar-benar bingung dan tidak memahami apa yang mereka katakan," ujar Nicole Lim, Siswi Bina Bangsa School Jakarta.

Kondisi bingung tersebut memicu kepedulian Nicole terhadap tantangan komunikasi nyata yang dihadapi oleh para penyandang tuli atau individu dengan keterbatasan pendengaran dalam kehidupan sehari-hari.

"Itu membuat saya sadar betapa sulitnya bagi orang dengan gangguan pendengaran, terutama karena mereka punya cara komunikasi yang sangat unik dan spesial. Walaupun kita mungkin tidak berbicara bahasa yang sama, semua orang pantas untuk didengar," lanjut Nicole Lim.

Minat Nicole terhadap dunia pemrograman sendiri tidak muncul secara instan karena ia sudah mulai mempelajari coding sejak duduk di kelas 5 SD sebagai sebuah kewajiban akademis semata. Ketertarikannya baru tumbuh setelah ia memahami mekanisme kerja pemrograman dan mulai aktif berpartisipasi dalam berbagai ajang kompetisi teknologi.

"Saat pertama belajar coding saya sebenarnya tidak terlalu suka. Tapi semakin dipelajari, saya mulai menikmatinya. Dari situ saya mulai ikut kompetisi dan perlahan tumbuh passion terhadap sesuatu yang awalnya hanya dianggap hobi," kata Nicole Lim.

Dalam perjalanan belajarnya, Nicole menguasai beberapa bahasa pemrograman seperti HTML dan C++, sebelum akhirnya memilih fokus pada Swift yang merupakan bahasa pemrograman buatan Apple karena dinilai lebih mudah dan menyenangkan. Pada aplikasi HandHearted, ia mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan dan membuat ilustrasi visualnya secara mandiri.

"Pengguna cukup menekan tombol 'Capture & Predict' untuk melihat apakah gerakan tangan mereka sudah sesuai atau belum," jelas Nicole Lim.

Pemanfaatan machine learning untuk mendeteksi gerakan tangan pengguna secara real-time diakui Nicole sebagai fase paling rumit dan penuh tekanan sepanjang partisipasinya dalam kompetisi tersebut.

"Ini pertama kalinya saya bekerja dengan machine learning. Berkali-kali gagal dan hampir menyerah, tapi saya terus mencoba sampai akhirnya aplikasi ini berhasil berjalan menjelang batas pengumpulan," ungkap Nicole Lim.

Guna mengatasi kendala teknis penulisan kode dan integrasi kecerdasan buatan yang rumit tersebut, Nicole mengonfirmasi bahwa dirinya turut menggunakan bantuan AI eksternal.

"AI sangat membantu saya memahami error di kode dan memberi panduan bagaimana memperbaikinya, terutama saat saya kesulitan mengintegrasikan machine learning ke dalam aplikasi," katanya Nicole Lim.

Pencapaian sebagai salah satu pemenang dalam ajang global tahun 2026 ini diakui Nicole sempat membuatnya tidak percaya sebelum memeriksa pengumuman secara berulang kali.

"Awalnya saya benar-benar tidak percaya sampai saya cek ulang berkali-kali. Baru setelah itu saya sadar kalau saya benar-benar menang," ujarnya Nicole Lim.

Bagi Nicole, nilai utama dari keikutsertaannya dalam kompetisi ini terletak pada aspek pengalaman serta relasi pertemanan yang terbentuk, bukan semata-mata mengejar status juara.

"Saya selalu bilang ke diri sendiri bahwa saya hanya bersaing dengan diri saya sendiri. Ini bukan soal selalu menang, tapi tentang pengalaman dan pertemanan yang didapat selama prosesnya," tutur Nicole Lim.

Rencana pengembangan berikutnya untuk aplikasi HandHearted mencakup perluasan cakupan ke bahasa isyarat lain, termasuk pengenalan Bahasa Isyarat Indonesia.

"Ada kemungkinan untuk mendukung bahasa isyarat lain seperti Bahasa Isyarat Indonesia. Saya juga ingin membuat lebih banyak chart alfabet untuk bahasa lain dan semuanya tetap digambar sendiri," kata Nicole Lim.

Melalui pencapaian internasional ini, Nicole menyampaikan pesan motivasi kepada generasi muda di Indonesia agar tidak takut mencoba belajar pemrograman dan berani menyalurkan kreativitas melalui kompetisi.

"Buat sesuatu yang benar-benar bermakna untuk diri sendiri, bukan hanya untuk mengesankan orang lain. Walaupun prosesnya naik turun dan penuh tantangan, jangan pernah menyerah karena kerja keras pada akhirnya akan terbayar," pungkas Nicole Lim.

Artikel terkait

Rekomendasi