Sosiolog Nilai Memelihara Burung Kicau Jadi Mekanisme Bertahan Hidup

Sosiolog Nilai Memelihara Burung Kicau Jadi Mekanisme Bertahan Hidup

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, mengungkapkan bahwa fenomena memelihara burung kicau di permukiman padat merupakan mekanisme bertahan atau coping mechanism terhadap tekanan hidup perkotaan yang berat pada Kamis (7/5/2026).

Hobi ini tidak hanya memberikan ketenangan pikiran bagi pemiliknya, tetapi juga menawarkan kontrol dan relasi sosial yang dinilai lebih aman dibandingkan interaksi antarmanusia yang berisiko konflik tinggi, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Eksistensi komunitas kicau mania semakin kuat karena adanya proses sosialisasi dan reproduksi budaya yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga. Rakhmat menjelaskan bahwa faktor lingkungan sosial, kolektivitas dalam jaringan grup pesan singkat, hingga perlombaan antarwilayah turut memperkokoh hobi ini.

"Hobi ini berfungsi sebagai coping mechanism atau mekanisme bertahan dari tekanan hidup," kata Rakhmat ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (7/5/2026).

Dalam tinjauan budaya lokal, kebiasaan ini kerap diasosiasikan dengan atribut maskulinitas, ketekunan, serta keindahan suara burung yang dipelihara. Pemilik burung sering kali dipandang memiliki kesabaran tinggi karena intensitas perawatan yang dibutuhkan.

"Pemilik burung sering dianggap maskulin dan sabar karena harus merawat burung tersebut dengan telaten," sambung Rakhmat.

Burung tersebut dipandang sebagai subyek emosional yang setara dengan teman bicara atau mitra hidup bagi pemiliknya. Rakhmat menilai bahwa manusia memberikan makna mendalam pada hewan peliharaan tersebut melalui interaksi sosial yang konsisten.

"Bagi orang awam mungkin terdengar aneh membeli burung dengan harga sangat mahal, tetapi bagi pelakunya, ini adalah soal gengsi dan status yang tidak bisa dilakukan semua orang," jelas Rakhmat.

Keputusan mengeluarkan dana besar demi seekor burung dipicu oleh kombinasi investasi sosial untuk pengakuan komunitas serta potensi keuntungan finansial jika burung tersebut memenangkan kompetisi. Identitas sebagai bagian dari kelompok "Kicau Mania" menjadi pendefinisian diri bagi para anggotanya.

"Melalui teori identitas sosial, individu mendefinisikan dirinya melalui kelompoknya, misalnya dengan menyebut diri mereka sebagai bagian dari "Kicau Mania"," jelas Rakhmat.

Arena perlombaan burung kicau berfungsi sebagai tempat kompetisi sosial dan sarana untuk melegitimasi status pemiliknya di mata publik. Hal ini terkadang mendorong pola konsumsi berlebihan yang lebih menonjolkan simbol prestise daripada sekadar kebutuhan hobi.

"Disebabkan karena gengsi dan prestise, solidaritas komunitas, hierarki sosial informal, serta jaringan ekonomi seperti praktik jual beli dan penangkaran atau breeding," kata dia.

Namun, Rakhmat memperingatkan adanya dilema antara rasa kasih sayang dan potensi eksploitasi, termasuk risiko perdagangan ilegal dan penurunan populasi burung di alam liar. Fenomena ini mencerminkan kompleksitas hubungan manusia dengan hewan dalam membangun posisi sosial.

"Kesimpulannya fenomena burung kicau bukan sekadar hobi biasa, melainkan praktik sosial kompleks yang melibatkan budaya, identitas, status, ekonomi, dan emosi," tutur dia.

Dari sisi medis, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Pondok Indah, Hikmat Pramukti, memberikan peringatan mengenai risiko kesehatan pernapasan akibat paparan debu organik dari bulu dan kotoran burung yang mengering. Kondisi ini dapat memicu alergi hingga peradangan paru serius yang dikenal sebagai bird fancier’s lung.

"Debu organik ini dapat terhirup dan memengaruhi saluran pernapasan," kata Hikmat dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Kamis.

Kebersihan kandang yang buruk juga berisiko meningkatkan kadar amonia serta penyebaran penyakit zoonosis seperti Salmonella dan jamur Histoplasma. Pecinta burung disarankan membasahi kotoran sebelum dibersihkan guna mencegah partikel berbahaya menjadi debu yang terhirup.

Artikel terkait

Rekomendasi