San Antonio Spurs mengalahkan Oklahoma City Thunder lewat babak dua kali overtime pada gim pertama Final Wilayah Barat NBA yang berlangsung dramatis pada Senin malam.
Pertandingan pembuka ini mempertemukan dua tim yang sama-sama mengemas 62 kemenangan atau lebih di musim reguler, sebuah catatan sejarah yang pertama kali terjadi sejak era Michael Jordan bersama Chicago Bulls. Hasil laga pembuka ini memperkuat pandangan bahwa duel kedua tim merupakan partai final NBA yang sesungguhnya musim ini.
Pemain San Antonio Spurs, Victor Wembanyama, tampil dominan dengan mencetak 41 poin, 24 rebound, dan tiga block melawan juara bertahan. Pebasket berusia 22 tahun tersebut juga melesakkan tembakan tiga angka krusial di babak overtime untuk menyamakan kedudukan, membuktikan performa yang jauh berbeda dibanding saat kalah dari New York Knicks di final NBA Cup Desember lalu ketika ia masih dibatasi menit bermainnya akibat cedera betis.
Di sisi lain, Oklahoma City Thunder tetap mampu memberikan perlawanan sengit meskipun bintang mereka, Shai Gilgeous-Alexander, tampil kurang optimal. Padahal, pebasket berusia 27 tahun tersebut baru saja dinobatkan sebagai peraih MVP musim reguler berturut-turut serta memenangkan penghargaan Clutch Player of the Year setelah mencatat rata-rata 30 poin per gim dengan efisiensi tembakan 55 persen.
Menurut laporan reporter NBA Tim MacMahon, tensi pertandingan juga dipanaskan oleh motivasi tambahan Wembanyama yang merasa dirinya lebih layak memenangkan Trofi Michael Jordan tersebut ketimbang Gilgeous-Alexander.
"There’s going to be even a little extra motivation for Wemby, because pregame Shai Gilgeous-Alexander’s gonna get the MVP trophy presented to him," ujar Tim MacMahon, Reporter NBA.
Penyerahan trofi di depan mata Wembanyama disinyalir menjadi pemicu persaingan personal yang semakin sengit di atas lapangan.
"That is a trophy Wemby made very clear he believed that trophy should belong to him," kata Tim MacMahon, Reporter NBA.
Menanggapi ambisi besar Wembanyama, Gilgeous-Alexander memilih untuk tidak ambil pusing dan menunjukkan rasa hormatnya terhadap sang rival.
"I asked Shai about [Wembanyama’s comments] last night," kata Tim MacMahon, Reporter NBA.
Menurut penuturan MacMahon, sang juara bertahan lebih fokus pada performa tim secara keseluruhan di atas lapangan dibandingkan debat individu.
"Shai took it in stride. He understands and respects that Wemby feels that way, says he’s one of those extreme competitors in the league. … The vote is over. Shai is not interested in a debate. They’re not playing 1-on-1. He is very respectful of the challenges that Wemby presents," ujar Tim MacMahon, Reporter NBA.
Bagi Gilgeous-Alexander, masuk dalam jajaran 14 pemain sejarah NBA yang bisa memenangkan gelar MVP back-to-back adalah sebuah kehormatan besar yang mengubah cara pandangnya terhadap olahraga ini.
"It’s special," kata Shai Gilgeous-Alexander, Pemain Oklahoma City Thunder.
Ia menambahkan bahwa pencapaian ini didedikasikan untuk lingkungan yang lebih luas daripada sekadar pencapaian pribadinya.
"All those guys have shaped the game of basketball. All those guys have changed the game and how it’s played and how it was approached before that. To be in just that circle, to be in that conversation, it’s something that I don’t take lightly. I’m super grateful for it," kata Shai Gilgeous-Alexander, Pemain Oklahoma City Thunder.
Gelar MVP ini menjadi bahan bakar tambahan bagi Gilgeous-Alexander untuk menghadapi laga-laga berikutnya dalam rangkaian seri Final Wilayah Barat.
"It’s more than me, it’s bigger than me," kata Shai Gilgeous-Alexander, Pemain Oklahoma City Thunder.