Layanan satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) milik Starlink dilaporkan telah menguasai 45 persen pangsa pasar satelit di Indonesia pada Selasa (5/5/2026). Teknologi milik Elon Musk ini berhasil mendisrupsi pasar domestik yang selama puluhan tahun didominasi oleh satelit orbit geostrasioner atau Geostationary Earth Orbit (GEO).
Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (Assi), Risdianto Yuli Hermansyah, menjelaskan bahwa pertumbuhan pesat Starlink dipicu oleh kemampuannya memenuhi ekspektasi pasar, terutama dari sisi harga dan performa. Dilansir dari Teknologi, layanan internet berbasis satelit ini ditawarkan mulai harga Rp700.000-an per bulan.
"Kalau bicara kapasitas bicara kapasitas antara satelit GEO dan LEO (Starlink) sekitar 60:40. Kalau bisa pangsa pasar mungkin sekitar 55:45," kata Risdianto, Ketua Umum Assi.
Perbedaan teknis menjadi kunci keunggulan LEO yang beroperasi pada ketinggian 500 hingga 2.000 kilometer di atas permukaan laut. Posisi ini memungkinkan latensi rendah antara 20 sampai 50 milidetik, sementara satelit GEO yang berada di ketinggian 36.000 kilometer memiliki latensi mencapai 500 hingga 700 milidetik.
Risdianto menambahkan bahwa konsumen saat ini cenderung memilih perangkat yang ringan dan mudah dipasang secara mandiri. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa satelit GEO tetap memegang peran krusial terutama untuk kebutuhan penyiaran di wilayah pelosok.
"Untuk broadcast dan backhaul itu dominan masih menggunakan satelit GEO," kata Risdianto, Ketua Umum Assi.
Sektor satelit GEO diklaim tetap stabil karena adanya potensi pendapatan baru dari ekosistem Internet of Things (IoT) dan intelijen bumi. Pertumbuhan IoT berbasis satelit saat ini tercatat mengalami peningkatan yang sangat signifikan di pasar domestik.
"Kalau bicara satelit memang saat ini masih konektivitas, tetapi memang seperti IoT dan earth intelligence itu pertumbuhannya meningkat," kata Risdianto, Ketua Umum Assi.
Selain persaingan teknologi, industri satelit nasional tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menyentuh angka Rp17.400. Hal ini berdampak langsung pada biaya operasional dan belanja modal pembangunan satelit.
"Fluktuasi terdampak, profitabilitas terkena, dan ekspansi tertunda," kata Risdianto, Ketua Umum Assi.
Menghadapi tantangan tersebut, Assi mendorong adanya pergeseran paradigma industri menuju solusi terintegrasi. Hal ini mencakup layanan gabungan broadband dan narrowband untuk sektor maritim, navigasi, hingga kebutuhan kedaulatan data nasional di tengah tensi geopolitik global.
"Contoh maritim. Ada kombinasi broadband untuk komunikasi dan narrowband untuk IoT (tracking posisi kapal, sensor mesin/bahan bakar untuk efisiensi). Navigasi dan PNT (Positioning, Navigation, and Timing) juga, dan meningkatnya kebutuhan seiring tensi geopolitik. Tiap negara ingin memiliki data sendiri," kata Risdianto, Ketua Umum Assi.