Sektor mode dunia maupun di tanah air sedang melewati periode penuh tantangan sepanjang kurun waktu 2025 hingga 2026. Ketidakpastian dinamika pasar ditambah dengan dominasi tren pakaian cepat saji atau fast fashion memaksa para perancang busana memikirkan strategi keberlanjutan usaha yang matang.
Menghadapi situasi tersebut, desainer Ayu Dyah Andari memilih untuk tetap teguh pada identitas desainnya yang unik. Dilansir dari Wolipop, memegang prinsip orisinalitas menjadi kunci utama bagi Ayu dalam mempertahankan eksistensinya selama 15 tahun berkarya di industri ini.
Meski daya beli pasar menunjukkan tren kelesuan, perancang yang dikenal lewat garis rancang adibusana (couture) ini tetap produktif melahirkan koleksi premium. Ayu meyakini bahwa segmen pasar yang mengapresiasi nilai eksklusivitas tetap tersedia di tengah maraknya peniruan desain massal dengan harga murah.
"Aku percaya bahwa pasti ada pasar yang menyukai originalitas. Jadi di tengah gempuran fast fashion, yang satu desain keluar 100 brand lain dan buat hal yang sama dengan harga 10 kali lebih murah, tetap ada orang yang menghargai kerja keras dan originalitas," ungkap Ayu Dyah Andari saat ditemui di private exhibition, Puspa: Aksara Hati, di Le Nusa, Jakarta Selatan Kamis (7/5/2026).
Ayu berpendapat bahwa loyalitas konsumen tidak selamanya dipicu oleh persaingan harga yang ketat. Menurutnya, intangible value atau nilai tak berwujud yang melekat pada sebuah karya merupakan faktor penentu yang membuat pelanggan tetap setia.
Atas dasar pemikiran tersebut, ia terus menyisipkan sentuhan craftsmanship yang personal pada setiap produknya, termasuk pada koleksi teranyar yang diberi tajuk "Puspa". Koleksi ini menonjolkan perpaduan motif ukiran Jepara dengan detail kemewahan dari batu kecubung.
Meskipun mengutamakan nilai seni yang tinggi, penyesuaian strategis tetap dilakukan pada lini pakaian siap pakai (ready-to-wear) miliknya. Hal ini bertujuan agar harga yang ditawarkan kepada pelanggan tetap berada pada rentang yang rasional.
"Aku percaya value itu dilihat oleh customer dan itu menimbulkan loyalitas mereka. Akhirnya, aku terus membuat koleksi yang original dengan sentuhan craft. Tapi tentu ada batasnya, karena kalau terlalu budget nanti jadi couture. Kita tetap menjaga price range agar tetap masuk kategori ready-to-wear," ujarnya.
Pilihan untuk tidak sekadar mengikuti tren pasar terbukti menjadi pelindung yang efektif bagi keberlangsungan bisnisnya. Ayu mengingatkan para pelaku kreatif agar menghindari persaingan di zona merah atau red ocean yang penuh dengan kompetisi berdarah-darah pada segmen yang sama.
"Alhamdulillah, tahun 2025 termasuk tahun yang berat untuk fashion, tapi Ayu Dyah Andari baik-baik saja dan tidak terlalu terganggu. Kuncinya adalah stay true dengan identitas sendiri, terus berkarya original, dan jangan ikut-ikutan. Jangan masuk ke laut merah untuk berperang berdarah-darah. Saya hanya ingin mengikuti kata hati dengan terus melahirkan koleksi," pungkas Ayu.
Integritas dalam berkarya serta kemampuan menjaga kepercayaan komunitas pencinta mode menjadi pembuktian bagi Ayu Dyah Andari. Keberlanjutan sebuah jenama fashion ternyata sangat bergantung pada konsistensi identitas di tengah perubahan tren yang cepat.